Menjadi Seorang Tokoh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 4 Februari 2015 . in Dosen . 3793 views

Ada saja orang yang bertanya tentang bagaimana seseorang bisa muncul menjadi tokoh atau ditokohkan di tengah masyarakat. Pertanyaan semacam itu sebenarnya sudah banyak teori yang menjawabnya. Buku-buku yang membahas tentang kepemimpinan biasanya mengulas tentang hal itu. Tulisan sederhana berikut ini tidak akan menambah teori tersebut, tetapi sekedar melengkapi apa yang sudah banyak ditulis itu.

Hal yang sekiranya bisa diamati oleh siapapun, bahwa biasanya seorang yang sehari-hari dekat dengan penyanyi maka sangat mungkin suatu saat menjadi penyanyi. Demikian pula orang yang sehari-hari dekat dengan orang politik, pedagang, pengrajin, peternak, pendidik dan lain-lain juga akan sangat mungkin memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang bidang-bidang yang dimaksudkan tersebut, dan pada suatu saat akan menyenangi dan bahkan akan menirunya.

Oleh karena itu, seseorang yang berkeinginan agar kelak menjadi seorang tokoh, maka seharusnya bergaul dengan jenis tokoh yang diinginkan itu. Dalam kehidupan ini ada berbagai jenis tokoh, misalnya tokoh agama, tokoh politik, tokoh pendidikan, ekonomi, penulis, dan masih banyak lagi lainnya. Orang yang selalu bergaul dengan para tokoh itu, maka lama kelamaan akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi dari tokoh yang kebetulan dekat dengannya itu.

Dulu ketika masih muda, saya mengidolakan dua tokoh, yang sama-sama memimpin perguruan tinggi. Kedua tokoh yang saya maksudkan itu adalah Prof.Dr. Amiruddin, Rektor Universitas Hasanuddin Makassar dan Prof.Dr. Ibrahim Hasan, Rektor Universities Syiah Kuala Banda Aceh. Baik Prof Dr. Amiruddin maupun Prof. Dr. Ibrahim Hasan, menurut penglihatan saya adalah orang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas tentang pengembangan perguruan tinggi. Penyebutan kedua nama tersebut, oleh karena kebetulan, saya sering ketemu dengan kedua tokoh tersebut dan menyaksikan sendiri kebijakan-kebijakannya yang saya anggap amat tepat dan strategis dalam mengembangkan kampus yang dipimpinnya.

Salah satu contoh kebijakan Prof. Dr. Amiruddin yang saya sebut tepat dan strategis, di antaranya ialah dalam pengembangan kampus. Dulu, kampus Universitas Hasanudin berada di tengah kota yang tidak begitu luas. Pada saat beliau menjadi rektor, kampus itu dipindah ke luar kota di lahan yang amat luas, yakni sekitar 400 hektar. Sekalipun kampus baru itu seperti berada di tengah hutan, namun beberapa tahun kemudian dan bahkan sekarang ini sudah berada di tengah kota lagi. Terasa sekali bahwa Prof. Amiruddin memiliki kemampuan untuk melihat masa depan sedemikian jelas.

Namun sayangnya, kedua tokoh yang sukses dalam mengembangkan perguruan tinggi tersebut ternyata memperoleh amanah lain dari pemerintah di luar kampus. Prof.Dr. Amiruddin ditunjuk menjadi Gubernur Sulawesi Selatan dan Prof. Dr. Ibrahim Hasan menjadi Gubernur Aceh. Melihat kehebatan kedua guru besar tersebut, saya pada saat itu membayangkan bahwa kedua perguruan tinggi negeri,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up