Mungkin apa yang saya tulis di pagi hari ini tidak rasional, tetapi memang begitulah kenyataannya. Tulisan yang saya maksud itu adalah tentang kehidupan ikan yang dipelihara di kolam milik seoring kyai pondok pesantren. Kegiatan pengasuh pesantren ini sehari-hari tidak saja mengajari kitab kuning kepada para santrinya, tetapi juga berwirausaha, di antaranya memelihara ikan tawar.
Berbagai jenis ikan pada umumnya tidak mungkin dipelihara di dalam kolam yang sama. Agar aman masing-masing ikan yang berbeda dipisahkan di kolam yang berlainan. Sebab, jika tidak dipisahkan, di antara mereka yang berbeda jenisnya itu akan saling menyerang, dan akhirnya hanya ikan yang kuat yang akan bertahan dan tersisa di kolam itu.
Jangankan jenis ikan yang berbeda, ikan sejenis saja kadang saling menyerang. Ada jenis ikan tertentu yang kanibal. Belut misalnya, akan memangsa belut lain jika makanannya tidak mencukupi. Oleh karena itu, peternak belut selalu berhati-hati, mereka tahu sifat kanibalnya itu. Jika tidak diantaisipasi maka belutnya akan habis, karena saling memangsa itu.
Memelihara ikan di kolam ternyata ada juga yang sekedar hobi. Ada salah seorang mantan menteri yang menyalurkan hobinya dengan memelihara ikan di kolam miliknya. Menurut pengalamannya bahwa, jika di dalam satu kolam diisi empat jenis ikan saja, maka dipastikan beberapa bulan kemudian hanya akan tersisa jenis ikan yang paling kuat. Lainnya, akan dimangsa ikan yang lebih kuat. Disarankan oleh mantan menteri yang punya hobi memelihara ikan tawar tersebut agar beberapa jenis ikan harus dipisahkan.
Atas dasar pengalamannya tersebut, mantan menteri yang dimaksudkan itu sangat heran ketika menyaksikan kolam ikan milik kyai di sebuah pesantren berisi berbagai jenis ikan dan bahkan dalam ukuran yang berlain-lainan. Dqlam satu kolam diisi tidak kurang dari delapan belas jenis ikan, tetapi ikan-ikan itu tidak saling menyerang. Semua bisa hidup rukun, bertahan hidup, dan tidak saling menyerang.
Berbincang-bincang dengan mantan pejabat tinggi tersebut, saya segera teringat kehidupan saya ketika saat masih kecil di pedesaan. Saya oleh orang tua, diberi banyak tugas di antaranya harus merawat beberapa ekor bebek. Sebagaimana anak desa pada umumnya, sejak duduk di sekolah dasar, saya sudah diberi banyak tugas , misalnya mencari kayu bakar, mencari rumput untuk makanan sapi, dan bahkan harus mengerjakan apa saja terkait dengan urusan rumah tangga,
Pengalaman yang tidak pernah saya lupakan dari memelihara bebek di waktu masih kecil tersebut adalah, bahwa bebek tidak akan bertelor sebagaimana biasa jika pemiliknya sedang gelisah atau marah. Apakah hal itu sekedar mitos, atau sungguhan, tidak ada orang yang mengkritisi. Atas dasar kepercayaan itu, penggembala bebek biasanya berusaha sabar, khawatir hasil telornya berkurang. Saya rasakan, pernyataan tersebut ada benarnya. Bebek jika tidak dipelihara dengan sabar tidak bertelor.
Kembali pada kenyataan tentang berbagai jenis ikan yang bisa hidup rukun di dalam satu kolam, setelah ditanyakan kepada salah seorang santri di pesantren itu, jawabnya sangat sederhana. Santri dimaksud mengtakan bahwa, semua penghuni pesantren ini selalu rukun. Para santri, ustadz, dan bahkan ke empat isteri kyai yang semuanya bertempat tinggal di lingkungan pesantren itu juga tidak pernah berselisih atau apalagi bertengkar. Semua mampu hidup rukun, saling berbagi kasih sayang.
Santri di pesantren itu, ketika menjelaskan tentang berbagai jenis ikan yang bisa hidup di satu kolam mengatakan dengan enaknya bahwa, ikan-ikan itu bisa hidup rukun oleh karena dipelihara oleh orang yang bisa rukun. Ikan itu tidak akan bermusuhan oleh karena mungkin malu atau sungkan dengan keluarga kyai, pemiliknya. Begitu pula para santri yang berjumlah lebih dari 400 orang tidak pernah bertengkar dan apalagi berkelahi. Para santri dan bahkan ikannya di kolam mampu mencontoh kehidupan kyai yang selalu hidup rukun bersama ke empat isteri dan 20 orang anaknya.. Wallahu a'lam



