Pemimpin Dan Perlombaan Memanah Di Pedesaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 16 Januari 2015 . in Dosen . 1225 views

Saya masih ingat, sewaktu masih kecil tinggal bersama orang tua di pedesaan, ada permainan favorit, yaitu lomba memanah. Pada musim kemarau, orang tidak bisa bekerja di sawah maupun di hutan, sehingga mereka mencari kegiatan lain, yaitu berlomba memanah. Alatnya sederhana, busur lengkap dengan anak panahnya. Biasanya setiap orang hanya dibatasi membawa 10 sampai 15 biji anak panah pada setiap ronde permainan.

Banyak orang menyenangi jenis perlombaan tersebut. Biasanya perlombaan itu dilaksanakan di lapangan terbuka dan diikuti oleh ratusan orang yang datang dari berbagai daerah. Dalam perlombaan itu, ada orang-orang tertentu yang dianggap lebih mahir, hingga selalu memenangkan permainan. Orang seperti itu biasanya dipercaya oleh banyak orang, tidak saja mengandalkan ketrampilannya memanah, tetapi juga dikenal menggunakan doa-doa yang dimilikinya.

Selain merupakan kesenangan, perlombaan memanah itu ternyata juga bermuatan perjudian. Maing-masing peserta diwajibkan mendaftar dan membayar sejumlah uang yang telah ditentukan kepada penyelenggaranya. Sejumlah uang yang telah dikumpulkan itu, setelah dipotong sebagai biaya penyelenggaranya,diberikan seluruhnya kepada siapa saja yang memenangkan pertandingan pada setiap rondenya. Judi seperti itu, pada waktu itu tidak dilarang, sebab para pejabat setempat, termasuk polisi, juga ikut dalam permainan itu.

Pertandingan memanah itu biasanya berlangsung pada sore, selama setengah hari saja, dan terbagi atas beberapa ronde. Pada setiap ronde, semua peserta diwajibkan untuk membayar uang taruhan, yang besarnya disesuaikan dengan jumlah anak panah yang dimainkan, yaitu antara 10 sampai 15 biji. Pada saat itu, saya tidak mengerti, mengapa permainan yang disertai taruhan dengan menggunakan uang atau berjudi seperti itu tidak dilarang, baik oleh pemerintah maupun juga oleh para pemuka agama setempat.

Jalannya pertandingan memanah itu sederhana sekali. Dua bambu panjang ditancapkan di tengah lapang secara terpisah, dan di masing-masing ujungnya disambungkan dengan tali. Pada bagian tengah dari tali yang menghubungkan antara dua ujung bambu yang berjarak sekitar 10 meter itu dipasang semacam boneka yang terbuat dari pelepah pisang, berukuran kecil. Semua peserta permainan, dipersilahkan memanah boneka yang terbuat dari pelepah pisang tersebut. Siapapun yang anak panahnya berhasil mengenai boneka dimaksud, dan tidak ada yang menandinginya, maka yang bersangkutan dinyatakan sebagai pemenang dan berhak mendapatkan sejumlah uang yang dikumpulkan dari seluruh pesertanya.

Memang kiranya bisa dimengerti, perlombaan memanah yang disertai dengan perjudian itu tidak dilarang, mungkin oleh karena, jumlah uang taruhannya juga kecil. Perlombaan memanah di pedesaan di musim kemarau tersebut tidak sampai menjadikan para pesertanya bangkrut atau jatuh miskin. Hingga sekarang ini, saya tidak tahu, apakah jenis perlombaan itu sebenarnya bersifat umum, artinya ada di mana-mana di banyak tempat. Namun, rupanya pertandingan memanah itu, pada saat sekarang ini, di desa tempat kelahiran saya sendiri juga sudah tidak tampak lagi.

Dari mengingat perlombaan memanah tersebut, maka perhatian saya tertuju kepada para pemimpin bangsa yang dihasilkan dari proses demokrasi sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Para calon pemimpin dipilih bersama-sama secara demokrastis. Siapapun yang mendapatkan suara terbanyak, maka ia dianggap sebagai pemenang dan diangkat sebagai pemimpin. Oleh karena sudah menjadi pilihan bersama, maka seharusnya ia dicintai, ditaati, dihormati, dijaga kewibawaannya, dan seterusnya. Namun anehnya, para pemimpin itu tidak selalu diperlakukan seperti itu.

Para pemimpin, sekalipun belum lama duduk di kursinya, andaikan kebijakannya sedikit saja kurang tepat, atau bahkan sebenarnya belum tentu keliru jika dilihat dari perspektif yang luas, ia sudah dikritik lewat berbagai cara, misalnya dengan parodi, karikatur, dan atau lewat berbagai media lainnya. Akhirnya, pemimpin diperlakukan sebagaimana boneka yang dijadikan sasaran anak panah pada pertandingan memanah.

Semula calon pemimpin itu dinaikkan atau dipilih bersama-sama, namun setelah itu, segera dikritik dan dihujat bersama-sama. Jika demikian itu halnya yang dilakukan, maka suatu saat bisa jadi, orang akan merasa anggan atau khawatir tatkala mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa ini. Sebab pada kenyataannya, dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya, seolah-olah pemimpin itu tidak ada benarnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up