Setiap orang menginginkan hidup damai, termasuk kedamian hatinya. Orang tidak mau hidup gelisah, merasa terlalu terbebani, tertekan, diliputi oleh suasana keraguan, dan apalagi ketakutan. Orang menginginkan hatinya selalu tenang, tidak ada beban, lapang, dan merasa tidak ada yang mengganggu.
Banyak cara untuk memperoleh kedamaian itu, misalnya dengan datang ke tempat-tempat bisa menenangkan hati, bersilaturrakhiem ke para tokoh agama, pergi ke tempat ibadah untuk mendekatkan diri pada Tuhan, menjalankan berbagai jenis ritual, dan juga dapat pula melakukannya dengan cara berdzikir bersama-sama.
Pada akhir-akhir ini, di Malang raya, dan rupanya juga di tempat-tempat lain, muncul berbagai macam jama'ah dzikir yang ternyata menarik minat banyak orang. Di Malang saja sedikitnya ada tiga kelompok jama'ah dzikir, yaitu di jama'ah dzikir al Hikmah, jama'ah dzikir al Ridwan, dan Jama'ah Maulid wa Taklim Riyadul Jannah. Ketiga jama'ah dzikir itu memiliki ribuan pengikut, hingga puluhan dan bahkan ratusan ribu orang.
Hampir pada setiap minggu, jama'ah Maulid wa Taklim Riyadul Jannah mengadakan kegiatan di beberapa tempat. Ada kegiatan jama'ah dzikir untuk tingkat desa, tingkat kecamatan, dan tingkat lebih besar, yaitu Malang Raya yang meliputi Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Kegiatan dzikir pada level Malang raya biasanya diikuti hingga puluhan ribu jama'ah. Khusus pada Bulan Maulud, kegiatan dzikir itu dilakukan pada setiap malam, selama 40 malam berturut-turut, dengan mengambil tempat bergiliran dari satu kecamatan ke kecamatan berikutnya.
Ada hal yang menarik dalam kegiatan dzikir bersama itu. Beberapa kali, saya mencoba menggali informasi dari jama'ah yang ikut aktif dalam kegiatan tersebut ternyata mereka mengaku, bahwa hatinya merasa tenang dan memperoleh kedamaian dari mengikuti dzikir itu. Persoalan sehari-hari yang biasanya selalu dianggap membebani, dirasakan hilang ketika mereka mengikuti kegiatan itu. Dirasakan ada kenikmatan yang luar biasa tatkala secara bersama dengan ribuan jama'ah berdzikir di suatu tempat.
Pengalaman batin yang dimaksudkan itulah, yang menjadikan pada setiap ada kegiatan dzikir, sekalipun dilaksanakan di tempat yang jauh dan dalam keadaan hujan misalnya, mereka selalu datang. Dzikir bersama menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu, meskipun hanya dengan payung atau bahkan lebih sederhana,



