Persoalan pendidikan ternyata tidak pernah bisa habis dibicarakan dan diselesaikan. Tatkala dirasakan anggaran negara untuk pendidikan masih rendah, maka banyak orang bersuara. Kritik dilontarkan pada setiap hari. Dianggap selama ini negara tidak maju, atau tertinggal dari bangsa lain oleh karena kualitas pendidikannya rendah. Pemerintah dituding tidak serius ngurus pendidikan. Mengalokasikan anggaran untuk sektor ini terlalu kecil. Anggaran itu tidak seimbang dan tidak mencukupi kebutuhan.
Setelah anggaran ditingkatkan, ternyata kualitas yang dihasilkan juga masih dirasakan belum memuaskan. Kali ini yang menjadi sorotan adalah guru. Kemampuan guru dianggap masih rendah, maka guru dicermati kalitasnya. Ternyata diketahui bahwa kualitas guru dianggap kurang memadai. Padahal dilihat dari ijazah, mereka sudah bergelar S1 dan bahkan juga disertifikasi. Kesejahteraan mereka juga sudah diperbaiki. Maka disimpulkan bahwa, kualitas pendidikan bukan saja terletak di anggaran dan juga ijazah para guru.
Setelah faktor guru, maka persoalan selanjutnya adalah kurikulum. Maka, kurikulum dianggap perlu segera ditinjau kembali. Tidak lama kemudian, diperoleh jawaban, yaitu berupa lahirnya kurikuum tahun 2013. Dari sudut konsep, kurikulum yang dihasilkan itu, dibanding sebelumnya, dianggap lebih bagus. Akan tetapi ternyata masih ada kekurangan, yakni implementasinya terlalu cepat. Akibatnya, buku yang dibuat belum terlalu sempurna, guru belum semuanya ditatar, dan masih banyak lagi yang perlu dibenahi.
Pejabat kementarian berganti, maka muncullah isu baru terkait kurikulum itu. Agar membawa hasil maksimal, maka pejabat baru membuat kebijakan, yaitu implementasinya akan dilaksanakan secara bertahap. Atas kebijakan itu, lahirlah polemik. Ada yang setuju, ada yang sekedar ngikut atasan, dan bahkan sebaliknya, juga ada yang keberatan atas penundaan itu. Alasan yang terakhir itu, karena banyak sekolah yang sudah mengimplementasikan, dan sudah merasakan keunggulannya, sekalipun para guru mengeluh oleh karena terlalu capek menyusun laporannya.
Pertanyaannya, apakah jika semua kekuarangan itu dipenuhi, pendidikan akan secara otomastis memuaskan semua pihak. Tentu tidak semudah itu yang akan terjadi. Pergantian dari satu masalah ke masalah berikutnya bukan berarti masing-masing selesai. Sekedar membenahi guru saja bukan perkara mudah. Persoalan guru adalah menyangkut orang, apalagi jumlahnya banyak. Apa saja yang menyangkut orang, apalagi jumlahnya banyak itu, maka menyangkut berbagai budaya, karakter, pandangan hidup, dan lainnya. Selain itu, pada hakekatnya guru bukan sebatas tukang, pegawai, pelaksana atasan. Guru adalah guru. Mereka tidak saja harus kaya ilmu, tetapi juga harus memiliki watak atau jiwa guru.
Sama halnya dengan guru, adalah cara melihat murid. Mereka tidak saja diharapkan banyak memiliki hafalan, mengerti rumus-rumus, mampu menjawab soal-soal ujian. Tambahan pula, siswa tidak saja dituntut mengerti biologi, fisika, kimia, bahasa inggris, sosiologi, ekonomi, dan lain-lain. Lebih dari itu, mereka harus bisa hidup mandiri, bertangung jawab, dewasa, atau dalam bahasa yang populer pada akhir-akhir ini adalah agar mereka berakharakter, berkepribadian atau berakhlak mulia.
Akhir-akhir ini mulai banyak orang berpikir, untuk apa para siswa memahami berbagai jenis ilmu pengetahuan, manakala mereka masih saja tetap kurang ajar, tidak memiliki sopan santun terhadap orang tua dan juga guru, tidak bisa dipercaya, tidak mampu bekerja, manja, lebih suka menganggur, dan seterusnya. Maka akhirnya, muncul pula pemikiran, agar pendidikan ke depan lebih ditekankan pada pembinaan karakternya. Para siswa harus pintar, tetapi juga harus berkepribadian, berwatak atau berakhlak mulia. Dinyatakan bahwa tidak ada gunanya seorang kaya ilmu tetapi berakhlak buruk.
Atas dasar pandangan itu, maka banyak orang mencari format pendidikan yang sekiranya mampu melahirkan sosok manusia yang digambarkan ideal itu. Dianggapnya bahwa pendidikan yang selama ini dijalankan belum mampu melahirkan sosok lulusan yang diinginkan. Maka harus dicari jalan keluar secara serius. Diskusi, dialog, dan bahkan studi banding harus dilakukan. Seseorang dengan memiliki pengetahuan biologi, kimia, fisika, sosiologi, ekonomi, bahasa, dan seterusnya dianggap belum cukup, maka harus disempurnakan dengan ketrampilan dan karakter atau akhlak mulia.
Ternyata, persoalan pendidikan tidak pernah habis dibicarakan dan tidak mengenal selesai. Hal demikian itu, oleh karena pendidikan menyangkut kehidupan manusia. Sepanjang sejarahnya, manusia tidak akan pernah berhasil menyelesaikan persoalan dirinya sendiri. Begitu pula menyangkut persoalan pendidikannya, tidak akan mungkin berhasil diselesaikan secara tuntas. Manusia selalu dinamis, berubah-ubah, dan selalu menampakkan wajah yang beraneka ragam. Maka, wajar jika tuntutannya juga sebagaimana berbagai wataknya itu.
Tetapi betapapun sulitnya, pendidikan seharusnya mampu mengantarkan generasi ke depan menjadi manusia terbaik. Di dalam al Qur'an disebutkan sosok manusia terbaik, yaitu dengan sebutan ulul albaab. Yaitu, orang-orang yang selalu mengingat Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan mampu menjadikan semua ciptaan-Nya itu sebagai sesuatu yang tidak sia-sia. Maka semestinya, siapapun gurunya, apapun kurikulumnya, berapapun biayanya, sarana dan prasarananya, dan seterusnya, pendidikan diarahkan menjadi sosok generasi terbaik itu. Wallahu a'lam.



