Tiga Bekal Penting Untuk Generasi Mendatang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 4 Desember 2014 . in Dosen . 9307 views

Di waktu-waktu luang, saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang dilihat dari usianya kurang lebih sama, sekitar 60 an tahun. Suatu saat berdikusi tentang pendidikan. Begitu terasa rumitnya mengurus pendidikan di negeri ini. Beberapa tahun lalu, masyarakat diajak berbicara tentang rendahnya anggaran pendidikan. Akhirnya, pemerintah memenuhi aspirasi itu, menetapkan anggaran pendidikan 20 % dari APBN. Tidak lama kemudian, orang berbicara tentang kualitas hasil pendidikan, dan pada saat ini ramai berdebat tentang kurikulum. Persoalan pendidikan rasa-rasanya tidak ada habisnya didiskusikan, didialogkan dan juga perdebatkan.

Dalam sebuah kesempatan berdikusi, saya mengajukan tawaran, ialah bagaimana jika anak-anak masa depan dibekali dengan tiga hal saja, yaitu karakter atau akhlak mulia, kecintaan ilmu, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Saya tidak menyangka sebelumnya, ternyata teman-teman yang saya ajak berdikusi itu, semuanya menyatakan setuju. Mereka menganggap bahwa ketiga kekuatan tersebut dianggap sudah cukup. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa ketiga kekuatan itu, sekarang ini tetah gagal diberikan kepada generasi sekarang ini. Mereka mengatakan bahwa, anak sekarang tampak semakin lemah karakternya, belum terlalu mencintai ilmu, dan ternyata juga gagap di dalam menghadapi bersoalan masa depan, yang tentu semakin berat, komplek, dan banyak jumlahnya.

Selanjutnya saya menjelaskan bahwa terkait dengan karakter atau akhlak, maka harus ada usaha bersama antara orang tua, sekolah dan bahkan dengan masyarakat. Karakter atau akhlak akan lebih tepat dibangun melalui ketauladanan dan pembiasaan. Hal demikian itu, akan lebih tepat dilakukan di rumah tangga oleh kedua orang tuanya. Di rumah, anak-anak dibiasakan dan diberi contoh tentang kegiatan ritual yang seharusnya dilakukan. Selanjutnya, apa yang dilakukan di rumah tangga itu juga diperkuat di sekolah. Di sekolah, dibiasakan mendatangi panggilan adzan untuk shalat berjama'ah, khususnya bagi siswa yang beragama Islam. Sebelum melakukan sesuatu, para siswa diajak berdoa atau membaca basmallah, dan demikian pula pada saat mengakhiri kegiatan, dibiasakan dengan membaca hamdallah.

Demikian pula kegiatan lain, misalnya pada setiap ketemu dengan sesama, dibiasakan mengucap salam. Dalam bergaul dan berkomunikasi, para siswa dibiasakan selalu menghargai orang lain, siapapun orangnya. Sebagai warga masyarakat yang majemuk, maka sehari-hari para siswa diperkenalkan dan juga dibiasakan untuk menghargai atau menghormati perbedaan itu. Hormat kepada guru dan juga kepada para seniornya ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah dan juga di masyarakat, para siswa dibiasakan menjalani hidup bersama-sama secara harmoni . Mereka yang berlebih agar peduli kepada yang lemah, tanpa diskriminasi. Dengan demikian, akhlak atau karakter dibangun lewat kehidupan nyata sehari-hari.

Terkait dengan upaya menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, maka para siswa diajak belajar di kelas bersama guru, di perpustakaan, dan laboratorium. Selain itu, para siswa sudah harus mulai dibiasakan untuk melakukan riset, walaupun pada tingkat sederhana. Menganggap bahwa para siswa masih lemah, belum memiliki kemampuan, dan atau belum waktunya diajak melakukan riset, adalah sikap keliru. Dalam belajar, lewat sebuah proses mencari sendiri akan jauh lebih menantang dan bahkan sekaligus mendorong mereka untuk mencintai ilmu pengetahuan. Kepercayaan dan juga pengakuan yang diberikan oleh para guru atau kepala sekolah akan mendorong atau memotivasi siswa untuk berprestasi.

Pembelajaran dengan cara tersebut kiranya tidak sulit dilakukan. Para siswa sekarang sudah sangat berbeda dengan mereka yang hidup pada sepuluh dan apalagi dua puluh tahun yang lalu. Sumber-sumber informasi, sekarang ini sudah membanjir. Melalui computer, tablet, dan bahkan HP yang dimiliki, para siswa sudah sangat mahir dalam mencari data dan atau informasi. Jika kita mau jujur, terkait penggunakan sumber-sumber informasi, para siswa bisa jadi lebih canggih dibanding para gurunya. Mereka bisa mencari kamus, ensiklopedia, dan bahkan buku-buku terbitan mutakhir. Bagi siswa yang aktif menggunakan internet lewat tablet, computer, dan lain-lain, sekedar mendapatkan informasi dirasakan oleh mereka sangat mudah. Oleh karena itu, ketika pemerintah sibuk menyusun kurikulum dan apalagi menyusun buku pegangan, maka bisa jadi, para siswa sendiri sudah membaca dari bahan atau sumber-sumber yang diperolehnya sendiri. Oleh karena itu, tatkala kita salah dalam memahami kemampuan siswa sekarang ini, maka pendidikan yang kita rancang hanya akan menjadi usang dan mereka tidak tertarik dengan ilmu. Apa yang kita lakukan menjadi sangat kontraproduktif.

Sedangkan terkait dengan masa depan, kita perlu menyadari, bahwa sebagai dampak dari membanjirnya perkebangan ilmu pengetahuan dan informasi, maka dunia di masa depan sudah akan benar-benar berbeda dari sekarang. Perubahan semakin cepat, multi arah, dan mungkin saja akan menjadi sangat sulit untuk diprediksi. Tantangan menjadi sangat variatif, komplek, dan bentuk kongkritnya sekarang belum bisa dibayangkan. Hal demikian itulah yang akan dihadapi oleh generasi mendatang. Sebagai generasi yang mengantarkan mereka, kita tidak boleh pesimis. Oleh karena tantangan itu akan sama sekali berbeda dengan sekarang, maka bekal yang diberikan seharusnya berupa kunci-kunci untuk menghadapi tantangan itu. Misalnya, mereka harus memiliki mental yang kuat, kemampuan berkomunikasi dengan siapapun. Oleh karena itu, bahasa asing menjadi sangat penting. Kemampuan membaca keadaan, situasi atau lingkungan, dan ditambah lagi dengan kekuatan mencipta harus benar-benar ditanamkan.

Jika ketiga bekal penting tersebut bisa diberikan kepada para siswa, maka mereka tidak perlu dikhawatirkan lagi dalam menghadapi tantangan hidup di tengah-tengah perubahan yang semakin cepat, membanjirnya informasi, persoalan yang bersifat semakin komplek, variatif, dan datang secara mendadak dan atau tiba-tiba. Lebih dari itu, jika hal tersebut dipahami bersama, maka sekedar menyusun kurikulum dan bahan pelajaran di sekolah tidak akan sulit. Bahkan, sebenarnya pemerintah tidak perlu terlibat terlalu jauh dengan pekerjaan semacam itu. Tugas itu akan lebih tepat diserahkan saja kepada sekolah masing-masing. Dengan strategi itu, sekolah akan bertanggung jawab, guru akan semakin meningkat kualitasnya, kebhinekaan akan terpelihara, dan yang lebih penting lagi adalah sekolah akan menjadi tertantang hingga pada saatnya akan meraih kualitas unggul. Pemerintah di berbagai tingkatannya sebatas hanya bertugas memfasilitasi dan meminta pertanggung jawaban atas kinerja kepala sekolah dan guru yang bersangkutan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up