Untuk mencari sesuatu di dapur, saya melihat semut-semut mati di gula yang lagi meleleh. Gula dimaksud tercecer di meja, tempat membuat kopi sehari-hari. Pembantu mungkin saja ketika itu kurang teliti, kelupaan tidak membersihkan gula yang tersisa itu. Namun bisa dimengerti, gula yang tercecer juga tidak banyak, sehingga luput dari perhatian.
Gula di manapun, dan berapapun jumlahnya selalu mengeluarkan aroma manis. Di mana saja ada gula, semut pasti datang. Binatang yang dalam kisahnya bisa bercakap atau berdialog dengan Nabi Sulaiman itu juga tdak memiliki banyak perhitungan bahwa di tempat itu sebenarnya berbahaya bagi dirinya.
Melihat semut-semut yang mati di tengah gula yang sedang meleleh itu, batin saya mengatakan, semut itu tidak waspada. Mereka hanya memikirkan makanan dan tidak memikirkan bahaya di balik makanan itu. Tapi sebentar kemudian, saya menemukan jawaban, bahwa memang semut itu tidak berakal. Binatang itu tidak tahu bahwa pada gula itu berbahaya, bisa membinasakan dirinya.
Tapi jika direnungkan mendalam, sebenarnya kebodohan semut itu juga dialami oleh manusia. Sekalipun manusia itu disebut cerdas, mampu berpikir kritis, dan pintar menganalisis sesuatu secara tajam, namun ternyata juga bisa mengalami hal yang sama dengan semut. Manusia oleh karena tidak hati-hati juga bisa mati, atau setidak-tidaknya celaka, tatkala sedang bekerja mencari rizki atau penghidupan.
Sekedar mengingatkan, dalam tulisan ini, akan disebut beberapa contoh. Pada akhir-akhir ini ada enam orang menjalani hukuman mati, karena terbukti melakukan kesalahan fatal yakni menjadi bandar obat terlarang. Niat mereka adalah mencari rizki, namun ternyata mereka tertangkap oleh pihak berwajib, lalu diadili, dan bahkan dihukum mati. Tentu, mereka tahu, bahwa melakukan perdagangan obat terlarang resikonya besar. Tidak mungkin mereka tidak tahu. Bandar narkotika itu ternyata sama dengan semut, hanya untuk rizki atau makanan, mereka mau dihukum mati.
Kecerobohan ternyata juga dilakukan oleh para politikus sekalipun. Walaupun sehari-hari mereka membuat berbagai taktik, stratetgi, dan menghitung resiko, ternyata tatkala terkait uang atau rizki juga mudah lupa hingga mudah melakukan kesalahan. Uang negara diselewengkan untuk memperkaya diri sendiri. Padahal hukum harus berlaku bagi siapapun. Siapapun yang salah harus diadili, dan kemudian dipenjara. Kasus seperti itu jumlahnya cukup banyak, tidak terkecuali dilakukan oleh aktifis politik. Maka, para politikus pun juga bisa mirip semut. Mau mati demi rizki atau harta.
Kasus lainnya, kiranya belum hilang dalam ingatan kita. Dulu terdapat seorang ketua KPK dituduh ikut melakukan tindak kriminal. Hingga sekarang yang bersangkutan masih dipenjara. Terasa aneh, seorang yang sehari-hari bertugas mengawasi dan menghukum siapa saja yang melakukan kejahatan, ------khusunya korupsi, ternyata ia sendiri terkena perkara kriminal. Lagi-lagi, apa yang ia lakukan mirip dengan semut. Secara tidak sengaja, untuk memperoleh sesuatu, dirinya sendiri dikorbankan, mendekam di penjara.
Kasus yang sekarang masih sedang ramai dibicarakan lewat berbagai media, tidak jauh dari persoalan rizki, harta, atau jabatan. Tidak tangung-tanggung, dalam kasus dimaksud melibatkan pimpinan institusi besar, terpandang, dan terhormat, yaitu kepolisian, KPK, dan pejabat partai politik. Mudah-mudahan, kasus itu bisa segera diselesaikan. Tidak perlu meniru semut, hanya menyangkut persoalan sederhana saja, yaitu rizki dan atau jabatan saja, harus mengorbankan segalanya. Tidak boleh begitu. Wallahu a'lam.



