Bandul Senggot
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 5 Februari 2015 . in Dosen . 5312 views

Dahulu di pedesaan pada umumnya, orang mengambil air bersih dari sumur yang dibuatnya sendiri. Untuk mengambil air dari dalam sumur itu, mereka menggunakan apa yang disebut dengan senggot. Peralatan untuk mengambil air sumur secara tradisional dan sederhana itu, biasanya terbuat dari bambu. Pada ujung bambu dipasang tali berukuran panjang disambungkan pada ember sebagai tempat air, dan pada ujung bagian lainnya dipasang bandul. Dengan sengggot itu, seseorang mengambil air dari dalam sumur tidak terlalu berat.

Tulisan ini tidak akan berceritera tentang penggunaan senggot untuk mengambil air dari dalam sumur dimaksud. Bagi orang yang pernah hidup di pedesaan pada zaman dahulu, pasti mengetahui apa yang disebut dengan senggot itu. Sekarang ini, jangankan orang yang hidup di perkotaan, di pedesaan pun, kebanyakan orang sudah tidak menggunakan alat itu. Untuk mengambil air dari dalam sumur, sekarang orang desa pun sudah menggunakan mesin yang digerakkan dengan listrik. Oleh karena itu sangat wajar, anak-anak di pedesaan pun sekarang ini tidak mengerti apa yang disebut dengan senggot itu.

Istilah senggot hingga sekarang ini tidak pernah saya lupakan. Hal itu bukan saja oleh karena pada setiap mengambil air dari sumur selalu menggunakan senggot, tetapi ayah dan ibu saya dalam mendidik selalu mengingatkan tentang akibat seseorang yang tidak serius dalam belajar atau mencari ilmu. Mereka akan bagaikan bandul senggot. Posisi bandul sengot selalu ditentukan oleh orang yang sedang pengambil air dari dalam sumur. Bandul senggot itu tergantung orang yang sedang mengambil air dari dalam sumur. Keberadaannya selalu tentukan, dan sebaliknya, sama sekali tidak pernah menentukan.

Bandul senggot oleh ayah dan ibu, selalu digunakan sebagai contoh terhadap orang yang bodoh oleh karena tidak pernah belajar atau tidak pernah sekolah. Menurut penjelasannya, jika semasa anak-anak tidak mau sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh, maka kelak akan seperti bandul senggot, yakni menjadi orang yang posisinya selalu kalah dan ditentukan oleh orang lain. Keberadaannya tidak berdaya dan selalu menggantungkan diri pada orang lain. Itulah gambaran terhadap orang lemah pikirannya, bodoh, atau tidak mampu berpikir, oleh karena tidak mengenyam pendidikan.

Perumpamaan tersebut hingga saat sekarang ini ternyata masih terasa relevan. Posisi orang bodoh, kurang pintar, atau orang yang tidak mau berpikir, ternyata kapan dan di mana pun selalu kalah, ditentukan, dan bahkan dijadikan alat bagi kepentingan orang lain. Tidak pernah orang bodoh meraih kemenangan dan apalagi sanggup memimpin orang pintar. Oleh karena itu, siapapun yang sedang berposisi atau diposisikan sebagai orang kalah atau ditentukan, maka sebenarnya hal itu sebagai akibat kekurangannya sendiri dan bukan atas kesalahan orang lain.

Pada setiap teringat istilah bandul senggot tersebut, saya segera teringat pula pada keadaan umat Islam sekarang ini. Banyak tokoh Islam mengeluh oleh karena kondisi umat Islam bukan sedang berada pada keadaan yang menggembirakan atau menguntungkan. Umat Islam disebut telah mengalami ketertinggalan, baik dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, politik, perdagangan, dan lain-lain. Umat Islam disebut telah menjadi obyek bagi kekuatan pihak lain. Kondisinya, disebut bagaikan buih di laut. Bahkan diigambarkan, bahwa dunia ini sedang dikuasai dan dikendalikan oleh orang-orang Yahudi. Sebaliknya, umat Islam di mana-mana merasa dikalahkan oleh kekuatan dimaksud.

Pada setiap mendengarkan keluhan tersebut, saya justru bekomentar balik. Bahwa di mana saja orang Yahudi memperoleh kemenangan oleh karena mereka menggunakan pikiran cerdasnya secara maksimal. Lewat kekuatan pikiran dan penalarannya itu, mereka menguasai berbagai sumber kekuatan hingga berhasil memenangkan dalam segala kompetisi. Sebaliknya, umat Islam belum bangkit. Umat Islam belum mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal. Padahal kedua kekuatan tersebut sebenarnya adalah merupakan kunci kemenangan di dalam berbagai persaingan terbuka seperti sekarang ini. Umpama umat Islam mau mengembangkan kekuatan itu secara maksimal, sebagai wujud dari implementasi ajaran Islam, maka orang Yahudi pun sangat mungkin bisa dikalahkan.

Disebutkan di dalam al Qur'an bahwa umat Islam adalah umat terbaik, dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada kebaikan dan mengajak untuk menjauhi kemungkaran. Sebagai penyandang identitas terbaik, maka sudah barang tentu seharusnya akan berposisi sebagai pemenang, memiliki kelebihan dalam berbagai hal. Namun jika sementara ini mash kalah, maka sebenarnya ada sesuatu yang seharusnya dibenahi. Sebagai umat terbaik, tidak mungkin posisinya hanya sebagai bandul, yakni selalu tergantung pada kekuatan orang lain. Oleh karena itu, berupaya mengembangkan semua potensi yang dimiliki adalah tugas umat Islam pada saat sekarang ini. Sekali lagi, hal itu dimaksudkan agar umat Islam tidak berposisi bagaikan bandul sebagaimana dikemukakan dalam judul tulisan ini. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up