Umpama Perayaan Tahun Baru Dilihat Dari Berbagai Perspektif
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 1 Januari 2015 . in Dosen . 1498 views

Kita menyaksikan bahwa perayaan tahun baru di mana-mana disambut dengan gegap gempita. Di kota-kota besar momentum itu dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari beramai-ramai meniup terompet bersama, mengadakan berbagai pentas kesenian, pesta kembang api, dan berbagai jenis kegiatan lainnya. Bagi yang tidak datang ke kota, mereka bisa menikmati semua itu melalui siaran televisi, atau media lainnya.

Anak-anak muda pada zaman sekarang pasti tidak mudah dipengaruhi agar tidak ikut-ikutan melakukan pesta sebagaimana dimaksudkan itu. Umpama upaya mempengaruhi mereka itu berhasil, kiranya keberhasilan itu tidak sepenuhnya. Di tengah keberhasilan itu masih saja ada anak-anak muda yang nekat, yakni dengan caranya sendiri ikut merayakannya. Penjelasan bahwa peringatan tahun baru itu adalah makruh, bahkan haram, atau juga ada yang menyebutnya merusak aqidah, kiranya tidak akan berhasil sepenuhnya.

Perlu dimaklumi bahwa, perayaan semacam itu adalah dunianya anak-anak muda. Namun sementara orang tua khawatir, sebagaimana dirasakan oleh isteri saya, mengikuti perayaan di tengah malam itu akan membuahkan hal yang tidak diinginkan. Untuk menghindari kekhawatiran dan juga agar tidak ada yang kecewa, saya menyampaikan kepada isteri, bahwa melarang mereka adalah sangat sulit. Mungkin yang bisa dilakukan adalah mengalihkan pada kegiatan lainnya. Saya menyarankan pada isteri, agar di malam itu, menyediakan peralatan pesta sederhana tapi mengasikkan. Akhirnya, isteri saya membelikan bahan-bahan untuk dimasak, termasuk membelikan jagung muda, agar dibakar bersama-sama.

Maka, anak saya yang masih kuliah dianjurkan mengundang teman-temannya ke rumah untuk berpesta yang terasa unik itu. Mereka memasak masakan kesukaan anak muda dan kemudian dimakan bersama-sama hingga kegiatan sampai lewat tengah malam. Dengan cara itu, mereka tidak pergi ke mana-mana. Akan tetapi, sekalipun kegiatan itu diselenggarakan di rumah, maka juga disediakan kembang api. Umpama saja keinginannya itu tidak disalurkan dan hanya diberi tahu bahwa ikut memperingati tahun baru itu adalah tidak sesuai dengan keyakinan agamanya, maka nasehat itu hanya akan melahirkan stress oleh karena kecewa.

Selain stress oleh karena kecewa, maka juga bisa jadi, larangan itu akan membuahkan kesan bahwa Islam tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Islam hanya melarang terhadap hal-hal yang menyenangkan dalam hidup ini. Islam tidak sebagaimana agama lainnya yang memberikan ruang kreatif bagi pemeluknya. Tentu, kemungkinan-kemungkinan akibat negatif seperti itu masih bersifat dugaan. Akan tetapi, kita bisa membayangkan, sebagai generasi muda, dan apalagi mahasiswa, kemudian masih dilarang terhadap hal-hal yang mereka telah mengetahuinya sendiri berbagai keuntungan dan resikonya, maka orang yang melarangnya itu justru akan dianggap ketinggalan zaman.

Namun umpama saja peringatan tahun baru itu dilihat dari perspektif yang agak luas, misalnya dari perspektif budaya anak muda, dari sudut pandang kepentingan berkomunikasi, ekonomi, hingga hal yang bersifat politis, maka kiranya akan mendapatkan pengertian yang lebih lengkap. Cara melihat sesuatu dari perspektif yang agak luas seperti itu, maka hasilnya tidak sekedar berujung pada kesimpulan, yaitu boleh dan atau tidak boleh, sesuai dan atau tidak sesuai dengan pandangan agama, berdampak kemaksiatan atau tidak, tetapi bahkan akan menghasilkan pengertian yang bisa jadi, sebenarnya kegiatan itu, justru diperlukan bagi pertumbuhan dan pendewasaan anak muda.

Untuk menuju kedewasaan, anak muda selalu memerlukan aktualisasi diri, berbagai jenis tantangan, pengakuan, semangat prestasi, komuniasi, dan berbagai hal lainnya. Perayaan tahun baru yang diisi dengan berbagai kegiatan itu akan memberikan peluang bagi anak muda untuk mengambil peran-peran penting yang diperlukan. Emosi, keinginan, harapan, dan dorongan positif lainnya, akan tersalurkan melalui kegiatan itu. Anak-anak muda yang selalu terkungkung di rumah dengan bermacam-macam rambu-rambu, batasan-batasan atau berbagai macam aturan, maka mereka tidak akan menjadi jago yang tangguh. Menanam kurma saja, sengaja bijinya dimasukkan ke lubang tanah yang dalam, dan bahkan di atas tanah itu ditutup dengan batu, agar tanaman kurma muda itu menerobos dan akhirnya menjadi kokoh. Dan ternyata benar, bahwa akar yang paling kuat adalah akar kurma oleh karena dalam pertumbuhannya telah teruji dengan tantangan yang keras.

Selain itu hidup di dunia yang semakin terbuka dan modern seperti sekarang ini, siapapun memerlukan kemampuan komunikasi yang luas. Seorang muslim digambarkan bahwa seharusnya menjadi khalifah, umat terbaik, menjadi rakhmat, dan mampu memberi manfaat bagi banyak orang. Oleh karena itu, mereka seharusnya diberi kebebasan dan berlatih berani, termasuk dibolehkan untuk melihat berbagai kehidupan di dunia ini. Pemberian peluang itu bukan bermaksud mengajurkan agar ikut berbuat yang tidak sesuai dengan norma agamanya, melainkan semata-mata agar mampu memahami berbagai jenis kehidupan di dunia ini. Manakala generasi muda Islam di dalam suasana gegap gempita perayaan tahun baru saja harus bersembunyi, dengan dalih khawatir terpengaruh kemaksiyatan, maka pendekatan atau cara itu, -------bisa jadi, justru akan merugikan pertumbuhan jiwa dan kemampuan yang seharusnya dikembangkan.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, umat Islam seharusnya tidak khawatir atau takut kepada setan atau iblis sekalipun, yang tugasnya memang selalu menggoda agar berbuat salah dan maksiyat. Generasi muda Islam harus berani, teruji, dan menang dalam perang melawan syetan dan iblis. Cara meraih kemenangkan di dalam perang melawan musuh manusia yang sebenarnya itu tidak boleh dilakukan dengan bersembunyi atau mencari zone aman. Generasi muda Islam harus kokoh, kuat, dan tegar dalam menghadapi siapapun. Caranya, mereka diajak untuk keluar dan berlatih, yaitu berlatih mencintai ilmu pengetahuan, memperkokoh kualitas dirinya agar tangguh, sanggup berjuang dan berkorban demi kejujuran dan keadilan, akrab dengan kegiatan ritual, dan dalam bekerja selalu mengedepankan profesionalitas. Hal demikian itu semua harus ditanamkan dan jugaditumbuh-kembangkan secara terus menerus. Sebaliknya, bukan dianjurkan untuk bersembunyi, termasuk tatkala sedang ada perayaan tahun baru. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up