Dulu banyak buku tentang cara belajar di peguruan tinggi yang ditulis oleh para ahli. Sekarang buku dimaksud kiranya masih ada, sekalipun dicetak sudah cukup lama. Saya sewaktu masih kuliah, juga pernah membaca beberapa buku dimaksud. Hanya pada akhir-akhir ini,------ entah oleh karena saya tidak menemukan saja, buku semacam itu sudah tidak ada lagi yang menulis. Mungkin saja orang tidak tertarik lagi memperhatikan tentang itu. Sebab, perguruan tinggi sudah sedemikian banyak dan begitu pula mahasiswa, sehingga tanpa membaca buku, siapapun bisa belajar dari para mahasiwa senior yang jumlahnya banyak itu.
Sekalipun perguruan tinggi sudah begitu populer, ternyata masih ada orang yang bertanya kepada saya tentang seperti apa seharusnya belajar di perguruan tinggi itu. Pertanyaan itu diajukan, mungkin saja oleh karena, ia tidak merasa puas terhadap apa yang dialami di perguruan tinggi selama itu. Mahasiswa dimaksud mungkin memiliki idealisme yang tinggi. Bahwa belajar di perguruan tinggi tidak saja dimaksudkan hanya untuk mengsi waktu luang, mengikuti kuliah, mengikuti ujian secara formal, dan juga mendapatkan ijazah yang bersifat formalitas pula. Perguruan tingggi yang diinginkan adalah tidak seperti itu, melainkan yang benar-benar bisa mengantarkan dirinya menjadi kaya ilmu, lebih dewasa, professional, dan seterusnya. Mahasiswa yang mendatangi saya tersebut tidak berpikir semata-mata ingin mendapatkan gelar dan ijazah. Maka itulah sebabnya, ia saya sebut, masih memiliki idealisme yang tinggi.
Mahasiswa yang datang dengan pertanyaan yang sederhana tersebut, justru saya ajak berdikusi bersama. Saya ingin mengajak dia, mencari jawabnya bersama-sama. Agar mendapatkan jawaban yang, paling tidak, mendekati tepat, Ia tidak saja ajak membayangkan tentang perkuliahan yang bersifat konvensional, kegiatan menyusun makalah, berdiskusi kelompok dan sejenisnya. Akan tetapi, ia saya ajak berpikir untuk mengkaitkan belajar di perguruan tinggi dengan kemajuan teknologi informasi seperti yang terjadi sekarang ini. Saya mengatakan kepadanya bahwa, sekarang ini sudah terjadi semacam banjir informasi. Setiap orang dan apalagi mereka yang berstatus sebagai mahasiswa sudah mampu membuka media social seperti internet, scribb, facebook, e-book, dan lain-lain. Dari berbagai sumber informasi itu, siapa pun, -----asalkan tidak buta huruf, bisa mengakses informasi secara tidak terbatas jumlahnya.
Selanjutnya, mahasiswa dimaksud saya ajak untuk membayangkan, bahwa sekarang ini betapa mudahnya mendapatkan informasi. Hanya dengan computer yang harganya terjangkau, laptop, tablet, HP, dan berbagai jenis lainnya, semua orang bisa mengakses informasi. Sebagai contoh yang amat mudah dibayangkan, dulu orang ketika mau membaca al Qur'an harus mencarinya di masjid, mushalla, atau di rumah seseorang yang memilikinya. Sekarang ini keadaannya sudah berubah, siapapun tidak perlu repot-repot, sekedar mendapatkan kitab suci dan atau berbagai kitab lainnya bisa mengakses melalui HP. Bahkan, seseorang yang sedang bepergian, asalkan tidak sedang menjadi sopir, tatkala sedang di atas kendaraan, dengan HP nya saja bisa membaca al Qur'an, dan bahkan juga buku-buku atau kitab apa saja lainnya.
Demikian pula, jika seseorang kesulitan mencari kata asing yang belum dikenalnya, kalau dulu harus mencari kamus, maka sekarang ini tidak perlu repot. Lagi-lagi, HP yang dibawanya bisa menolong untuk mencarikan kata yang belum dikenali artinya itu. Gambaran lain, dulu orang begitu bangga memiliki banyak buku yang tersimpan di rumahnya. Sekarang ini, berbagai macam buku, berapapun jumlahnya telah disimpan di flasdish, CD, atau juga bisa membuka langsung melalui google atau internet. Pendek kata, apa saja yang berkaitan dengan informasi, ilmu pengetahuan, dan sejenisnya, sekarang ini bisa dicari dengan mudah lewat produk teknologi informasi. Maka, dalam suasana seperti ini, belajar di perguruan tinggi yang diangap ideal, seharusnya tidak sama dengan dahulu, yakni ketika belum terjadi revolusi informasi seperti sekarang ini.
Kehadiran teknologi informasi yang semakin merata ke mana-mana, akan menyebabkan semakin mudahnya bagi setiap orang memperoleh ilmu pengetahuan. Maka siapapun akan berpikir, jika perguruan tinggi hanya sekedar memposisikan diri sebagai penyedia informasi, maka informasi itu sebenarnya sudah tersedia secara terbuka dan luas berada di mana-mana. Di tempat-tempat lain, dan bahkan di rumah tangga pun bisa diperoleh informasi secara tidak terbatas. Dosen yang tugasnya hanya memberi informasi, maka tugas itu sudah tergantikan oleh piranti modern itu. Rumah-rumah, kantor, rumah makan, tempat peristirahatan, dan bahkan di tempat para petugas security berjaga, atau juga di gerdu siskampling, ketika tempat itu dilengkapi dengan fasilitas internet, sebenarnya sudah bisa dijadikan oleh siapapun sebagai tempat mencari informasi. Tempat itu akan menyerupai perguruan tinggi, jika perguruan tinggi, sekedar memerankan diri sebagai penyedia informasi.
Dalam suasana sebagaana digambarkan tersebut, maka wajar ada orang bertanya tentang bagaimana belajar di perguruan tinggi. Jika belajar di perguruan tinggi disamakan dengan dulu, yaitu ketika belum terjadi revolusi informasi seperti sekarang ini, maka sudah amat ketinggalan, sudah kadaluwarsa, dan sudah tidak zamannya lagi. Kehadiran sumber-sumber informasi yang sedemikian mudah dan murah diperoleh seperti sekarang ini, seharusnya mengubah cara belajar, cara kuliah, cara memperkaya ilmu pengetahuan, cara mencerdaskan diri, dan seterusnya. Maka, pantaslah seorang mahasiswa datang menemui saya, sekalipun hanya untuk menanyakan tentang belajar di perguruan tinggi itu. Perguruan tinggi seharusnya telah mengubah secara mendasar dan menyeluruh tentang pendekatan yang dilakukan untuk mengantarkan para mahasiswanya menjadi orang yang mencintai ilmu pengetahuan, menjadi seorang ahli, pakar, atau professional.
Pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa sebagaimana yang saya sampaikan di awal tulisan ini, hingga yang bersangkutan pamit pulang, belum saya jawab. Saya hanya memberikan gambaran bahwa dunia ini sudah berubah sedemikian rupa dibanding belasan tahun yang lalu. Orang sekarang ini sudah tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan informasi, keterangan, atau apa saja yang terkait dengan pengetahuan, bahkan hingga untuk mendapatkan keterangan tentang jenis obat yang akan dibeli di apotik sekalipun. Orang dalam batas-batas tertentu sudah bisa mandiri dalam memperkaya ilmu pengetahuan, dan bahkan juga mengembangkan kecerdasannya. Maka agar keberadaan perguruan tinggi masih tetap relevan dengan tuntutan zamannya, yakni mampu memberikan layanan kepada mahasiswanya untuk menjadi semakin cerdas, semakin trampil, dan semakin luas pengetahuannya, maka harus dibuat format baru yang lebih tepat. Jika institusi itu tetap bertahan dengan tradisinya semula, maka tidak terlalu lama lagi, akan ditinggalkan oleh para pengagumnya. Wallahu a'lam. (bersambung pada tulisan berikutnya)



