Kehilangan Akhlak Mulia
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 8 Maret 2015 . in Dosen . 1142 views

Dalam sebuah diskusi tentang pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, saya kebetulan diundang dan diminta untuk menjadi pembicara bersama Dr.KH Hasyim Muzadi. Dalam acara itu, yang diundang sebagai peserta tidak saja dari tokoh Islam, tetapi juga penganut agama lain, yaitu para pendeta, pedende, termasuk para biksu.

Sambil menunggu kegiatan itu dimulai, KH Hasym Muzadi yang kebetulan duduk berdekatan, membisiki saya tentang kesannya terhadap para tokoh agama yang berbeda-beda itu. Di antara para tokoh agama yang hadir, adalah para biksu yang mudah dikenali. Sebab, mereka mengenakan pakaian khas, yaitu kain berwarna kuning gelap, dan juga rambut mereka dipotong habis, atau gundul.

Para biksu itu menempati tempat duduk dalam satu deretan kursi berjajar. Agak aneh, dalam arti berbeda dibanding tokoh agama lainnya, para biksu itu biasanya tidak banyak berbicara. Pembicaraan mereka tampak terbatas, tidak sebagaimana peserta lainnya. Mungkin itulah cara hidup para biksu, yaitu serba membatasi diri pada hal yang tidak dianggap perlu.

Terkait dengan kehidupan para biksu, saya pernah mendapatkan penjelasan secara langsung dari pimpinan Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada saat itu, saya diundang untuk mengisi kuliah tamu yang diikuti oleh para pimpinan, dosen, dan mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Pada saat itu, saya diberi banyak penjelasan tentang kehidupan para biksu.

Dijelasan bahwa, para biksu sejak awal dididik dan dibiasakan selalu membatasi diri dari kesenangan hidup, seperti makan, pakaian, berbicara, dan lain-lain. Baju yang dimiliki oleh para biksu ternyata hanya cukup dua pasang saja, yakni satu dipakai dan satunya lagi digunakan untuk ganti, jika yang sedang dilekatkan pada badannya sudah kotor dan harus dicuci. Oleh karena itu, para biksu tatkala bepergian, mereka jarang sekali tampak membawa kopor besar.

Dalam berbisik itu, KH Hasyim Muzadi mengatakn bahwa, pada zaman dahulu, para tokoh atau ulama Islam juga memilih hidup sederhana. Tidak ada tokoh Islam yang menampakkan dirinya berlebih-lebihan, sehingga banyak penganut agama lain, atau bahkan mereka yang belum mengenal agama, menjadi bersimpatik, dan akhirnya terpengaruh, dan kemudian masuk Islam.

Para ulama dahulu,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up