Pada hari Selasa tanggal 3 Maret 2015, saya diundang oleh STAIN Lhokseumawe untuk membicarakan bersama tentang konsep pendidikan yang akan dikembangkan oleh perguruan tinggi Islam itu. Konsep itu memang penting untuk dirumuskan, agar semua orang memahami dengan baik. Tanpa rumusan konsep itu secara jelas, maka pendidikan yang dijalankan tidak akan fokus. Semua pihak akan menafsirkan sendiri-sendiri, sehingga akan melahirkan banyak tafsir.
Hal itu akan berbeda misalnya, ketika konsep itu telah dirumuskan secara jelas, sehingga arah dan gerakannya menjadi terfokus. Lembaga pendidikan apapun, sebenarnya bertujuan untuk melahirkan perilaku yang dianggap ideal. Oleh karena itu, masing-masing lembaga pendidikan seharusnya merumuskan perilaku ideal yang diinginkan itu. Atas dasar arah dan tujuan yang dirumuskan secara jelas itu, maka disusunlah tema pendidikan yang sedang dikembangkan, kurikulum, guru sebagai pendidiknya, penataan lingkungan, dan seterusnya.
Perlu diakui bahwa belum semua daerah memiliki lembaga pendidikan yang memadai, misalnya di daerah pedalaman, di pulau-pula kecil yang terasing, daerah pegunungan yang jauh, dan sebagainya. Namun sebenarnya tanpa lembaga pendidikan sekalipun, pembentukan perilaku akan tetap berjalan, ialah berlangsung secara alamiah, sesuai dengan lingkungannya. Anak-anak yang tumbuh dan berkembang di tempat-tempat yang belum tersedia lembaga pendidikan akan menyesuaikan dengan tantangan alamnya.
STAIN Lokhseumawe, sebagai lembaga pendidikan Islam yang belum begitu lama tumbuh, sebenarnya sudah memiliki konsep pendidikan Islam sebagaimana telah dijalankan selama ini. Pada kesempatan itu, saya menyampaikan bahwa sebenarnya konsep itu sudah ada. Namun belum terumuskan secara jelas. Konsep dimaksud masih terserak-serak di alam pikiran para tokoh dan pimpinan yang terlibat mengembangkan lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Tidak akan mungkin, para ulama atau teungku hingga mau berjuang dan sekaligus berkorban untuk melahirkan lembaga pendidikan Islam yang besar seperti STAIN Lhokseumawe itu tidak didasarkan pada konsep yang mulia dan jelas.
Oleh karena itu di dalam menyusun konsep dimaksud harus disesuaikan dengan cita-cita, pandangan, gambaran ideal yang dimiliki oleh para ulama, teungku, tokoh pendidikan Islam, dan bahkan masyarakat yang ada di Lokhseumawe. Para ulama, teungku, dan juga tokoh pendidikan pasti memiliki gambaran ideal yang ingin diwujudkan melalui lembaga pendidikan Islam di wilayah itu. Demikian pula, masyarakatnya, pasti menginginkan agar keberadaan lembaga pendidikan Islam dimaksud mampu menyelesaikan problem kehidupan di masa depan.
Berangkat dari pandangan dimaksud, maka konsep pendidikan Islam yang diinginkan itu perlu dirumuskan secara jelas. Melalui rumusan itu, maka siapapun akan mengerti, memahami, dan bahkan menghayati terhadap apa yang diperjuangkan hingga akhirnya akan melahirkan semangat untuk mewujudkannya secara bersama-sama. Tidak boleh keberadaan perguruan tinggi Islam di suatu tempat hanya sebatas meniru di tempat lain. Misalnya saja, berdirinya STAIN Lokhseumawe oleh karena di Aceh sudah ada IAIN atau UIN. Tetapi sebenarnya tidak begitu. Keberadaan perguruan tinggi Islam ini telah didasarkan pada filosofi yang jelas.
Pada kesempatan berdialog dalam merumuskan konsep pendidikan dimaksud, saya menanyakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh para ulama, teungku, dan masyarakat Lokhseumawe dari keberadaan perguruan tinggi Islam ini. Pertanyaan itu dijawab bahwa para ulama, teungku, dan tokoh di wilayah itu menginginkan agar melalui pendidikan tinggi Islam dimaksud lahir ilmuwan Islam yang berakhlak mulia, dan mampu mewujudkan kedamaian di Lokhsemawe dan Aceh pada umumnya. Selain itu diharapkan agar keberadaan lembaga pendidikan tinggi Islam mampu menjawab persoalan masyarakatnya, terutama terkait dengan tantangan ekonomi di masa depan.
Memalui diskusi yang agak panjang maka dilahirkan konsep, bahwa pendidikan Islam di Lokhseumawe ingin membangun masyarakat muttamaddien, yaitu masyarakat yang selalu termotoivasi dan bergerak untuk mewujudkan peradaban Islam yang sebenarnya. Masyarakat mutamaddien selalu disangga oleh kekuatan keilmuan yang kokoh, keadaban, dan kedamaian. Sedangkan masyaralkat yang mengedepankan ilmu, akhlak mulia atau keadaban, dan kedamaian, maka seharusnya semua warganya secara terus menerus mengembangkan tujuh sikap sekaligus, yaitu : (1) selalu mensucikan dirinya, (2) menebar kasih sayang, (3) menghiasi hati dengan sifat ikhlas, (4) visioner atau selalu berpandangan jauh ke depan, (5) semua aktivitasnya selalu dikaitkan dengan ibadah, (6) terbuka dan bahkan memiliki kesadaran terhadap betapa pentingnya petunjuk atau hidayah, dan (7) kesediaan mengikuti jalan sejarah orang sukses.
Perilaku ideal sebagaimana digambarkan tersebut akan dibentuk atau dibangun melalui pendidikan di STAIN Malikus Saleh, Lokhseumewe, yang kini sedang berbenah untuk menyongsong perubahan menjadi IAIN dan bahkan UIN. Untuk membentuk pribadi ideal tersebut, telah disadari tidak akan mungkin diraih hanya dengan pendekatan konvensional sebagaimana penyelenggaraan pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah apa yang disebut dengan Tarbiyah ar Rasul. Konsep pendidikan ini tidak mudah dilaksanakan, ialah melalui aktifitas : (1) thilawah, (2) tazkiyah, (3) taklim al Qur'an, dan (4) hikmah. Jika konsep ini berhasil dikembangkan, maka kehadiran lembaga pendidikan Islam di Lokhseumawe akan benar-benar menjawab tuntutan para ulama, para teungku, para tokoh, dan masyarakat pada umumnya. Wallahu a'lam



