Dalam sebuah diskusi kecil, seseorang menunjukkan kekagumannya terhadap oran-orang Yahudi. Disebutkan bahwa orang Yahudi adalah cerdas, berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mereka menang dalam berbagai kompetisi di dunia ini. Oleh karena itu, sebenarnya mereka itulah sebenarnya yang sedang menguasai dunia ini.
Namun sudah barang tentu, pernyataan itu menjadikan peserta diskusi lainnya tidak menyukai. Disebutkan bahwa orang Yahudi adalah penindas, dan merampas hak-hak orang lain. Bangsa-bangsa di dunia ini sebenarnya telah diperdaya oleh orang-orang Yahudi. Kemiskinan dan penderitaan yang dialami oleh berbagai bangsa, dan apalagi umat Islam adalah merupakan akibat ulah orang Yahudi.
Namun orang yang mengagumi terhadap Yahudi tidak juga segera menyerah. Mereka berpendapat bahwa orang Yahudi menjadi pintar, cerdas dan cerdik, oleh karena selalu brush menggunakan potensi yang ada pada dirinya. Sementara itu, orang yang terkalahkan, terpedaya, dan atau dirugikan oleh orang Yahudi hanyalah karena mereka tidak maksimal dalam memanfaatkan potensi yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya.
Oleh karena itu, kesalahan itu sebenarnya bukan terletak pada orang yang mengalahkan atau memperdayakan, melainkan oleh kesalahannya sendiri. Otak dan atau pikiran yang dikaruniakan kepadanya tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kekuatan yang sangat berharga yaitu pikiran mereka tidak dikembangkan maksimal. Oleh karena itu, mereka menjadi kalah dan terperdaya itu.
Pengagum Yahudi mengatakan bahwa dalam hidup di dunia ini tidak mungkin terbebas dari kompetisi. Persaingan adalah sebuah keniscayaan. Dalam persaingan itu siapa pun yang kuat, maka merekalah pemenangnya. Orang Yahudi telah memperkuat otaknya atau kecerdasannya. Berbekalkan kecerdasannya itu, mereka mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, persenjataan, kepemimpinan, manajemen, dan lain-lain.
Dalam sebuah perjalanan dari Amerika Serikat ke Jepang, pengagum Yahudi tersebut menceritakan bahwa, kebetulan saja ia duduk bersamaan dalam sebuah pesawat. dengan anak muda Yahudi. Dalam perbincangannya itu, ia mengetahui bahwa ternyata, orang Yahudi yang baru berumur 23 tahun tersebut memiliki aktivitas perdagangan antar negara. Ia memasarkan permainan, berupa robot ke berbagai kota besar di dunia. Ia juga mendapatkan informasi bahwa 80 % orang Yahudi memiliki aktifitas ekonomi serupa itu, artinya mereka berdagang ke seluruh dunia.
Akhirnya, orang Indonesia ini menangkap pengertian bahwa, seharusnya umat Islam memiliki kemampuan atau kapabilitas seperti orang Yahudi itu. Agar umat Islam tidak miskin, tertinggal, dan selalu diperdaya oleh orang lain, maka seharusnya mengembangkan pikiran dan kecerdasannya secara masksimal. Kaum muslimin menjadi miskin dan tertinggal, sebenarnya adalah merupakan bukti atau wujud dari kekalahannya di dalam bersaing dengan orang lain.
Padahal al Qur'an memberikan petunjuk, bahwa manusia senantiasa menggunakan kekuatan pikirannya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga semaksimal mungkin. Islam tidak pernah melarang manusia mengembangkan ilmu pengetahuan, dan justru sebaliknya, yaitu mendorong agar mencari ilmu pengetahuan hingga kemana saja. Mencari ilmu merupakan kewajiban, mulai dari ayunan hingga masuk liang lahat. Persoalannya adalah perintah itu tidak selalu dijalani secara maksimal. Sementara itu, orang Yahudi menjalankan konsep itu dan akhirnya, merekalah pemenangnya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas kaum muslimin, agar mereka selamanya tidak kalah dan menjadi kaum lemah, maka tidak ada jalan lain, kecuali harus membenahi pendidikan dan piranti pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Umat Islam disebut sebagai umat terbaik, beriman dan beramal shaleh, serta disebut sebagai pewaris dunia ini. Untuk mewujudkan konsep besar itu, yankni unggul dalam pentas kehidupan ini, maka seharusnya ada kemauan keras untuk selalu berpikir besar, berjiwa besar, serta berpandangan luas, sehingga tidak mudah dikalahkan oleh kekuatan manapun. Wallahu a'lam.



