Akhir-akhir ini mulai dikeluhkan tentang rendahnya mutu pendidikan. Kualitas hasil pendidikan di tengah masyarakat pada kenyataannya sekarang ini bukan saja diukur dari nilai ujian akhir atau besarnya Indek Prestasi yang dihasilkan. Terkait mutu pendidikan, masyarakat sudah mulai melihat dari seberapa jauh lulusan lembaga pendidikan mampu tampil di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Sekalipun angka hasil uian akhir dan Indek Prestasi cukup tinggi, tetapi jika yang bersangkutan belum mampu memenangkan kompetisi dalam memperebutkan lapangan kerja dan apalagi menciptakannya sendiri, maka kualitas pendidikan dimaksud belum memenuhi harapan. Selama ini tolok ukur kualitas pendidikan sebatas dirupakan dalam bentuk angka-angka, tetapi sebenarnya hal itu belum mencukupi.
Penampilan lulusan lembaga pendidikan di tengah masyarakat biasanya dijadikan ukuran kualitas itu. Lulusan Pondok Pesantren Gontor Ponorogo dikenal oleh banyak orang berkualitas, oleh karena mereka mampu berbahasa Arab dan Inggris. Selain itu, tatkala ada kegiatan di tengah-tengah masyarakat, maka lulusan lembaga pendidikan Islam dimaksud bisa tampil meyakinkan.
Dalam sebuah diskusi kecil, membicarakan bahwa sistem pendidikan sekarang ini, terasa sudah kehilangan ruhnya. Penyelenggaraan pendidikan hanya sebatas ditargetkan agar cepat lulus dan memperoleh ijazah. Lebih aneh lagi, agar segera lulus, para siswa sebelum ujian dilaksanakan, maka diberikan kursus tambahan, diberikan latihan menjawab soal ujian, dan semacamnya. Dengan demikian tugas sekolah, seolah-olah bukan lagi agar menjadikan siswa semakin cerdas dan berkharakter atau berkhlak, melainkan agar segera lulus itu saja.
Hal yang sama juga terjadi di sementara perguruan tinggi. Para mahasiswa dipacu untuk mengumpulkan sejumlah sks agar selanjutnya diakui sebagai seorang sarjana, magister, dan atau Doktor. Siapa saja yang telah mengikuti proses-proses pembelajaran, misalnya mengikuti perkuliahan dalam jumlah tertentu, menyusun makalah atau tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya, dan ujian, maka dinyatakan lulus. Siapapun yang telah sekedar mengikuti semua kegiatan tersebut dinyatakan lulus. Seseorang dinyatakan lulus bukan lagi ditentukan atas kepintarannya, melainkan sekedar telah ikut serta dalam kegiatan belajar.
Jika mengingat sejarah kebijakan pendidikan, bahwa dahulu sebelum diterapkan sistem sks di perguruan tinggi, tuntutan kepada mahasiswa maka tidak cukup sebatas mengikuti proses pendidikan, melainkan yang bersangkutan harus menguasai mata kuliah yang telah dipelajari. Oleh karena ukurannya adalah menguasai mata kuliah dan bukan sebatas mengikuti kuliah, maka ada sementara mahasiswa yang harus mengulang ujian hingga belasan kali. Sebelum mahasiswa yang bersangkutan dianggap benar-benar memahami mata kuliah yang diikuti, maka mahasiswa yang bersangkutan tidak akan dinyatakan lulus.
Dalam diskusi terbatas sebagaimana dikemukakan di muka, salah seorang peserta teringat apa yang pernah dialaminya tatkala ia belajar di pesantren. Pendidikan di pesantren, para santri tidak saja dituntut untuk mengikuti pelajaran dan juga memahami apa sala yang diajarkan, tetapi lebih dari itu, mereka diajak untuk menjalankan secara mendalam apa saja yang telah dipelajari. Hal demikian itu sangat mungkin dilakukan oleh karena para santri bertempat tinggal bersama-sama kyai di lingkungan pesantren. Perilaku para santri sehari-hari mendapatkan perhatian secara menyeluruh dari pengasuh dan para asatidz atau asatidzahnya. Demikian pula, kemajuan atau prestasi santri tidak cukup digambarkan lewat angka-angka statistik atau diskripsi yang dibuat oleh pengasuhnya.
Melalui diskusi kecil dan terbatas tersebut, maka disimpulkan bahwa semakin rendahnya mutu pendidikan selama ini, di antaranya disebabkan justru oleh sistem pendidikan yang dikembangkan, termasuk juga evaluasi yang dilakukan selama ini. Pendidikan sebenarnya tidak cukup dipahami atas dasar prinsip-prinsip yang hanya mementingkan aspek yang tampas atau yang bersifat lahiriyah semata. Sebab, manusia tidak saja terdiri atas aspek dhahir, tetapi pada diri manusia terdapat aspek lain yang lebih mendasar, yaitu aspek batin. Pada aspek itu tidak mungkin didekati secara sederhana, birokratis, dan serba formal. Oleh karena itu, fenomena semakin rendahnya mutu pendidikan di antaranya bisa saja diakibatkan oleh cara yang kurang tepat di dalam memandang manusia itu sendiri. Wallahu a'lam



