Tujuh Kunci Sukses Dalam Menjalani Kehidupan (lanjutan)
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 7 Maret 2015 . in Dosen . 3847 views

Setelah mampu memberikan kasih sayang pada semua kalangan hingga tak terbatas, maka kunci sukses dalam menjaani kehidupan berikutnya, atau ketiga, adalah kemampuan menghiasi hati dengan suasana ikhlas. Sebagai seorang mukhlis maka semua yang dilakukan tidak ada lain kecuali didasarkan atas panggilan Tuhan. Mereka tidak ingin mendapatkan sesuatu, dan apalagi pujian. Disadari bahwa pujian hanya milik Allah semata.

Ikhlas berada di hati. Keikhlasan tidak cukup, atau bahkan tidak perlu diucapkan dalam bentuk kata atau kalimat. Seseorang yang mengatakan bahwa apa yang diberikan dan dilakukan adalah didasari oleh keikhlasan, maka hal itu belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya ada pada hatinya. Oleh karena ikhlas adalah merupakan suara hati, maka yang tahu, selain Tuhan hanyalah dirinya sendiri.

Orang yang ikhlas tidak akan merasa sedih, menyesal, dan apalagi marah, seumpama apa yang telah diberikan kepada orang lain tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Selain itu, orang yang ikhlas tidak akan menarik kembali apa saja yang telah dilepaskan dari dirinya. Sudah barang tentu, suara batin seperti itu tidak mudah dimiliki oleh setiap orang. Ikhlas adalah sesuatu yang indah dan mulia. Namun perbuatan yang didasari oleh keikhlasan tidak memerlukan pengawasan dari orang lain.

Keempat, apa saja yang dilakukan selalu berperspektif pada kehidupan masa depan, hingga di akherat. Kesadaran bahwa apa saja yang dilakukan tidak akan terpisahkan dari kehidupan di akherat, maka akan mendorong dirinya untuk melakukannya yang terbaik. Jika terdapat berbagai pilihan, maka akan memilih yang terbaik, atau ikhsan. Selain itu atas kesadaran bahwa akan adanya kehidupan hingga di akherat kelak, maka semua yang akan dan sedang dilakukan akan diperhitungkan secara cermat. Seseorang yang meyakini akan datangnya hari akhir, maka tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak, baik terhadap dirinya sendiri, akalnya, agamanya, keturunannya, dan harta kekayaannya.

Kelima, apa saja yang dilakukan selalu didasarkan pada niat beribadah, yaitu memenuhi perintah dan atau panggilan Allah. Ibadah tidak saja sebatas berupa kegiatan yang terkait dengan ritual, sepert berdzikir, shalat, puasa, zakat dan haji, melainkan adalah semua jenis kegiatan yang mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri maupun juga orang lain. Sebagai makhluk terbaik, keberadaannya hanyalah untuk beribadah itu.

Pandangan yang demikian itu, menjadikan apa saja yang dilakukan memiliki nuansa transendental. Karyanya tidak saja untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri, hingga boleh dilakukan dengan cara dan kualitas apa adanya, tetapi selalu dikaitkan dengan Tuhan, yaitu sebagai bagian dari ibadahnya sehingga ditunaikan sebaik-baiknya. Semua gerak kehidupan yang dijalani selalu diorientasikan untuk menuju pada ridha Allah swt. Nuansa kesadaran ilahiyah itulah yang menjadikan kehidupan menjadi berkualitas dan akhirnya akan memeroleh keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Keenam, selalu menyandarkan dirinya pada petujuk atau hidayah Allah. Bahwa menjalani hidup ini, sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini, tidak mudah. Untuk memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan, adalah amat sulit. Keberhasilan hidup secara sempurna dimaksudkan itu tidak cukup hanya berbekalkan kecerdasan, apalagi kecerdasan yang tidak dilandasi oleh keimanan. Betapa banyaknya orang yang menyandang ilmu pengetahuan secara melimpah, tetapi pada kenyataannya gagal dan bahkan tersesat. Maka, itulah perlunya bimbingan dan petunjuk dari Dzat Yang Maha Kuasa.

Petunjuk atau hidayah hanya datang dari Dzat Yang Maha Kuasa. Kesadaran diri atas kekurangan dan kelemahan di dalam menjalani kehidupan ini maka akan menghindarkan diri dari sifat sombong, angkuh, dan keras kepala. Orang yang memperoleh petunjuk atau hidayah dari Tuhan maka akan selamat, bahagia, dan kehidupannya akan diliputi oleh suasana kedamaian.

Ketujuh, adanya kemauan dan kesediaan meniru orang-orang yang sukses. Dalam sejarah kemanusiaan tercatat orang-orang yang sukses dalam berbagai jenis kehidupan. Berbagai kisah orang sukses dikemukakan dalam kitab suci. Nama-nama mereka disebut dengan jelas. Tentu saja, lewat kisah itu dimaksudkan agar ditiru dan dijadikan pedoman di dalam menjalani kehidupan ini. Para rasul atau nabi masing-masing memiliki keistimewaan hingga yang bersangkutan dipandang telah meraih prestasi hidup itu. Siapapun agar sukses, maka jalan hidup itu seharusnya ditiru.

Tujuh hal sebagai kunci sukses dalam menjalani hidup ini adalah merupakan perbuatan hati. Memang, hati itulah pada hakekatnya merupakan sumber dari semua kegiatan dalam kehidupan ini. Manakala sumber yang berupa hati itu adalah bersih, sehat, dan jauh dari penyakit dan kotoran, maka perilaku yang dibentuk atau dihasilkannya juga akan sehat dan baik pula. Kesehatan hati itulah yang akhirnya akan membuahkan keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up