Memposisikan Diri Sebagai Musuh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 6 Februari 2015 . in Dosen . 1900 views

Siapapun pada umumnya akan menjadikan orang lain sebagai pesaing, kompetitor dan atau bahkan musuhnya. Sekalipun sikap yang demikian itu sebenarnya tidak banyak membawa keuntungan, tetapi justru banyak dikembangkan. Sebaliknya, hal yang menguntungkan, yakni misalnya mencari mitra, sahabat, atau kawan untuk saling bekerjasama ternyata banyak ditinggalkan.

Persaingan dan bahkan juga konflik juga terjadi di dalam berbagai lapangan kehidupan, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain, dan bahkan tidak terkecuali adalah di dalam beragama. Orang beragama pada hakekatnya adalah agar memperoleh keselamatan dan kedamaian, baik di dunia maupun di akherat kelak. Akan tetapi pada kenyataannya, antar agama dan bahkan juga antar aliran, sekte, atau madzhab juga bersaing dan konflik untuk berebut pengaruh dan kemenangan.

Sudah diketahui secara gamblang bahwa bersaing, berebut pengaruh, dan apalagi konflik adalah hal yang membahayakan bagi semua. Namun, sepanjang sejarah kemanusiaan, hal demikian itu menjadi pemandangan yang tidak pernah berhenti. Dalam berekonomi atau berpolitik misalnya, persaingan itu adalah niscara. Sebab, masing-masing orang pasti menginginkan menang atau unggul. Maka, persaingan di dalam berpolitik dan berekonomi adalah wajar.

Namun terasa agak aneh, tatkala hal itu terjadi pada kehidupan beragama. Antar agama, sekte, aliran, madzhab terjadi saling bersaing, konflik, dan bahkan juga menyalahkan. Masing-masing mengklaim bahwa agama, sekte, alirannya sendiri yang dianggap paling benar, sedangkan yang lain dipandang salah. Anggapan yang demikian itu sebenarnya wajar, dan bahkan seharusnya seperti itu. Orang beragama harus meyakini terhadap kebenaran agamanya.

Hal yang tidak seharusnya terjadi adalah tatkala pemeluk agama, sekte, madzhab, atau aliran lain dianggap sebagai musuh, dan bukan sebaliknya diposisikan sebagai sasaran misi atau dakwahnya. Seseorang menganut agama tertentu, sebenarnya adalah, oleh karena sejak lahir hanya mengerti tentang agama yang dipeluknya itu. Sebaliknya, terhadap agama lain, mereka belum tentu paham. Bahkan, juga aneh, pada agamanya sendiri saja, seringkali tidak mengerti.

Sekalipun beragama dianggap penting, tetapi itulah yang terjadi, orang segera puas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Padahal dalam beragama, siapapun dituntut kualitas setinggi-tingginya. Memperbaiki diri sendiri sebenarnya adalah merupakan perjuangan yang tidak mudah. Kesulitan itu disebabkan oleh karena dirasa keberagamaannya telah sempurna, walaupun sebenarnya masih jauh dari ukuran ideal. Memang aneh, orang bukan berusaha memperbaiki dirinya sendiri, melainkan ingin meningkatkan kualitas orang lain. Itulah sebenarnya salah satu akar konflik di dalam bergama. Orang tidak sibuk mengurusi diri sendiri, tetapi ingin memperbaiki keberagamaan orang lain.

Fenomena lain adalah ada saja anggapan bahwa orang lain diposisikan sebagai musuhnya. Padahal sebenarnya, pihak yang justru lebih tepat dianggap musuh, adalah dirinya sendiri. Tatkala seseorang mendengar panggilan adzan, tetapi tidak segera bangkit untuk mendatanginya, maka sebenarnya ia sedang berperang dengan dirinya sendiri itu. Demikian pula, tatkala ada seruan untuk menyantuni orang miskin dan anak yatim, membangun lembaga pendidikan, berlaku jujur, adil, tidak mengembangkan permusuhan, dengki, dendam dan seterusnya, namun selalu merasa berat mengikuti seruan itu, maka sebenarnya pada diri seseorang tersebut sedang bersarang musuh agama yang sebenarnya.

Musuh dalam menjalankan kehidupan yang sebaik-baiknya, dan tidak terkecuali dalam menjalankan agamanya, adalah sangat mungkin datang dari dirinya sendiri. Di negeri kita ini, tidak ada larangan shalat lima waktu berjama'ah di masjid, menjalankan puasa di bulan ramadhan, beramal shaleh, dan seterusnya, akan tetapi ternyata tidak sedikit orang yang meninggalkannya. Hal yang demikian itu menunjukkan bahwa musuh yang sebenarnya adalah berada pada dirinya sendiri. Namun, memerangi musuh yang datang dari diri sendiri itu ternyata jauh lebih berat, dan bahkan tidak seberat tatkala musuh itu datang dari luar dirinya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up