Kata mencari dan mencari-cari kesalahan dalam judul tulisan ini seolah-olah sama artinya, padahal jika dicermati secara saksama memiliki perbadaan yang jelas. Mencari kesalahan orang biasanya amat mudah dilakukan. Oleh karena pada setiap orang, pasti memiliki kesalahan. Akan tetapi, mencari-cari kesalahan orang lain akan jauh lebih mudah lagi. Orang yang sebenarnya tidak terlalu salah, akan bisa disalahkan, jika niatnya adalah memang mencari-cari kesalahan itu.
Semua orang tidak suka kesalahannya diketahui oleh orang lain. Kesalahan, betapapun kecilnya, manakala diketahui orang lain, dianggap mengganggu pribadi yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam berkomunikasi, agar menjadi lancar, maka sebaiknya tidak mengungkit-ungkit kesalahan di antara sesama. Siapapun akan kesal dan bahkan menjadi marah jika kesalahannya itu diketahui orang.
Namun juga sebaliknya, banyak orang menikmati dan merasa gembira tatkala mendengar kesalahan orang lain terbongkar. Apalagi, kesalahan yang dimaksudkan itu adalah yang dilakukan oleh orang yang tidak disukai, kompetitor atau musuhnya. Terasa aneh, ada orang menjadi senang tatkala orang lain menderita, termasuk menderita yang disebabkan oleh kesalahannya terungkap dan diketahui oleh orang banyak.
Untuk kepentingan keadilan, kiranya bolehlah kesalahan yang dilakukan oleh seseorang diselidiki atau bongkar oleh mereka yang memiliki kewenangan. Kapan saja dan di mana saja, keadilan harus ditegakkan. Siapapun yang salah harus dimintai pertanggung jawabannya. Untuk memenuhi rasa keadilan, maka kesalahan harus diketahui dan dicarikan penyelesaian agar keadilan yang dimaksudkan itu bisa dirasakan oleh semua.
Akan tetapi, yang pasti tidak dibolehkan adalah mencari-cari kesalahan. Orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan, bisa saja direkayasa agar tampak salah. Pekerjaan seperti itu, ----bagi siapapun, tidak sulit, apalagi bagi orang yang memiliki pengalaman tentang itu. Namun hal yang perlu disadari bahwa, orang yang benar-benar salah saja tidak mau kesalahannya diketahui orang lain, apalagi orang yang tidak salah kemudian dicari-cari kesalahannya, maka akan merasa sangat menderita.
Mencari-cari kesalahan, apalagi pada zaman sekarang ini, adalah sangat mudah dilakukan. Informasi dan bahkan foto atau gambar sekalipun bisa direkayasa. Seolah-olah seseorang melakukan sesuatu yang salah, memalukan atau aib, padahal sebenarnya hanya merupakan hasil rekayasa belaka. Hasil rekayasa, baik berupa informasi dan bahkan foto disebar-luaskan agar yang bersangkutan terkesan adalah pribadi yang buruk dan patut dihukum, dan semacamnya. Pintarnya orang melakukan rekayasa, hingga menjadikan orang yang sebenarnya tidak melakukan apa-apa, menjadi seolah-olah melakukannya.
Islam mengajarkan agar setiap orang selalu menjaga keselamatan, kehormatan, dan kewibawaan orang lain, sesama saudara, keluarga, sahabat, dan tidak terkecuali adalah aibnya. Anjuran itu dimaksudkan agar antar sesama terjadi saling menjalin hubungan baik dan tidak memutus tali sillaturrahmi. Islam mengajarkan kedamaian, saling menghargai, memahami, bekerjasama dalam kebaikan, dan menumbuhkan saling kasih sayang antar sesama.
Andaikan atas kesalahan, seseorang harus dihukum, maka sebenarnya hukuman itu adalah sebagai upaya memelihara tegaknya keadilan dan kedamaian. Bukan sebaliknya, yaitu justru menjadikan kehidupan bercerai berai, tali sillaturakhiem terputus, dan menyuburkan rasa dendam. Sakit hati, dendam, dan sejenisnya itu seharusnya dihilangkan dalam kehidupan ini, dan bukan justru ditumbuh-kembangkan. Mencari-cari kesalahan orang lain, oleh siapapun, pasti berhasil. Akan tetapi sebenarnya, pekerjaan itu hanya akan melahirkan permusuhan baru dan menjauhkan dari kehidupan yang diinginkan, ialah kehidupan yang damai antar sesama. Wallahu a'lam.



