Menjalani hidup ini tidak mudah. Apalagi, juga harus selamat, mendapatkan kedamaian, dan kebahagiaan. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Jangan dikira orang yang telah memperoleh jabatan tinggi, harta melimpah, pengaruh yang luas, telah merasakan kesuksesan itu. Sukses tidak cukup diukur dari keberhasilan memperoleh apa yang disebutkan itu.
Kita lihat banyak orang kaya, ternyata hidupnya justru disusahkan oleh kekayaannya, orang yang berjabatan tinggi justru akhirnya celaka oleh karena jabatan, dan seterusnya. Padahal sebenarnya, dalam hidup ini orang tidak saja ingin memperoleh kekayaan, jabatan, dan pengaruh, tetapi lebih dari itu adalah keselamatan, kedamaian dan kebahagiaan. Orang yang berhasil memperoleh keberhasilan secara sempurna itulah yang disebut sukses.
Ketujuh hal yang disebut sebagai kunci sukses itu adalah sebagai berikut. Pertama, harus selalu berusaha untuk mensucikan dirinya, atau melakukan thaharah, baik thaharatul qolbi, thaharatul fikri, maupun thaharatul jasadi. Mensucikan hati artinya selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari sifat-sifat buruk, yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, seperti misalnya iri hati, dengki, dendam, permusuhan, memutus sillaturrahmi, takabbur atau sombong, bakhil, dan seterusnya.
Thaharatul fikri adalah menghindarkan diri dari pikiran apa saja yang mengakibatkan kerugian atau bahkan hancurnya diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Pikiran yang merusak diri sendiri misalnya adalah menyusun siasat buruk yang membahayakan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sementara itu thaharatul jasadi adalah menghindarkan diri dari mengkonsumsi apa saja yang tidak memenuhi kategori halal dan atau tidak diperbolehkan.
Thaharah secara menyeluruh ini hendaknya dilakukan pada setiap saat dan secara terus menerus. Orang yang hatinya, pikirannya, dan anggota badannya bersih akan merasakan kedamaian tatkala sedang bergaul dengan siapapun. Andaikan ada gangguan, ancaman, atau apapun, maka hal itu tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menyedihkan. Seseorang yang hati, pikiran, dan raganya bersih akan mempercayai bahwa kehidupan ini tidak berhenti di dunia ini, melainkan akan berkelanjutan hingga masa berikutnya yang lebih kekal, ialah di akherat. Orang yang demikian itu akan selalu bertawakkal.
Kedua, adanya kesanggupan untuk mengasihi dan menyayangi semuanya. Orang yang berhasil menjaga dirinya, atau melakukan thaharah secara sempurna dan istiqamah, maka masih dituntut untuk mampu memberikan kasih sayangnya kepada semua. Kasih sayang yang dimaksudkan itu tidak terbatas hanya kepada keluarganya, teman-temannya, para tetangganya, dan bahkan juga kepada musuhnya sekalipun sanggup memberikannya. Demikian pula kasih sayang tidak saja terhadap orang, tetapi juga kepada lingkungan, dan bahkan makhluk hidup lainnya.
Jika direnungkan secara mendalam sebenarnya terjadinya perselisihan, konflik, dan bahkan perang antar negara dan lain-lain adalah oleh karena tidak adanya kasih sayang di antara sesama itu. Umpama sifat kasih sayang telah bersarang di hati masing-masing orang, maka persoalan tersebut tidak akan terjadi. Akan tetapi, ternyata menjadikan orang memiliki sifat kasih sayang yang sebenarnya adalah bukan perkara mudah. Tuhan mengajarkan agar pada setiap saat menyebut sifat Allah yang mulia itu, yakni arrahman arrokhiem. Sifat Allah itu selalu disebut dan dikumandangkan, tetapi tidak selalu berhasil atau mampu menghiasi hati orang yang menyebutnya.
(Bersambung)



