Memperingati Lima Tahun Wafatnya Gus Dur
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 6 Januari 2015 . in Dosen . 1475 views

Sudah genap lima tahun Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) wafat. Tadi malam diselengarakan haul di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Kebetulan saya diundang dan hadir. Ribuan orang hadir pada acara itu, di antaranya Menteri Agama, Menko Kelautan, Menteri Sosial, KH Hasyim Muzadi, Gubernur Jawa Timur dan para undangan lainnya.

Dalam acara haul itu, selain membaca surat yasin dan tahlil, juga diisi dengan ceramah yang disampaikan oleh Zawawi Imran, seorang budayawan nasional kelahiran Sumenep, Madura. Dalam ceramahnya itu Zawawi Imran berbicara , di antaranya tentang kecintaan Gus Dur terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Ia juga mengungkap tentang bagaimana Gus Dur memahami negara dan bangsanya sendiri, tidak sekedar melalui pikiran cerdasnya, melainkan juga menggunakan kejernihan dan kelembutan hatinya.

Selain itu, dalam ceramahnya, Zawawi Imran membuat stateman yang amat menarik. Bahwa orang yang memiliki hati jernih dan lembut, maka yang bersangkutan tidak akan mungkin berpikiran jahat, misalnya dendam, dengki, dan bermusuhan. Orang yang suka bermusuhan, pendendam, penghujat, dan selalu berusaha menjatuhkan orang lain sebabnya sederhana saja, ialah oleh karena hatinya tidak baik, kotor, dan atau berpenyakit. Kelembutan hati Gus Dur menjadikan tatkala diangkat sebagai presiden dan tidak lama kemudian diturunkan lagi, juga tidak menjadikannya dendam.

Mendengarkan ceramah Zawawi Imran tersebut, ingatan saya tertuju pada apa yang pernah saya alami pada awal tahun 1980 an, yaitu ketika saya banyak mengikuti diskusi yang diselenggarakan oleh sekolompok cendekiawan di Jakarta. Pada tahun itu, beberapa orang di antaranya Utomo Danan Jaya, Muslim Abdurrahman, Muchtar Buchori, Djohan Efendy, A. Malik Fadjar, dan lain-lain, mendikusikan tentang dua hal. Pertama, menyiapkan kedatangan Noer Cholis Madjid sepulang dari studinya di Amerika. Mereka tidak ingin setelah datang kembali ke tanah air dengan menyandang gelar Doktor, Noer Cholis Madjid kegiatannya hanya khutbah dari satu masjid ke masjid lainnya. Mereka berkeinginan agar kehadiran cendekiawan itu memberi keuntungan lebih bagi gerakan pemikiran Islam di Indonesia.

Kedua, dalam berdiskusi itu dibahas tentang kemungkinan Gus Dur didorong untuk menjadi Ketua PB NU pada muktamar yang akan dilaksanakan pada tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur. Kedua agenda tersebut oleh para tokoh yang berdiksusi tersebut dianggap sangat penting sebagai pintu masuk membuat gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Sekalipun selalu mengikuti kegiatan itu, saya ketika itu masih sangat yunior. Keberadaan saya adalah baru pada tingkat menjadi pendengar. Manakala mempunyai ide atau pandangan, saya belum terlalu berani menyampaikan, apalagi berpendapat yang sekiranya berbeda dengan pikiran yang berkembang pada waktu itu.

Sekedar mejadi pendengar dalam beberapa kali diskusi di Jakarta itu, pikiran saya sebenarya menjadi gelisah tatkala Gus Dur diproyeksikan menjadi Ketua PB NU pada muktamar tahun 1984 tersebut. Terbayang pada pikiran saya, NU akan menjadi apa jika Gus Dur benar-benar menjadi ketua PB NU. Gus Dur saya lihat memiliki pikiran yang sedemikian cerdas dan maju, sementara kebanyakan mereka yang dipimpinnya adalah orang-orang NU yang berada di pedesaan. Saya membayangkan pengetahuan orang-orang NU di pedesaan amat jauh bila dibandingkan dengan pemikiran pimpinannya sendiri, yaitu Gus Dur.

Terbayang dalam pikiran saya, jika Gus Dur nanti benar-benar akan berhasil menjadi pimpinan PB NU bukankah NU akan menjadi bagaikan angsa. Angsa itu berkepala kecil, berbadan besar, tetapi memiliki leher yang panjang. Antara kepala angsa dan badannya dipisahkan oleh leher yang berjarak jauh. Demikian pula yang terbayang oleh pikiran saya, jika Gus Dur benar-benar menjadi ketua PB-NU, maka NU akan seperti angsa itu. Pemikiran Gus Dur akan jauh dari pemikiran umatnya yang kebanyakan ada di pedesaan. Namun pada akhirnya ternyata benar, pada Muktaar tahun 1984 di Situbondo, Gus Dur diangkat menjadi ketua PB-NU.

Tidak lama Gus Dur menjadi ketua PB-NU, ternyata dugaan saya tidak meleset, banyak sekali isu-isu pembaharuan yang dilontarkan hingga menjadikan warga NU seperti terkena bom dari dalam sendiri. Saya membayangkan ketika itu, bahwa pembaharu yang sebenarnya adalah Gus Dur, utamanya pembaharuan di kalangan NU sendiri. Pembahruan yang dilakukan terhadap NU bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam. Saya mengumpamakan keberadaan Gus Dur dalam melakukan pembaharuan, adalah bagaikan dinamit yang memecah baru keras. Ia bukan membawa palu lalu dipukulkan di bagian luar batu itu, melainkan membawa dinamit masuk ke dalam batu dan kemudian meledakkannya dari dalam. Itulah sebenarnya pembaruan yang dilakukan oleh Gus Dur.

Pembaharuan yang dilakukan oleh Gus Dur, ternyata setelah beberapa tahun kemudian, hasilnya terasa luar biasa besarnya. Orang NU menjadi bangga dengan NU nya. Pondok pesantren dan para kyainya bangkit dan menjadi semakin percaya diri sebagaimana yang kita lihat sekarang ini. Orang-orang NU menjadi merasa sebagai pembaharu tanpa meninggalkan kultur yang selama ini dijalani dan dikembangkan. Gus Dur sendiri akhirnya berhasil menjadi presiden dan demikian pula warga NU banyak yang menduduki posisi-posisi penting, misalnya menjadi anggota DPR, Gubernur, bupati, walikota, rector dan sebagainya. Menjadi NU tidak lagi merasa sebagai komunitas tertinggal, melainkan justru sebaliknya, kuat dan maju. Itulah sebagian dari sumbangan Gus Dur bagi bangsa Indonesia, dan juga khususnya pembaharuan yang dilakukan terhadap NU sendiri. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up