Menikmati Shalat Maghrib Berjama'ah Di Pedesaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 22 Maret 2015 . in Dosen . 996 views

Kebetulan saja, dalam perjalanan ke pedesaaan untuk urusan takziyah, pada waktu maghrib, saya singgah di masjid untuk bergabung shalat berjama'ah. Pada saat itu, saya tidak saja berhasil menikmati keindahan kehidupan kaum musimin di pedesaan pada waktu shalat maghrib berjama'ah, tetapi juga kehidupan lainnya.

Tidak sebagaimana zaman dulu, kehidupan di pedesaan terkesan sederhana. Fasilitas kehidupan serba terbatas. Di daerah pedesaan pada zaman dulu tidak tersedia listrik sehingga di mana-mana gelap, jalan becek, dan tidak ada hiburan. Sekarang ini keadaannya sudah berbalik, sepanjang jalan sudah beraspal, kendaraan bermotor sudah tidak berbeda keadaannya dari di kota, listrik, TV, dan bahkan juga fasilitas internet.

Keadaan di pedesaan justru terasa lebih indah, apalagi pada waktu-waktu shalat berjama'ah. Orang-orang desa mengenal satu sama lain, oleh karena kegiatannya sehari-hari serupa, misalnya sebagai petani, pedagang, beternak, atau lainnya. Kehidupan di desa lebih tampak guyub dan satu sama lain masih saling mengenal. Hal yang amat berbeda dari kehidupan di perkotaan adalah soal komunikasi. Di kota kadang antar tetangga tidak saling mengenal, dan bahkan antar rumah dipisahkan oleh tembok atau pagar yang tinggi.

Di lingkungan yang saya singgahi dalam perjalanan itu, rupanya semua muslim. Tatkal dikumandangkan suara adzan, para ibu baik tua atau muda berpakaian mukena mendatangi masjid. Begitu pula bapak-bapak dengan pakaian sarung, baju koko, dan berfkopyah, menunju tempat adzan yang dikumandangkan. Rupanya sudah menjadi hal rutin, pada setiap sore, menjelang maghrib dan subuh di pagi hari, masyarakat di sekitar masjid itu bertemu untuk menjalankan shalat berjama'ah.

Persaingan di antara orang-orang desa dalam hal apa saja pasti ada, tetapi mereka biasanya lebih arif, mampu menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh ditampakkan. Menjaga harmoni bagi orang desa lebih diutamakan daripada berambisi untuk menjadi paling unggul. Manakala ada sesuatu yang tidak disenangi, bukan ditampakkan, melainkan justru ditutup-tutupi, agar tidak menganggu orang lain. Orang desa lebih suka menampakkan yang dirasakan baik untuk semua.

Di desa yang kebetulan ada masjidnya yang cukup besar itu ternyata ada dua organisasi keagamaan yang sama-sama tumbuh dan berkembang, yaitu NU dan Muhammadiyah. Akan tetapi, hal yang perlu diapresiasi dan dihargai, bahwa keduanya tidak mempersoalkan cara beribadahnya. Orang NU dan Muhammadiyah sehari-hari shalat berjama'ah di satu masjid secara bersama-sama. Bahkan, ketika ada tahlilan, kenduri, dan semacamnya, baik orang NU maupun yang Muhammadiyah diundang dan juga datang.

Keindahan di pedesaan itu juga tampak dari kegiatan ekonominya. Mungkin saja harga beras, sebagaimana dirasakan di tempat lain, di desa itu juga semakin naik, tetapi keluhan itu tidak dirasakan. Kebetulan, pada saat sekarang ini sedang waktunya musim buah. Durian, manggis, rambutan, pisang, dan lain-lain sedang berbuah. Tampak masing-masing rumah tangga memiliki berbagai jenis buah yang ditanam di sekitar lingkungan rumahnya. Dari luar tampak, seakan-akan hidup di desa, orang tidak menanggung beban yang berlebih-lebihan.

Walaupun sebentar dan hanya pada waktu ikut shalat berjama'ah maghrib itu, saya ikut menikmati keindahan hidup di pedesaan. Hiruk pikuk terkait politik, perebutan kekuasaan, berita tentang korupsi, penyimpangan proyek, dan lain-lain yang menyesakkan dada, tidak terdengar dan juga tidak dirasakan oleh orang desa. Sehari-hari orang di desa bekerja untuk mencari rizki, sholat berjama'ah di masjid, dan berusaha menjalin komunikasi dengan sesama sebaik-naiknya.

Bagi orang-orang yang pandai bersyukur, maka keadaan seperti digambarkan itulah yang dirasakan membahagiakan. Mereka pada setiap hari bisa datang ke tempat ibadah untuk shalat bersama-sama, di antara mereka saling mengenal, menghormati, menghargai, berbagi kasih sayang, dan bertolong menolong. Demikian pula, dalam batas-atas tertentu, kebutuhan ekonomi bisa tercukupi. Kendaraan bermotor di pedesaan sudah bukan barang asing lagi. Televisi, dan bahkan juga sarana hiburan lainnya telah banyak dimiliki oleh orang desa. Kehidupan di pedesaan, ternyata menyenangkan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up