Mempelajari Sains Agar Memperoleh Kekhusu'an Dalam Shalat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 30 Maret 2015 . in Dosen . 1380 views

Sudah sedemikian sering saya memperoleh keluhan dari banyak teman, mahasiswa, atau juga lainnya tentang betapa sulitnya menjalankan shalat secara khusu'. Mereka bukan tidak ingin shalat sekedarnya, tetapi benar-benar shalatnya itu bisa dijalankan secara khusu'. Namun untuk menjadi khusu' itu ternyata selalu dirasakan tidak mudah.

Banyak orang mengaku memiliki persoalan bahwa semula, mereka tidak merasa cerdas. Artinya tidak banyak memiliki imajinasi dan gagasan, akan tetapi ketika shalatnya sudah dimulai maka imajinasi atau gagasan itu justru muncul. Berbagai hal teringat semua ketika dalam shalat. Itulah sebabnya, mereka mengaku, bahwa pada waktu sedang shalat maka kecerdasannya menjadi tumbuh dan berkembang.

Lebih jelasnya, pertanyaan yang sering disampaikan kepada saya, bagaimana sebenarnya membangun kekhusu'an dalam shalat itu. Mungkin mereka mengira, selama ini saya bisa shalat dengan khusu'. Padahal sebenarnya sama saja. Saya sendiri juga kesulitan mendapatkan kekhusu'an dalam shalat itu. Kadang-kadang saja berhasil, tetapi lebih sering gagal. Maka, yang saya lakukan adalah sekedar berusaha, yaitu berusaha shalat secara khusu'.

Untuk menjawab pertanyaan dari banyak orang tersebut, saya mengajak kembali kepada penjelasan al Qur'an, bahwa kekhusu'an itu memang sulit dibangun. Tidak sembarang orang bisa meraihnya. Maka itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk selalu shalat malam. Dijelaskan bahwa pada shalat malam itulah lebih mudah diperoleh kekhusu'an. Namun juga begitu, untuk shalat malam secara istiqomah lagi-lagi tidak mudah. Lebih mudah mencari alasan untuk tidak shalat malam daripada menjalankan shalat malam itu sendiri.

Selain itu saya menjelaskan atas hasil renungan saya sendiri, bahwa manusia itu lebih mudah diajak untuk mengingat apa saja yang dekat, yang kecil, yang sederhana, yang ada pada kehidupan sehari-hari. Sementara itu, dalam menjalankan shalat, melalui apa yang harus dibaca, orang diajak untuk membayangkan tentang ke Maha Besaran Tuhan, tentang ke Maha Sucian, tentang ke Maha Muliaan Tuhan, tentang hari akher, tentang keselamatan bagi semua manusia, berbagi kasih sayang, dan seterusnya.

DI antara dua kekuatan yang saling tarik menarik itu, tentu orang akan lebih mudah terbawa pada hal-hal yang kecil, yang sederhana, yang mudah, dan yang bisa dilihat dan dirasakan, sehingga dengan begitu akan mengganggu kekhusu'an shalat itu. Persoalan-persoalan kecil dan sederhana itu, misalnya adalah tentang pekerjaan, keluarga, tentang uang, harta kekayaan, teman, jabatan, dan apalagi politik, tentau bagi yang berminat pada dunia politik.

Rupanya tarik menarik antara dua kekuatan, yaitu yang kecil, sederhana, dan yang serba bersifat kekinian, dengan persoalan yang amat besar, berjangka panjang, dan mulia itulah maka dimenangkan oleh yang kecil dan sederhana dimaksud. Kenyataan yang demikian itu menjadikan kebanyakan orang yang sedang shalat tidak berhasil melakukannya secara khusu'. Kecenderungan orang lebih pada sesuatu yang mudah, yang dekat, dan sederhana dibanding pada sesuatu yang amat berat dibayangkan, sehingga akhirnya shalat khusu' itu menjadi tidak mudah diraih.

Atas hasil perenungan itulah, maka tatkala suatu ketika saya ditanya tentang kegunaan mempelajari sains, yaitu ilmu fisika, kimia, biologi, sosiologi, astronomi, dan lain-lain bagi umat Islam, maka pertanyaan itu saya jawab, agar ketika shalat mereka menjadi semakin khusu'. Orang yang memahami dan mengingat kebesaran dan ke Maha Kuasaan Allah dari hasil mempelajari sains, maka akan menjadi modal bagi yang bersangkutan bisa shalat secara khusu'.

Para ulama, yaitu orang-orang yang kaya ilmu pengetahuan dan penghayatan tentang ciptaan Allah yang sedemikian dahsyat, maka akan mengantarkan yang bersangkutan menjadi semakin takut kepada-Nya. Perasaan bahwa dirinya amat kecil dan sedang berhadapan dengan Dzat Yang Maha Besar dan Mulia itulah yang menjadikan seseorang menjadi khusu'. Namun sayangnya, masih banyak lembaga pendidikan Islam belum menyadari terhadap betapa pentingnya mengkaji ciptaan Allah itu secara mendalam dan dilakukan secara terus menerus.

Banyak orang lebih tertarik mempelajari dan berdebat tentang Tuhan. Padahal, Tuhan sendiri tidak membolehkan manusia mempelajari tentang Dzat-Nya. Manusia hanya disuruh untuk mempelajari tentang ciptaan-Nya. Larangan itu pasti ada maksud, ialah oleh karena, manusia tidak akan mampu mengetahui hakekat Tuhan. Manusia cukup mengetahui saja nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang dijelaskan melalui kitab suci, dan juga mengenal lewat ciptaan-Nya. Insya Allah, dengan begitu, akan bisa meraih kekhusu'an di dalam shalat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up