Persoalan pendidikan di negeri ini sebenarnya sudah diketahui dan diperbincangkan pada setiap saat, melalui diskusi, seminar, dan bahkan juga sudah dievalusi secara terus menerus, dengan melibatkan para pakar dan ahlinya. Kebijakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan juga sudah dilakukan, mulai dari perbaikan kualitas guru, peningkatan kesejahteraannya, pelaksanaan ujian nasional, kurikulum dan lain-lain. Akan tetapi nyatanya, kualitas hasil pendidikan, dirasakan masih belum memuaskan.,
Pada setiap tahun dikeluhkan tentang lulusan lembaga pendidikan masih belum mampu memasuki lapangan kerja, belum berkarakter, kurang dewasa dan seterusnya. Hal itu tidak saja dialamatkan pada lulusan sekolah menengah, tetapi juga lulusan perguruan tinggi. Maka dengan semakin membanjirnya pengangguran terdidik itu, atau bahkan semakin banyaknya sarjana menganggur,, maka kualitas pendidikan semakin dipertanyakan. Persoalan kualitas pendidikan bukan saja menyangkut rendahnya karakter lulusannya, tetapi juga kedalaman ilmu dan ketrampilannya, Produk pendidikan kita, tatkala dihadapkan pada tantangan kehidupan yang sebenarnya, ternyata masih dianggap kurang memadai
Hal yang sangat memprihatinkan, lulusan sekolah menengah misalnya, sekalipun sudah diajar berbagai jenis ilmu pengetahuan, ternyata ketika masuk lapangan kerja, hanya mampu menempati posisi-posisi rendahan, misalnya menjadi cleaning service, petugas security, driver, dan sejenisnya. Kenyataan seperti itu menjadikan seolah-olah ilmu pengetahuan yang dipelajari bertahun-tahun di sekolah tidak ada relevansinya dengan apa yang dikerjakan setelah mereka itu lulus. Sekedar menjadi driver, security, dan cleaning servies tentunya tidak memerlukan ijazah setingkat sekolah menengah atas.
Rendahnya kualitas hasil pendidikan juga dialami oleh lulusan perguruan tinggi. Sebagai gambaran, oleh karena kualitas yang rendah itu, kadangkala tidak tampak bedanya antara seorang yang menyandang ijazah asli dan yang palsu. Pdahal mestinya tidak begitu. Penyandang ijazah seharusnya memiliki kelebihan dibanding orang yang tidak berijazah. Banyaknya ijazah palsu sebenarnya menunjukkan bahwa kualitas pendidikan sudah berada pada tingkat yang memprihatinkan. Manakala kualitas pendidikan tinggi itu masih terjaga, maka orang tidak akan berani memalsukan ijazah. Adanya pemalsuan ijazah adalah oleh karena banyak orang mengerti bahwa antara mereka yang menempuh pendidikan tinggi sebenarnya dan yang tidak, dianggap oleh masyarakat sudah tidak ada bedanya.
Anehnya mengetahui problem yang sedemikian mendasar itu, ternyata perbincangan tentang pendidikan masih saja menyangkut hal-hal yang tidak mendasar. Demikian pula, anggaran pendidikan masih digunakan untuk hal-hal yang kurang strategis. Anggaran itu misalnya hanya digunakan untuk membiayai hal yang bersifat formalitas, misalnya untuk ujian nasional, sertifikasi guru, penyetaraan ijazah, dan sejenisnya. Tantangan pendidikan di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informas seperti sekarang ini adalah semakin keras, cepat, komplek dan tidak terprediksi. Oleh karena itu tatkala menangani pendidikan, pemerintah masih berbicara kurikulum, ujian masuk, buku teks, dan sejenisnya, maka ketertinggalan itu akan semakin jauh. Pada saat ini kita seharusnya, sudah membicarakan aspek-aspek yang bersifat kualitatif yang sekiranya bisa menjawab tantangan kehidupan sebagaimana digambarkan di muka, yaitu perubahan yang semakin cepat, tidak bisa diprediksi, serba mendadak, dan semua lapangan kehidupan menuntut jawaban yang mendasatrkan pada ilmu dan teknologi.
Manakala pemecahkan persoalan pendidikan masih menggunakan pendekatan konvensional atau tidak berubah sebagaimana sebelumnya, maka generasi ke depan hanya akan menjadi penonton, orang antik, tidak relevan, dan sangat ketinggalan zaman. Bangsa ini hanya akan menjadi buruh kasar, atau bahkan menjadi semacam budak atau pekerjka kasar di negerinya sendiri. Boleh kita tidak percaya akan hal itu, tetapi gejala yang demikian itu sebenarnya sudah tampak dan sedemikian mudah dirasakan. Fenomena membanjirnya tenaga kerja keluar negeri sekalipun dengan upah rendahan, misalnya menjadi sopir, pembantu rumah tangga, dan sejenisnya iadalah petanda yang sangat jelas, bahwa bangsa ini sudah semakin tertinggal dan tidak memiliki martabat lagi di mata bangsa-bangsa lain yang sudah terlebih dahulu maju.
Atas dasar kenyataan itu, maka bangsa ini seharusnya segera melakukan revolusi pendidikan secara mendasar. Energi untuk membuat kurikulum yang seragam, ujian nasional, buku pegangan, dan seterusnya, harus segera dialihkan pada kegiatan yang lebih strategis dan memang benar-benar dibutuhkan Ujian nasional sejak dulu sudah jelas tidak membawa arti apa-apa, bahkan beresiko yaitu masyarakat akan semakin keliru dalam memaknai pendidikan itu sendiri. Pendidikan dianggapnya hanya sebatas pemenuhan kewajiban, atau mendapatkan sertifikat atau ijazah. Hasil dari pendidikan dibayangkan hanya sebatas angka-angka atau diskripsi tentang apa yang dilakukan oleh putra-putrinya di sekolah. Padahal angka dan diskrispsi dimaksud hanya penggambaran yang bersifat subyektif.
Bangsa Indonesia dilihat dari berbagai aspek adalah majemuk. Sebagian ada yang bertempat tinggal di perkotaan, pesisir, pegunungan, pedesaan, perbatasan, dan sebagainya. Erat kaitannya dengan itu, maka tantangan hidup yang dihadapi tentu juga berbeda-beda. Manakala kenyataan seperti itu tidak mendapatkan perhatian, oleh karena semangat pemerintah yang menghendaki penyeragaman, maka hasil pendidikan tidak akan relevan dengan tantangan hidup yang akan dihadapi oleh generasi yang memiliki karasteristik yang berbeda-beda itu. Pemerintah selalu meyakinkan bahwa bangsa ini majemuk, akan tetapi dalam mengambil kebijakan, tidak terkecuali kebijakan pendidikan, selalu berorientasi pada penyeragaman. Bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan juga seragam pula. Akibatnya, selain hasilnya berkualitas rendah juga belum tentu relevan dengan kebutuhan nyata dalam kehidupan yang dijalani.
Untuk menjawab persoalan bangsa ke depan terkait dengan pendidikan, maka harus ada keberanian mengambil langkah-langkah strategis yang bersifat revolusioner, mendasar, dan menyeluruh. Pendidikan yang digambarkan itu adalah yang mampu melahirkan pendekar-pendekar pada zamannya. Sebaliknya, bukan sekedar menjadi buruh masa depan. Terkait dengan itu maka harus dirancang jenis pelajaran dan atau berbagai kegiatan pendidikan yang benar-benar relevan dengan tantangan generasi ke depan. Para siswa seharusnya tidak hanya dituntut mampu menjawab pertanyaan antara salah dan benar atau memilih jawaban yang tepat, tetapi lebih dari itu adalah mengantarkan generasi yang kaya ide, pandai berkhayal atau berimajinasi, pintar membaca keadaan dan juga lihai dalam mencipta apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Kemampuan seperti itu, rasanya belum terjawab lewat pendidikan sebagaimana yang dijalankan selama ini. Wallahu a'lam.



