Muslim yang beridentitas apa dan di mana pun, mengakui bahwa yang diikuti adalah Muhammad saw., pembawa risalah Islam dengan kitab suci al Qur'an. Tidak pernah ada seorang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak megakui dan mengikuti ajaran Rasulullah. Mereka juga mengakui, bahwa Islam adalah agama pembawa kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan. Al Qur'an juga diyakini mengajarkan atas pentingnya kasih sayang, saling menghargai, menghormati, dan betapa pentingnya saling bekerjasama.
Antar sesama, menurut ajaran Islam yang diyakini melalui kitab suci al Qur'an, tidak boleh bermusuhan, saling membenci, menghujat, mengolok-olok, iri hati, dengki, dan bahkan sekedar menggunjing atau menghibah. Manakala di antara kedua belah pihak saling bermusuhan maka harus segera berislah atau menyambung hubungan baik kembali, dan saling memaafkan. Tatkala terjadi perbedaan pendapat dan tidak berhasil kompromi, maka diajarkan agar segera kembali kepada kitab suci dan ajaran yang diberikan oleh nabi.
Islam menutup rapat-rapat kemungkinan mungculnya orang saling bertikai dan saling bermusuhan, apalagi saling bunuh membunuh. Oleh karena itu, pelajaran tentang Islam baik di pesantren, di madrasah dan di sekolah-sekolah di berbagai jenjang adalah di antaranya tentang kedamaian itu. Bahkan umat Islam tidak saja sekedar diharuskan berdamai tetapi juga hingga bergotong royong di dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup, tidak terkecuali dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Diajarkan kepada kaum muslimin agar mengeluarkan zakat, infaq, shadaqoh, waqaf, hibah, dan lain-lain.
Sampai pada kehidupan yang menyangkut pribadi, Islam mengajarkannya agar terbangun hubungan yang harmoni. Pernikahan, hubungan antara keluarga, hingga menyangkut waris diajarkan oleh Islam. Tidak semua orang boleh dinikahi, tetapi diseleksi atas pertimbangan hubungan keturunan, dan juga keyakinannya. Semua itu, jika dilihat dari hikmahnya, adalah sebagai bagian dari upaya membangun kedamaian. Demikian pula tentang waris. Antar keluarga bisa menjadi retak disebabkan oleh pewarisan harta, maka Islam mengaturnya secara rinci dan jelas, siapa memperoleh berapa bagiannya.
Selain itu, penghormatan kepada orang, bukan sebatas ketika masih hidup, melainkan hingga ketika sudah meninggal. Orang yang mati sekalipun maka harus dihormati, hingga Islam memberikan tuntunan merewat jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, mensholatkan, hingga memakamkannya. Bahkan Islam juga mengajarkan tentang kewajiban anak terhadap kedua orang tuanya dan bahkan kepada semua kaum muslimin. Setidak-tidaknya, seorang anak harus selalu mendoakan kepada kedua orang tuanya. Begitu pula, sesama muslim, supaya menjalin komunikasi dengan doa. Nabi Muhammad sudah wafat hingga lebih dari 14 abad, namun masih ada tuntunan untuk kontak, setidaknya, melalui bacaan shalawat yang dibaca pada setiap saat.
Atas penjelasan tersebut, maka menjadi tidak gampang memahami terhadap adanya garis keras dalam Islam, yang pada akhir-akhir ini di antaranya menyebut dirinya dengan gerakan ISIS. Mereka menganggap kelompok lain sebagai kafir, padahal sumber ajarannya adalah sama, yaitu al Qur'an dan hadits nabi. Pertanyaan yang tidak mudah dijawab adalah mengapa ajaran yang berasal dari sumber yang sama tetapi melahirkan kelompok yang berbeda dan bahkan antar mereka saling bermusuhan. Kelompok yang tidak sama pemahamannya dianggap musuh dan boleh dimusnahkan. Padahal ajaran Islam, sebagaimana diterangkan secara singat di muka, memberikan tuntunan agar di antara sesama harus saling membangun komunikasi, saling memahami, menghormati, menjalin kasih sayang, dan bekerjasama atau bertolong menolong.
Pertanyaan tersebut biasanya dijawab bahwa, hal itu disebabkan oleh karena pemahaman terhadap Islam masih terbatas. Atau, menduga bahwa ada kekuatan lain yang menjadikan mereka bertikai. Namun jawaban itu terbantah dengan sendirinya tatkala melihat kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa umat Islam memang tidak jarang terlibat perseteruan hanya karena soal sederhana. Misalnya, sekedar menyamakan jatuhnya awal puasa atau hari raya, pada setiap tahun, harus membuang energi dan biasanya juga tidak selalu berhasil. Contoh lainnya, hanya sekedar menentukan tempat shalat Id, tidak berhasil kompromi, yaitu sebagian mengambil tempat di masjid dan sebagian lain di tanah lapang. Perbedaan itu menjadi semakin tajam di antara kelompok madzhab yang berbeda. Oleh karena dianggap tidak mungkin dipersatukan, sehingga akhirnya masing-masing mencari pembenar bahwa perbedaan itu adalah rakhmat.
Jika diamati secara saksama, perbedaan yang amat sulit dipertemukan itu adalah menyangkut hal yang terkait dengan kegiatan ritual, seperti tentang dzikir, shalat, zakat, puasa,haji, dan sejenisnya. Hal lain adalah menyangkut keyakinan atau aqidah. Oleh karena yang diperdebatkan itu menyangkut keyakinan dan atau kegiatan ritual sehingga tidak mungkin bisa diuji atau diverifikasi maka perbedaan itu tidak pernah berakhir atau bisa dipertemukan. Semua mengklaim bahwa pendapatnya adalah yang paling sahih. Bersumber dari sikap seperti itulah, maka terjadi ketegangan. Sementara itu, ketegangan tersebut tidak akan bisa dipadamkan oleh karena tidak akan mungkin dicari bukti terhadap pihak mana yang paling benar itu. Semua berebut tentang rahasia Tuhan. Padahal seharusnya diyakini bahwa diterima atau ditolaknya sebuah kegiatan ritual adalah hanya Tuhan sendiri yang tahu. Selainnya, apalagi manusia biasa tidak akan mengerti.
Melihat kenyataan seperti itu, jika dibolehkan untuk berpendapat, bahwa umpama Islam dipahami dari berbagai aspek yang luas, dalam arti tidak sebatas pada aspek kegiatan ritual, tetapi juga aspek lainnya, maka ketegangan itu mungkin akan menjadi berkurang. Berbicara Islam misalnya adalah berbicara tentang ilmu pengetahuan, tentang kualitas kehidupan, tentang keadilan, tentang amal shaleh, dan lain-lain, -------dan tentu tidak mengesampingkan kegiatan ritualnya, sehingga andaikan ada perbedaan, maka berbagai pandangan itu akan bisa diuji atau diverifikasi. Berdiskusi tentang ilmu, tentang kualitas manusia, keadilan, dan lain-lain, maka bisa dilihat dan diukur kekuatan argumentasi dan juga data yang digunakannya. Jika hal itu yang terjadi, maka perbedaan akan benar-benar membawa rakhmat. Sebaliknya, jika yang diperdebatkan sebatas menyangkut keyakinan dan berbagai jenis kegiatan ritual, maka hingga kapan pun tidak akan diperoleh titik temu, dan akibatnya akan terjadi beraneka ragam kelompok, di antaranya adalah kelompok yang bergaris keras, hingga tidak mudah disatukan itu. Wallahu a'lam.



