Tidak jarang, ketika seseorang diterima di perguruan tinggi yang terbayang adalah kuliah, ujian, lulus, wisuda, dan akhirnya memperoleh gelar akademik. Apa yang tergambar dalam pikiran seperti itu tidak salah. Memang, belajar di perguruan tinggi, ada semacam ritual seperti itu yang harus diikuti. Bahkan, kegiatan itu diatur sedemikian rupa, persis kegiatan mesin, yaitu bersifat rutin, dan monoton. Kapan harus memulai dan kapan harus mengakhiri sudah dijelaskan sejak awal.
Demikian Itulah sedikit gambaran kegiatan di perguruan tinggi sekarang ini. Mahasiswa harus kuliah, mendengarkan dosen berceramah, menyusun makalah, dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas. Berapa lama harus datang kuliah juga telah ditentukan, misalnya 16 kali pertemuan, dan berapa kali ditoleransi tidak hadir. Setiap mahasiswa dan demikian pula dosen, diharuskan mengisi daftar hadir. Daftar hadir ternyata dianggap amat penting, tidak ubahnya pegawai pabrik, buruh di kebun, atau juga kuli bangunan.
Menangkap Ilmu bagi mahasiswa semestinya sudah menjadi kebutuhan. Jika terlambat saja, seharusnya mahasiswa menyesal. Tapi kadang aneh, umpama tidak ada daftar hadir, bisa jadi mereka seenaknya, kadang datang atau lebih memilih tidak hadir. Oleh karena itu, mengisi daftar hadir dianggap menjadi penting dan bahkan harus. Ternyata aneh, mahasiswa masih takut pada daftar hadir, dan bukan takut jika kelak sekalipun menjadi sarjana, menyandang gelar, tetapi tetap miskin ilmu.
Gambaran tersebut sebenarnya bukan hal yang menyenangkan. Siapapun prihatin jika misalnya, mahasiswa sudah benar-benar tidak memiliki semangat, atau bergairah dalam mengejar ilmu. Apa yang akan diharapkan, jika kelak, orang yang masih miskin ilmu tersebut mendapatkan ijazah dan memiliki gelar akademik. Akan tetapi siapa sebenarnya yang harus disalahkan, jika keadaan sebagaimana digambarkan itu benar-benar terjadi. Jangan-jangan mahasiswa menjadi tidak haus ilmu itu merupakan akibat saja dari sistem yang dikembangkan di kampusnya.
Pada awalnya, sebelum masuk menjadi mahasiswa, mereka bersemangat menjadi ilmuwan, sarjana yang hebat, dan bahkan ingin menjadi kebanggaan keluarga, tempat asalnya,m dan bahkan bangsanya. Cita-cita itu sedemikian tinggi. Namun oleh karena dialami sendiri, bahwa dari hari ke hari, kegiatan di kampus atau di ruag kuliah seperti itu, yakni terlalu birokratis, monoton, dan rutin, maka membosankan. Akibatnya, semangat yang semula berkobar-kobar, akhirnya menurun dan bahkan padam. Itulah akibatnya, mereka ke kampus hanya oleh karena takut ketinggalan tidak mengisi daftar hadir saja.
Manakala gambaran itu benar-benar terjadi, ialah banyak mahasiswa kehilangan semangat belajarnya, maka sistem pembelajaran di kampus harus segera diubah. Perguruan tinggi harus benar-benar menjadi perguruan tinggi. Artinya, belajar di perguruan tinggi tidak boleh disamakan dengan belajar di pondok pesantren, di sekolah, atau di madrasah. Belajar di perguruan tinggi harus diperbanyak atau ditekankan pada kegiatan riset, sesuai dengan jenjangnya, yaitu antara S1, S2, dan S3.
Belajar di perguruan tinggi tidak perlu lagi diperkenalkan dengan konsep-konsep. Kalaupun toh harus belajar, hendaknya dilakukan secara mandiri. Sebagaimana tulisan kemarin, (Selasa, tangal 27 Januari 2015) berjudul belajar di perguruan tinggi, dijelaskan bahwa pada saat sekarang ini sudah terjadi revolusi informasi yang sedemikian dahsyat. Siapapun dengan mudah bisa mengakses informasi dari internet melalui komputer, tablet dan bahkan HP. Maka, sekedar untuk memahami konsep-konsep yang dimaksudkan itu, mahasiswa akan dengan mudah bisa mencarinya sendiri. Jika masih belum paham, bisa berkonsultasi dengan dosen, teman sejawat, atau mahasiswa seniornya.
Belajar di perguruan tinggi di zaman banjir informasi seperti sekarang ini, seharusnya melalui kegiatan riset. Sementara orang, mungkin saja belum mempercayai bahwa mahasiswa itu sudah mampu melakukan kegiatan riset sendiri. Padahal, riset yang dimaksud adalah riset yang sekiranya bisa mereka melakukannya. Untuk mahasiswa S1 tentu berbeda dengan S2, dan bahkan S3. Mahasiswa S1, ditekankan pada riset pada tingkat upaya mengkonfirmasi teori yang dikenali dengan data di lapangan. Permasalahan yang diangkat sederhana, misalnya, apakah teori yang diutarakan oleh dosennya atau yang ditemukan sendiri dari buku literatur bisa dibuktikan atau ditemukan datanya di lapangan.
Penelitian dalam bentuk sederhana seperti digambarkan itu, tentu mahasiswa sudah mampu menjalankannya. Jangankan mahasiswa, siswa SMA dan atau bahkan SMP saja sudah berhasil mendapatkan temuan-temuan dalam kegiatan penelitiannya. Melalui aktifitas penelitian itu, mahasiswa dengan sendirinya akan membaca buku-buku teks, berdiskusi dengan teman atau juga dosennya, dan bahkan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah berlatih menulis dan mengkomunikasikan hasil temuannya kepada orang lain.
Belajar dengan cara mencari sendiri secara bebas, terbuka, dan berani tetapi bertanggung jawab itulah yang kiranya menjadi lebih menarik. Sebaliknya, belajar di perguruan tinggi bukan sebatas mengikuti kuliah di kelas secara rutin, bersifat birokratis, dan membelenggu. Sebaliknya, mahasiswa seharusnya dibiarkan berpetualang mencari sendiri pengetahuan sesuai dengan bidangnya. Dengan diberikan tantangan seperti itu, mereka akan agresif, pikirannya akan hidup, kekuatan imajinasikan dan atau daya khayalnya akan tumbuh dan berkembang. Bahkan dengan cara itu, mahasiswa akan tertantang dan berlatih menjawab tantangan itu. Belajar di tingkat perguruan tinggi, di tengah-tengah membanjirnya informasi seperti sekarang ini, bukan lagi selamanya di kelas, dan apalagi hanya bermaksud mengisi daftar hadir, sekalipun oleh birokrasi kampus, bolehlah dianggap penting.
Prestasi para mahasiswa tidak diukur dari sekedar seberapa banyak kemampuan menyerap informasi dan bahkan teori, melainkan adalah seberapa hebat kemampuan mereka di dalam mendapatkan informasi, data, dan juga buikti-bukti lainnya di dalam mengkonfirmasi teori yang diperoleh dari literatur dengan kenyataan atau data di lapangan. Umpa model belajar di perguruan tingi seperti digambarkan itu, maka kegiatannya akan menjadi amat menarik. Mahasiswa akan lebih tertantang dan berusaha menjawabnya, sehingga akhirnya menjadi semakin pintar dan cerdas.
Belajar di perguruan tinggi sebagaimana sedikit diilustrasikan tersebut, maka kegiatan mahasiswa di kampus akan lebih banyak berbicara tentang ilmu, temuan-temuan baru, berdebat tentang sesuatu yang bersifat ilmiah. Pertemuan antara dosen dan mahasiswa bukan lagi sekedar memenuhi target berapa kali seharusnya masuk kuliah dan menghitung, apakah yang mahasiswa bersangkutan dibolehkan ujian atau tidak. Jika hal demikian itu yang justru terjadi, maka perguruan tinggi sudah kehilangan sesuatu yang amat mendasar, yaitu ruh atau jiwanya. Mahasiswa ke kampus, hanya sebatas memenuhi kegiatan rutinnya, yaitu agar kelak diwisuda, dan memperoleh ijazah serta gelar akademik. Wallahu a'lam.



