Persatuan Dalam Perbedaan Keyakinan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 18 Maret 2015 . in Dosen . 5400 views

Islam mengajarkan agar umat manusia bersatu. Ayat al Qur'an yang mengajarkan tentang persatuan itu adalah sangat jelas. Demikian pula, dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad juga mengajarkannya. Nabi juga membuat piagam Madinah untuk mempersatukan penduduk yang berbeda-beda di wilayah itu. Persatuan dalam Islam adalah ajaran yang amat mendasar yang seharusnya ditunaikan.

Namun rupanya ajaran Islam tentang persatuan itu tidak mudah diimplementasikan. Jangankan antara keyakinan yang berbeda, sementara itu, antara sesama kelompoknya saja ternyata persatuan itu tidak mudah diwujudkan. Sangat sulit mencari contoh komunitas yang benar-benar bersatu, dan begitu sebaliknya, betapa mudah mendapatkan kasus-kasus tentang konflik atau perpecahan. Apalagi pada akhir-akhir ini, perpecahan atau perseteruan terjadi di mana-mana.

Sekalipun persatuan itu amat sulit dilakukan, tetapi tidak berarti bahwa hal itu tidak pernah ada. Persatuan itu jelas ada dan bisa diwujudkan, tetapi memang sangat jarang terjadi, apalagi persatuan di antara dua kelompok yang berbeda keyakinannya. Kebetulan saya pernah menemukan dua kelompok yang berbeda keyakinanya, yaitu antara penganut sunny dan syi'ah yang berada di satu wilayah, ternyata juga bisa bersatu.

Wilayah perkampungan yang dihuni oleh dua kelompok yang berkeyakinan berbeda itu adalah bernama Khurazan. Daerah itu berada di arah Timur kota Teheran, berdekatan dengan Thus, yakni tempat kelahiran dan wafatnya ulama besar, yaitu Imam al Ghazali. Untuk menuju Khurazan, dari Teheran naik pesawat terbang selama kurang lebih satu jam ke kota Masyhad. Selanjutnya dari kota itu berkendaraan darat kira-kira selama 4 jam akan nyampai di wilayah yang dimaksudkan itu.

Dua komunitas yang berkeyakinan berbeda itu, masing-masing memiliki masjid dan juga lembaga pendidikan, semacam pesantren. Tatkala berkesematan berkunjung ke tempat itu, saya mendapatkan keterangan yang cukup menarik tentang kedua kelompok itu di dalam membina atau merawat persatuan. Mereka berkeyakinan bahwa persatuan adalah ajaran yang seharusnya ditunaikan, sekalipun di antara pihak-pihak yang berbeda dalam keyakinannya.

Untuk menjaga persatuan itu, di antara mereka saling bersillaturrahmi. Tatkala di antara mereka kedatangan tamu penting dari luar wilayah itu, selalu berusaha untuk saling mengundang. Demikian pula, ketika saya berkunjung ke lembaga pendidikan yang dikelola oleh kelompok Sunny, maka ulama Syi'ah juga dihadirkan untuk bersama-sama menjambut dan berdialog. Rupanya, di antara mereka sudah terbiasa dengan perbedaan itu. Namun persatuan tampaknya telah dirasakan menjadi kebutuhan bersama.

Hal yang menarik, sekalipun hal itu hanya saya dapatkan dari keterangan lisan, bahwa pada acara-acara tertentu, misalnya dalam memperingati maulud Nabi, mereka saling mengundang. Kebetulan keyakinan tentang hari lahir Nabi Muhammad di antara kedua madzhab itu berbeda. Sy'ah meyakini bahwa hari lahir Nabi Muhammad jatuh pada tanggal 17 Rabi'ul Awwal, sementara itu kaum Sunny berkeyakinan jatuh pada tanggal 12 pada bulan yang sama. Oleh karena itu, di antara kedua kelompok yang berbeda madzhabnya itu memperingati pada tanggal yang berbeda pula.

Melihat kenyataan itu, persatuan memang amat sulit dilakukan, tetapi ternyata masih bisa diwujudkan. Rupanya, perstuan harus menjadi kebutuhan bagi semua pihak. Kebutuhan untuk bersatu harus menjadi landasannya. Manakala hal itu terjadi, maka seberat apapun usaha itu bisa diwujudkan. Sebaliknya, jika yang dibutuhkan adalah keunggulan dan apalagi kemenangan masing-masing, maka persatuan itu di mana dan kapan pun tidak akan pernah berhasil diwujudkan. Akan tetapi yang jelas, bahwa persatuan itu memang indah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up