Di Antara Kunci Sukses Nabi Membangun Masyarakat Madinah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 3 Januari 2015 . in Dosen . 69444 views

Perjuangan nabi Muhammadi di dalam membangun peradaban masyarakat Madinah diakui berhasil secara geilang oleh sejarah kemanusiaan. Yatsrib yang semula dikenal sebagai wilayah yang dihuni oleh masyarakat jahiliyah dengan ciri-ciri banyak konflik, harkat dan martabat perempuan dianggap rendah, perbudakan, penindasan, keadilan dan kejujuran diabaikan, tidak menghargai ilmu pengetahuan, hanya kelompok tertentu yang diistimewakan, dan seterusnya diubah menjadi masyaraat yang berakhlak mulia atau berperadaban tinggi.

Di tengah-tengah masyarakat dunia, dan tidak terkecuali bangsa Indonesia yang juga sedang membangun peradaban seperti sekarang ini, maka menongok sejarah keberhasilan utusan Allah di dalam membangun masyarakat dan ternyata keberhasilannya diakui semua kalangan adalah merupakan keharusan. Pengalaman dan contoh adalah guru terbaik. Masyarakat Madinah dibangun oleh Nabi Muhammad saw., hanya memerlukan waktu 10 tahun setelah utusan Allah itu berjuang di Makkah selama 13 tahun.

Manakala diteliti, dari sekian banyak kunci sukses, ada dua hal yang menonjol dan sama sekali tidak boleh diabaikan. Kedua hal itu, pertama adalah bahwa nabi Muhammad saw., di dalam membangun masyarakat selalu berpegang pada wahyu yang datang dari Allah swt. Sedangkan kunci keberhasilan kedua, nabi di dalam membangun masyarakat selalu mengutamakan pada perbaikan akhlak mulia kepada semua orang. Dan masih terkait dengan itu hal yang perlu dicatat ialah bahwa, di dalam membangun akhlak, nabi selalu memulai dari dirinya sendiri.

Kedua hal tersebut adalah menjadi kunci keberhasilan di dalam membangun masyarakat Madinah. Keberhailan itu, sekalipun sudah melewati waktu belasan abad lamanya, ternyata hingga saat ini getaran-getarannya masih dengan mudah terasakan. Siapapun yang datang ke kota itu, pada umumnya jama'ah haji, dan kembali pulang ke negerinya, biasanya mendapatkan kesan tentang keramahan, kejujuran, dan kesantunan penduduk yang semula daerahnya dikenal dengan sebutan Yatsrip itu.

Kedua kunci keberhasilan tersebut, dalam batas-batas tertentu, hingga sekarang inipun sebenarnya sangat mungkin diimplementasikan oleh siapapun, di dalam membangun masyaraat yang dipimpinnya. Hanya persoalannya adalah, mau atau tidak di dalam menjalankan kepemimpinan dengan mendasarkan pada kedua kunci keberhasilan tersebut. Manakala Rasulullah selalu berpegang pada wahyu, maka sebenarnya siapapun yang mendapatkan amanah memimpin masyarakat, juga berkemungkinan berpegang pada wahyu. Hanya bedanya, nabi mendapatkan wahyu langsung dari Tuhan, sementara itu para pemimpin setelah zaman Rasulullah, cukup membaca wahyu yang telah terhimpun dalam bentuk kitab suci, ialah al Qur'an.

Tatkala mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw., sukses di dalam membangun masyarakat madinah atas dasar al Qur'an, maka para pemimpin yang menghendaki keberhasilan, seharusnya mempedomani kitab suci itu. Apalagi utusan Allah yang terakhir ini secara jelas juga berpesan dengan kalimat kurang lebih sebagai berikut :' telah aku tinggalkan dua hal yang manakala ekau perpegang erat-erat maka engkau tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua hal itu adalah al Qur'an dan sunnahku'. Sayangnya, kedua hal itu tidak saja kurang mendapatkan perhatian dari para pemimpinnya, tetapi juga tidak terkecuali, umatnya sendiri belum maksimal di dalam memberikan perhatian terhadap kitab sucinya.

Di Indonesia sendiri, al Qur'an hanya diajarkan di sekolah-sekolah, termasuk hingga di perguruan tinggi Islam, secara terbatas. Bahkan tidak sedikit umat Islam, sebatas membacanya saja, belum menjadi kebiasaan. Padahal umpama saja kitab suci diajadikan bahan pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, maka generasi ke depan akan memahami tentang tuhannya, ciptaannya, tentang manusia secara menyeluruh, tentang alam, dan juga tentang bagaimana meraih keselmatan dan kebahagiaan baik di dunia hingga akherat kelak. Pengetahuan seperti itu sebenarnya hanya akan bisa diperoleh melalui kitab suci. Sumber selainnya tidak akan mungkin memberikan informasi tentang hal-hal yang dimaksudkan itu secara benar dan apalagi sempurna.

Kunci keberhasilan yang kedua adalah memang tidak mudah dilakukan oleh siapapun, termasuk para pemimpinnya. Pada umumnya pemimpin, dan juga hal itu menjadi karakter manusia, adalah tidak mudah memberi contoh atau ketauladanan. Pada umumnya, orang lebih pintar memberitahu, menjelaskan, dan menyuruh orang lain melakukan sesuatu, sementara dirinya sendiri belum tentu menjalankannya. Padahal tugas pemimpin, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., adalah dirinya sendiri menjalankan terlebih dahulu, dan kemudian orang lain diajak serta. Kebanyakan manusia justru sebaliknya, yaitu menyuruh orang lain melakukan sesuatu, sementara dirinya sendiri hanya mengambil peran sebagai orang yang memerintah atau menyuruh.

Nabi Muhammad saw., misalnya,. mengajak berperilaku adil dan jujur dengan cara memberikan contoh atau ketauladanan. Terkait dengan keadilan Nabi pernah mengatakan bahwa : ' seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, maka saya sendiri (Muhammad saw.,) yang akan memotong tangannya. Demikian pula terkait dengan kejujuran, sejak sebelum diangkat sebagai rasul, Muhammad dikenal sebagai sosok manusia yang tidak pernah berbohong. Apa saja yang dikatakan oleh Muhammad saw., selalu benar atau sama sekali tidak pernah bohong. Hal demikian itu juga diakui oleh orang-orang di Makkah yang memusuhi Muhammad saw., sebelum beliau berhijrah ke Madinah. Atas kejujurannya itu, Muhammad saw., sejak sebelum diangkat sebagai rasul telah memperoleh gelar al amien, yang artinya adalah orang yang terpercaya.

Manakala kedua kunci keberhasilan di dalam membangun masyarakat tersebut juga ditiru atau ditauladani oleh para pemimpin di dunia ini, maka upaya membangun masyarakat menjadi lebih beradab atau berakhlak mulia, akan memperoleh keberhasilan pula. Sayangnya, di mana-mana, tidak terkecuali di kalangan kaum muslimin sendiri, ternyata belum banyak yang melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Sekalipun banyak orang mengakui dan bahkan mengagumi keberhasilan Muhammad saw., di dalam membangun masyaraat Madinah, tatkala harus meniru jejaknya, ternyata tidak selalu sanggup dan tidak memiliki kemampuan. Oleh karena itu, di saat sedang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw., dua hal dimaksud perlu menjadi bahan renungan secara saksama, dan bahkan akan menjadi sesuatu yang dahsyat apabila ada tekat, kesunggguhan, dan ketulusan untuk memulai melaksanakannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up