Mengambil Pelajaran Berharga Dari Jatuhnya Pesawat Air Asia
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 2 Januari 2015 . in Dosen . 948 views

Dalam kitab suci al Qur'an dan juga berbagai hadits nabi, bahwa seharusnya umat Islam menjadi umat terbaik dan bahkan terdepan, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kemanusiaan, penegakkan keadilan, kejujuran, termasuk penyelesaian berbagai persoalan kehidupan. Umat Islam diharapkan menjadi khalifah, khoiru ummah, dan sebutan-sebutan lain yang menggambarkan sebagai penyandang kekuatan dan kelebihan.

Atas dasar kekuatan dan kelebihannya itu, maka jika terjadi ssesuatu yang memerlukan penyelesaian segera, baik yang berada di negaranya sendiri maupun di berbagai negara lainnya, maka akan tampil pada barisan terdepan untuk menyelesaikannya. Namun pada kenyataannya, dalam penyelesaian berbagai persoalan dunia, umat Islam masih belum terdengar suaranya sebagaimana yang seharusnya dilakukan.

Dalam kejadian jatuhnya pesawat Air Asia di perairan selat Karimata beberapa hari yang lalu, menurut berbagai informasi, mereka yang datang terlebih dahulu untuk memberikan pertolongan, justru mereka yang berasal dari negara yang mayoritas bukan muslim, seperti Singapura, Australia, dan terakhir dari Perancis. Mereka mengirimkan peralatan produk teknologi modern yang sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai hal yang terkait dengan musibah dimaksud.

Hingga pada saat sekarang ini, belum terdengar ada negara-negara Islam datang dan membawa peralatan modern yang diperlukan untuk membantu menyelesaikan musibah tersebut. Maka artinya, dalam hal teknologi modern, negara-negara Islam belum menjadi kekuatan terdepan. Posisi umat Islam hingga saat ini belum berhasil menjadi contoh, bahkan sebaliknya, masih berada jauh di belakang.

Perlu diakui bahwa, dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam belum mampu bersaing dengan negara-negara yang tidak memiliki identitas Islam. Padahal, sebagaimana disebutkan di muka, umat Islam seharusnya berada di depan. Wahyu yang pertama kali diturunkan di dalam al Qur'an adalah perintah membaca. Jika perintah dimaksud diartikan secara luas, yaitu membaca ciptaan Tuhan, baik di langit dan di bumi, maka umat Islam sejak lama seharusnya menjadi kaya berbagai jenis ilmu dan juga teknologi.

Demikian pula disebutkan di dalam al Qur'an bahwa, semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia. Allah menciptakan langit dan bumi, juga air, udara, tanah, batu, gunung, tumbuh-tumbuhan, binatang, cahaya, getaran-getaran, dan lain-lain, semua itu dinyatakan sebagai tidak ada yang sia-sia. Akan tetapi, jika direnungkan secara mendalam, ternyata bagi umat Islam----diakui atau tidak, sebenarnya masih sia-sia belaka. Hal demikian itu disebabkan oleh karena, mereka belum berhasil menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal tersebut, umat Islam masih tertinggal jauh dibanding umat lainnya. Dengan demikian, posisi umat Islam sebagai pembawa rakhmat bagi seluruh alam, atau menjadi umat terbaik atau juga sebagai kholirul ummah, secara jujur harus diakui, ternyata belum berhasil diraih.

Peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia beberapa hari yang lalu, seharusnya menyadarkan umat Islam agar memacu diri untuk segera bangkit, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam dalam hal kebaikan tidak boleh selalu kalah dan tertinggal oleh umat lainnya. Alangkah bangganya, umpama saja, tatkala mendengar terjadinya musibah dimaksud, dari negara-negara Islam segera mengirim beberapa kapal, pesawat terbang, peralatan modern, tenaga ahli untuk ikut membantu dalam menyelesaikan musibah itu.

Namun gambaran ideal dimaksud, secara jujur harus diakui, ternyata belum bisa diwujudkan. Sekali lagi, dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam di mana-mana masih tertinggal. Oleh karena itu, sekalipun jelas, bahwa kejadian itu sama sekali tidak dikehendaki, namun peristiwa itu seharusnya mampu menumbuhkan kesadaran, bahwa umat Islam harus bangkit, dan segera mengejar ketertinggalannya.

Umat Islam seharusnya segera sadar, bersatu, dan berhenti dari bertikai terkait hal yang tidak terlalu perlu, misalnya hanya menyangkut perbedaan aliran, golongan, madzhab, dan sejenisnya. Sebaliknya, umat Islam harus segera bersama-sama membangun pusat-pusat riset dan pengembangan teknologi hingga mampu bersaing dengan umat lainnya. Tanpa mengambil strategi seperti itu, umat Islam akan selamanya menjadi tertinggal dan akan berada di belakang dan posisinya selalu ditentukan, oleh karena ketertinggalan dan kekalahannya itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up