Berjarak Antara Pengetahuan Dan Perilaku Sehari-hari
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 3 Maret 2015 . in Dosen . 2444 views

Banyak orang kecewa tatkala melihat orang yang dipandang memiliki kekayaan pengetahuan, namun ternyata tidak menjalaninya dengan baik. Dibayangkan bahwa orang yang mengerti agama misalnya, akan menjalankan ajaran itu sepenuhnya. Tetapi ternyata, apa yang dibayangkan itu tidak seluruhnya berhasil dibuktikan. Banyak penganut agama, dan bahkan hingga pemukanya sekalipun, perilakunya masih berbeda dari ajaran agama yang diyakininya.

Melihat kenyataan itu banyak orang menjadi kecewa. Apa yang diharapkan ternyata tidak terbukti. Namun kekecewaan itu sebenarnya tidak perlu terjadi, oleh karena apa yang dianggap sebagai sesuatu yang ideal oleh seseorang dalam hal apa saja tidak selalu sejalan dan atau seiring dengan apa yang sebenarnya akan dilakukan. Seseorang yang sudah sekian lama mengajarkan nilai-nilai, misalnya pancasila, nasionalisme, kebangsaan, ternyata juga belum tentu mereka mampu bersikap dan berperilaku sebagaimana yang diajarkan itu.

Demikian pula menyangkut agama. Terdengar berita tentang banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh orang yang selalu menjelaskan tentang norma-norma agama yang seharusnya dijadikan pedoman itu. Memang seorang agamawan, polisi, jaksa, hakim, pejabat KPK, dan lain-lain seharusnya tidak boleh melanggar nilai-nilai atau peraturan yang sehari-hari mereka tegakkan. Akan tetapi pada kenyataannya betapa banyak hakim, jaksa, polisi, dan bahkan pejabat KPK sendiri diadili oleh karena melakukan penyimpangan, dan akhirnya juga dipenjara.

Jarak antara pengetahuan dan perilaku sehari-hari ternyata terjadi di berbagai bidang kehidupan dalam hal apa saja. Sebagai contoh lainnya, seorang guru tidak jarang melakukan perbuatan yang jauh dari watak ideal guru. Bahkan hal yang lebih sederhana lagi, seorang petani, peternak, nelayan, dan lain-lain juga tidak selalu menjalankan konsep kehidupan sehari-hari sebagaimana yang diketahuinya. Atas kenyataan itu, sementara orang menyebut, bahwa banyak terjadi semacam pengkhianatan terhadap ilmu dan profesinya sendiri.

Maka dari itu, dalam Islam diingatkan lewat sebuah konsep yang amat penting dan harus dijadikan pegangan, yaitu keharusan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Mereka yang melupakan dan apalagi meninggalkan peringatan itu, maka hidupnya akan merugi. Namun, konsep itu ternyata tidak banyak dijalankan. Dalam pemberantasan korupsi misalnya, mengetahui bahwa seseorang pemimpin atau pejabat melakukan korupsi, yang bersangkutan tidak diperingatkan, melainkan ditunggu hingga buktinya cukup agar kemudian boleh ditangkap dan dipenjarakan.

Konsep yang sedemikian indah, yaitu agar saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran itu seharunya dijalankan oleh semua kalangan, agar sesama saudara, sesama anak bangsa, sesama pemimpin, tokoh, dan juga pemuka agama tidak saling menjatuhkan. Dalam kehidupan ini ada sesuatu yang disebut aib, ialah sesuatu yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Jika aib itu dibuka justru akan merugikan banyak orang. Rupanya pada akhir-akhir ini, orang justru lebih suka membuka aib dan bahkan aib yang ada pada diri pemimpin atau tokohnya sendiri. Akibatnya, tidak ada lagi kewibawaan, banyak orang kecewa, marah, frustasi, dan lain-lain.

Memang, antara pengetahuan seseorang dan apa yang dilakukan sehari-hari seharusnya sama atau sejalan. Akan tetapi gambaran ideal seperti itu sangat sulit ditemukan, kecuali kehidupan para rasul atau nabi. Manusia biasa, sebagaimana ciri yang disandangnya adalah tempatnya salah dan lupa, sehingga gambaran ideal itu sulit ditemukan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan agar antar sesama selalu saling mengingatkan, menasehati, dan berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran, apalagi bagi para tokoh dan juga pemimpin. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up