Sebetulnya kemajuan yang berhasil dicapai oleh perguruan tinggi Islam, semisal UIN Malang, belum seberapa, apalagi jika yang dijadikan ukuran kemajuan itu adalah perguruan tinggi tingkat dunia. Akan tetapi oleh karena, perguruan tinggi yang berlabel Islam pada umumnya tidak banyak yang mengalami kemajuan, maka apa yang diraih oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sudah dianggap mengejutkan dan luar biasa.
Perubahan cepat yang diraih oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menarik perhatian banyak orang, tidak saja oleh sesama perguruan tinggi Islam, melainkan juga oleh perguruan tinggi yang berbasis agama selain Islam, seperti Hindu, Kristen, Budha dan lainnya. Banyak pimpinan perguruan tinggi berbasis agama berkunjung ke kampus ini, dengan maksud melakukan studi banding.
Beberapa hal yang ingin dipelajari dari kunjungan tersebut misalnya adalah tentang pengembangan kelembagaan, manajemen dan kepemimpinan, inovasi baru seperti pengembangan ma'had kampus, program peningkatan kualitas kemampuan bahasa asing-----Arab dan Inggris, pembinaan akademik, kemahasiswaan, dan lain-lain.
Terkait dengan upaya memajukan kampus, perbedaan agama ternyata tidak menjadi penghalang untuk saling belajar. Selama ini, hampir semua pimpinan perguruan tinggi berbasis agama, termasuk yang non Islam, seperti Hindu, Budha, dan Kristen, pernah datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk studi banding itu. Selain itu, saya ketika masih menjabat sebagai Rektor, pernah diundang untuk mengisi ceramah atau kuliah umum tidak saja ke perguruan tinggi Islam, tetapi juga ke perguruan tinggi Hindu, Budha, dan juga Kristen di berbagai kota.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk berkomunikasi, saling belajar, dan bekerjasama. Perguruan tinggi agama non Islam juga menghormati atas berbagai kelebihan yang diraih oleh perguruan tinggi Islam, misalnya oleh UIN Malang. Mereka itu juga, -----andaikan bisa, akan meniru atas kelebihan tersebut. Kerjasama antar perguruan tinggi agama yang berbeda itu, sebenarnya bisa disebut telah cukup berani, dari misalnya saja, pelaksanaan sertifikasi dosen perguruan tinggi Hindu dan Budha di seluruh Indonesia diserahkan ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Hal lainnya lagi yang menarik, bahwa selain adanya semangat belajar kepada perguruan tinggi Islam yang telah dianggap maju, mereka juga berusaha menghormati agama lain sebaik-baiknya. Terkait dengan itu misalnya, tatkala saya diundang dan datang ke berbagai kampus perguruan tinggi Kristen, Hindu, dan Budha, dan lain-lain, selalu dijaga agar makanan yang saya konsumsi selama menjadi tamu dijamin kehalalannya.
Sebagai misal, sewaktu datang ke Sekolah Tinggi Agama Kristen di Tanah Toraja, saya diantar oleh Ketuanya sendiri ke rumah makan yang tempatnya cukup jauh. Saya menanyakan, sekedar mau makan saja, mengapa harus mencari rumah makan sejauh ini. Pertanyaan saya itu dijawab bahwa, di kota Tanah Toraja, hanya ada satu rumah makan yang dimiliki oleh seorang muslim. Sengaja saya diajak ke tempat itu, agar saya menjadi yakin bahwa yang saya makan adalah makanan halal.
Demikian pula, ketika saya datang ke Sekolah Tinggi Agama Kriten di Ambon, di Manado, di Jaya Pura, Di Palangkaraya, IHDN di Bali, dan juga di Sekolah Tinggi Agama Budha di Wonogiri. Semua pimpinan perguruan tinggi agama yang berbasis agama non Islam itu sudah mengerti bahwa umat Islam selalu memilih makanan yang halal. Ternyata mereka juga memahami terhadap apa yang disebut sebagai makanan halal.
Selain itu, mereka juga mengembangkan sikap keterbukaan. Dalam sebuah kunjungan ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan melihat kualitas kerja para karyawannya, pimpinan perguruan tinggi Hindu menanyakan tentang pendekatan yang dilakukan agar warga kampus memiliki cara-cara yang sedemikian menyenangkan dalam menerima tamu, sebagaimana yang mereka rasakan sendiri. Pertanyaan sederhana itu saya jawab bahwa, saya tidak pernah memberi penataran atau pelatihan secara khusus. Mereka hanya saya ajak untuk meniru perilaku dalam menerima tamu sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhammad sebagai pembawa ajaran Islam.
Saya menjelaskan kepada tamu yang beragama Hindu tersebut bahwa Muhammad selalu mengkaitkan antara keimanan dan cara menerima tamu. Disebutkan dalam ajaran Islam bahwa, siapa saja yang menginginkan keimanannya disebut berkualitas, maka dalam menerima tamu, -----siapapun tamunya itu, harus diberikan layanan sebaik-baiknya. Namun mungkin saja oleh karena tidak pernah mendengar nama Muhammad, tamu yang beragama hindu dimaksud masih menanyakan tentang siapa Muhammad itu dan sekarang bertempat tinggal di mana.
Mendengar pertanyaan tersebut, saya segera menjelaskan bahwa Muhammad adalah seorang yang diyakini sebagai Nabi oleh umat Islam, dan ia sudah meninggal 14 bad yang lalu. Pertanyaan itu, bagi umat Islam tentu terasa aneh. Akan tetapi itulah kenyataannya. Belajar dari kasus itu, maka umpama semua perguruan tinggi islam selalu identik dengan kemajuan, berkualitas, inovatif, dan lain-lain, maka akan menjadi sarana efektif untuk mengenalkan Islam yang sebenarnya kepada kalangan luas, termasuk kepada pemeluk berbagai agama tersebut. Wallahu a'lam.



