Mendengarkan sambutan Wakil Presiden, Yusuf Kalla, dalam pembukaan konggres Umat Islam di Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya menjadi lebih serius memperhatikan ketika beliau menyinggung sekilas tentang partai politik di Indonesia. Disebutkan bahwa hubungan antar partai politik dan para tokohnya sudah sedemikian mencair. Antar partai politik sudah saling menyapa, dan tidak ada bedanya. Umpama terjadi gegekan, beliau sebutkan paling lama hanya tiga bulan kemudian selesai. Mereka yang saling berbeda itu sudah saling duduk bersama, dan makan bersama di satu meja.
Demikian pula ketika menyebutkan hubungan masing-masing partai politik dengan umat Islam, Yusuf Kalla menggambarkan betapa semuanya sudah sedemikian sama-sama dekatnya. Tentu saya belum begitu mengerti, pandangan Wakil presiden tentang bangunan hubungan antar partai politik yang dianggap ideal di negeri ini. Dalam pandangan saya, andaikan di antara partai politik sudah sama atau tidak diketahui lagi distingsinya, maka pertanyaannya adalah apa maksud yang sebenarnya di antara partai politik dengan menggunakan nama dan simbol-simbol yang berbeda itu.
Dalam sambutan itu, Yusuf Kalla juga mengilustrasikan tentang kedekatan partai politik dengan pesantren. Beliau mengatakan bahwa, semua partai politik, pada setiap menjelang pemilu selalu mendatangi pesantren. Dikatakan bahwa hampir semua partai politik, baik Golkar, PDIP, Nasdem, PKB, PPP, PKS dan lainnya mendatangi pengsuh pesantren untuk memperoleh dukungan. Sambil kelakar, Wakil Presiden juga menyebut bahwa PDIP, Golkar, dan Nasdem, datang lebih dahulu ke pesantren sebelum PKB dan PPP atau juga PAN datang.
Penjelasan Wakil Presiden pada acara pembukaan Konggres dimaksud sudah beberapa hari usai, namun ternyata tidak mudah saya lupakan. Bahkan, pidato Yusuf Kalla tersebut mengingatkan saya pada tiga jenis fungsi tempat, yaitu keranjang, sangkar burung, dan partai politik itu sendiri. Sudah barang tentu, di antara ketiganya berbeda dengan jelas. Keranjang, semua orang tahu, bisa digunakan sebagai tempat apa saja. Semua jenis barang jika dimasukkan ke sebuah keranjang, maka akan dianggap sama. Sebaliknya, umpama barang itu sebenarnya sama, tetapi jika akan diperlakukan atau dianggap berbeda, maka akan diletakkan pada keranjang yang berbeda pula.
Berbeda dari keranjang adalah sangkar burung. Sebenarnya, fungi sangkar adalah sama, yaitu digunakan untuk tempat memelihara burung. Sebagaimana kita ketahui, bahwa burung itu bermacam-macam jenisnya, misal burung kutilang, perkutut, kenari, emprit, bekisar, beo, dan lain-lain. Semua burung diletakkan di sangkar yang bentuknya apa saja, pasti mau. Burung tidak peduli dengan bentuk dan keindahan sangkarnya. Namun begitu, jenis burung yang berbeda dibuatkan sangkar yang berlainan, baik bentuk dan ukurannya. Sangkar burung beo berbeda dari sangkar burung kenari, dan berbeda pula dari sangkar burung perkutut, bekisar, dan selainnya.
Berbeda dari keranjang dan juga sangkar burung, adalah partai politik. Pada hakekatnya, partai politik itu juga tempat, yaitu tempat orang-orang yang berminat pada kegiatan politik. Ada beberapa partai politik di Indonesia, dipimpin oleh tokoh-tokoh yang berbeda. Perbedaan itu seharusnya dilatar-belakangi oleh pandangan, cita-cita atau idiologi yang berlainan. Umpama di antara partai politik itu idiologinya sama, maka seharusnya tidak pelu memiliki nama dan simbol yang berbeda. Sekarang ini ada dua koalisi partai politik, yaitu Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Sekalipun di antara mereka bersama-sama dalam satu koalisi, tetapi masing-masing partai politik pasti memiliki sesuatu yang bersifat mendasar yang berbeda.
Perbedaan pandangan dan atau idiologi di tengah-tengah masyarakat pasti ada dan semuanya harus didengarkan, dihargai, dan dianggap penting. Bahkan demokrasi itu ada dan dikembangkan adalah oleh karena adanya perbedaan itu. Dalam kehidupan bermasyarakat perbedaan tidak bisa dilarang. Itulah sebabnya di dalam ajaran Islam, terdapat konsep musyawarah. Jika terdapat perbedaan di antara berbagai individu atau kelompok, maka hendaknya diselesaikan melalui musyawarah. Oleh karena itu, adanya perbedaan tidak perlu dikhawatirkan dan apalagi dijadikan sesuatu yang menakutkan. Adanya peredaan jika dikelola secara tepat, maka justru akan menjadikan masyarakat semakin dewasa dan dinamis.
Demikian pula perbedaan di dalam partai politik. Perbedaan di dalam masing-masing partai politik, seharusnya tidak sekedar dilihat dari nama dan bentuk simbol-simbolnya, melainkan yang lebih penting adalah terkait idiologinya. Berangkat dari perbedaan idiologi tersebut, maka masing-masing partai politik betul-betul berbeda secara mendasar dan itulah yang menjadi pilihan untuk diperjuangkan. Idiologi selalu menjadi kekuatan atau ruh dari masing-masing partai politik. Apapun bisa dikompromikan, tetapi tatkala menyangkut idiologi biasanya tidak mudah disatukan. Jika harus berkompromi maka biasanya dilakukan melalui saluran atau mekanisme yang disepakati bersama.
Mendengarkan uraian Wakil Presiden, bahwa antar partai politik dalam berbagai halnya sudah memiliki kesamaan hingga sulit dibedakan lagi, maka pertanyaannya adalah bagaimana menyangkut idiologi yang diperjuangkannya. Jika semua idiologinya sudah sama, maka tidak heran antara berbagai partai politik menjadi sangat prakmatis. Mereka bergabung dalam sebuah tempat atau organisasi partai politik bukan lagi untuk memperjuangkan idiologi, cita-cita, pandangan yang dianggap sebagai sesuatu nilai yang ideal, melainkan sekedar didasari oleh sesuatu yang sederhana, yaitu misalnya jabatan dan harta.
Memang di antara partai politik yang berbeda tidak perlu bermusuhan, tetapi dimungkinkan bersaing untuk mencari sesuatu yang terbaik. Dalam bahasa Islam disebut melakukan fastabiqul khairaat. Akan tetapi jika antar partai politik sudah sama, maka sebenarnya tidak menguntungkan dan bahkan tidak sehat. Aktifitas mereka bukan untuk mendapatkan pilihan terbaik demi kesejahteraan rakyat, tetapi sekedar agar supaya menjadi sama-sama memperoleh keuntungan. Yang terjadi kemudian adalah suasana manipulative, koruptif, dan transaksional. Maka seharusnya, partai politik tidak disamakan dengan keranjang, tetapi dimiripkan dengan sangkar burung. Bentuk dan ukurannya berbeda, oleh karena jenis burungnya memang benar-benar berbeda. Masing-masing partai politik seharusnya memiliki idiologi yang diperjuangkan dengan segala kekuatannya. Wallahu a'lam.



