Ternyata tidak semua orang mampu mengerjakan sesuatu secara istiqomah. Shalat malam misalnya, kadang dikerjakan dan kadang dalam waktu lama ditinggalkan. Demikian pula menulis, bersedekah, menyantuni anak yatim, datang ke masjid untuk shalat berjama'ah tepat waktu, dan lain-lain, bagi seseorang masih dianggap berat.
Tidak berarti bahwa orang yang tidak beristiqomah menghendaki yang demikian itu. Mereka menginginkan agar dirinya bisa berhasil menjalankan kebaikan itu seacvara terus menerus. Mereka juga meyakini bahwa istiqoimah iu adalah tuntutan yang harus dipenuhi. Kadang bahkan, seseorang merasa iri tatkala melihat orang lain mampu melakukan sesuatu kebaikan secara istiqomah itu.
Bosan, tidak bersemangat, dan terasa berat itulah sebenarnya yang menjadikan seseorang meninggalkan aktifitas yang dianggap baik. Untuk meninggalkan sesuatu yang sebenarnya disukai itu, pada awalnya didasarkan pada alasan yang bisa diterima. Misalnya, lagi capek, badannya kurang sehat, ada pekerjaan lain yang dianggap lebih penting sehingga tidak bisa ditinggalkan, dan lain-lain. Maka, lama kelamaan, tanpa alasan apapun kegiatan yang seharusnya dijalankan ditinggalkan dengan mudah.
Ada saja mahasiswa yang datang menemui saya hanya bermaksud menanyakan hal sederhana, yaitu bagaimana agar bisa istiqomah di dalam menjalankan sesuatu yang dianggap baik. Mungkin saja mahasiswa itu mengira bahwa saya bisa menjalankan banyak hal secara istiqomah. Padahal, yang sebenarnya adalah tidak selalu demikian itu. Banyak hal yang saya lakukan secara tidak istiqomah, yaitu kadang-kadang mengerjakan, dan kadang-kadang pula sebaliknya, saya tinggalkan.
Hanya dalam menulis saja, saya menjalankannya agak istiqomah. Sudah hampir genap tujuh tahun, pada setiap pagi, saya menulis apa saja yang sedang saya pikirkan, dan pada waktu itu hal dimaksud saya angap penting. Oleh karena telah menjadi kebiasaan itu, maka pekerjaan itu tidak terasa sulit. Biasanya, duduk di hadapan komputer, lalu memulainya menulis. Yaitu, menulis apa saja yang terlintas di dalam pikiran.
Mahasiswa yang datang itu kadang juga mengajak berdiskusi. Mereka mengira bahwa istiqomah itu ada guru atau sekolahnya. Padahal sekolah atau guru tentang istiqomah itu tidak ada. Di sekolah, para siswa memang dibiasakan untuk berdisiplin, mengerjakan tugas secara mandiri, bertanggung jawab, dan lain-lain. Cara-cara itu memang bermaksud membiasakan, agar para siswa kelak bisa melakukan kebiasaan itu secara konsisten.
Seseorang agar bisa menjalankan kegiatan secara istiqomah sebenarnya tidak perlu persyaratan tertentu, misalnya harus cerdas. Bukan begitu. Siapapun bisa menjalankan sesuatu secara istiqomah asalkan mau. Bahkan jika kita mengamati kehidupan berbagai jenis binatang, maka justru kerbau yang dikenal bodoh dan lamban, adalah jenis binatang yang paling istiqomah dalam menjalankan kegiatannya.
Kerbau tatkala sedang berada di kandangnya tidak pernah berak dan juga kencing di sembarang tempat. Baik tempat dan waktunya selalu tepat. Begitu pula, kawanan kerbau yang melewati jalan yang berulang-ulang pada setiap hari, sekali di tempat itu membuang kotoran, maka pada hari-hari berikutnya akan melakukan hal yang sama. Itulah kerbau, binatang yang mengajari makhluk lain untuk beristiqomah.
Saya kadang berpikir, kerbau saja yang bodoh bisa beristiqomah, mengapa manusia yang disebut sebagai makhluk yang cerdas, pintar, dan dimuliakan, tetapi tidak mampu menjalankannya. Siapapun tidak akan mau disebut lebih rendah dibanding kerbau. Tetapi, dalam beristiqomah, ternyata binatang itu lebih istimewa, buktinya mereka bisa menjalankan sesuatu secara istiqomah, yang oleh manusia pada umumnya disebut sangat berat itu. Maka sungguh benarlah, apa yang disebut di dalam al Qur'an, bahwa manusia itu bagaikan binatang, bahkan mereka lebih sesat. Wallahu a'lam.



