Umpama Yang Berlebih Berbagi Kepada Yang Berkekurangan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 9 Maret 2015 . in Dosen . 1462 views

Persoalan kehidupan sehari-hari ini sedemikian banyak, tetapi sebenarnya semua itu berawal dari kekurangan dalam berbagi kasih sayang di antara sesama. Orang menyebut ada kesenjangan yang sedemikian lebar antara mereka yang berpunya dengan sebagian banyak lagi yang tidak berpunya. Ada sebagian kecil orang menguasai kekayaan secara berlebih-lebihan dan sebaliknya, ada sebagian banyak yang tidak mendapatkannya.

Di mana-mana dapat disaksikan, sedikit orang bertempat tinggal di rumah-rumah mewah, sementara lainnya yang jumlahnya cukup banyak bertempat tinggal di rumah-rumah sederhana, dan bahkan di gubuk-gubuk kumuh, di pinggir sungai, gang-gang sempit yang jauh dari persyaratan kesehatan. Orang-orang miskin itu tidak berpikir tentang kekayaan oleh karena tidak memiliki bayangan untuk bisa memiliki. Mereka hanya berpikir agar sehari-hari memperoleh makanan sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Umpama saja orang-orang yang berkelebihan harta itu, memiliki kasih sayang kepada mereka yang miskin, yang tidak memiliki rumah, dan juga tidak memiliki pekerjaan yang pasti, maka pemandangan yang mengambarkan tentang kesenjangan itu bisa diatasi. Mereka yang kaya dan yang miskin menjadi dekat, seakan-akan semua hidup barsama di bawah atap langit dan di alaskan bumi. Kehidupan seperti itu akan tampak indah, sesama manusia berbagi kasih sayang.

Akan tetapi gambaran indah itu tidak pernah tampak. Di antara mereka yang kaya dan yang miskin seolah-olah boleh tidak saling mengenal. Padahal dalam konsep Islam, semuanya diajak untuk selalu bersama-sama. dalam jajaran shaf yang rapat, sebagaimana tampak di dalam kegiatan shalat bejama'ah. Mereka yang miskin dan yang kaya itu tatkala sedang di masjid maka memposisikan diri dalam kebersamaan, yaitu bersama-sama dalam berdiri, rukuk, sujud, dan juga membaca doa yang sama. Kebersamaan itu seharusnya berhasil menumbuhkan kesadaran agar juga bersama-sama misalnya, di dalam kegiatan berekonomi atau dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kebersamaan di dalam masjid ternyata segera hilang kembali setelah keluar dari tempat ibadah itu.

Menyatukan orang dalam berekonomik ternyata tidak semudah menyatukan mereka di dalam tempat ibadah. Padahal kebersamaan itu seharusnya belanjut hingga di dalam lapangan kehidupan lainnya. Tatkala dalam shalat dan dzikir berjama'ah, maka seharusnya demikian pula ketika masuk rumah, mengkonsumsi makanan, dan lain-lain. Di antara sesama umat Islam tidak boleh membangun jarak yang sedemikian jauh. Nabi Muhammad berpesan, agar tatkala seseorang memasak makanan yang lezat, maka dianjurkan supaya kuahnya diperbanyak, agar bisa dibagikan kepada para tetangga yang ikut mencium bau lezat masakan yang dimaksudkan itu.

Kepedulian kepada sesama ternyata tidak mudah diwujudkan, dan tidak terkecuali oleh kalangan para elite atau para pemimpinnya. Gambaran yang agak istimewa, pernah saya temukan dalam kisah berikut. Dalam kunjungan ke Teheran, saya diajak ke rumah Ayatullah Khumaini, yaitu seorang pemimpin revolusi Iran pada awal tahun 1970 an. Sekalipun rumah itu adalah milik seorang presiden, ternyata keadaannya amat sederhana. Ukuran rumah itu memang cukup besar, tetapi di dalamnya tidak ada sesuatu yang istimewa, termasuk kamar tidur yang terletak di bagian belakang rumah itu. Keadaan rumah itu sangat sederhana, termasuk bentuk dan bahan bangunanannya.

Kesan kesederhanaan lainnya, tidak sama dengan rumah pejabat presiden di berbagai negara pada umumnya, untuk nyampai di kediaman Ayatullah Khumaini, harus berjalan kaki hingga puluhan meter, melewati gang kecil. Mobil para tamu, dan juga tentu saja milik presiden sendiri harus diparkir di pinggir jalan yang cukup jauh dari rumah kepala negara itu. Semua orang yang akan menuju ke kediaman pemimpin besar revolusi Iran itu, dari jalan besar, setelah turun dari kendaraan, maka harus berjalan kaki. Terasa aneh, tetapi itulah sebenarnya yang terjadi. Kepala negara itu ingin merasakan kebersamaan dengan rakyatnya.

Melihat kesederhanaan rumah Ayatullah Khumaini, seorang pengusaha besar di negeri itu, bermaksud membuatkan istana, untuk sang presiden yang dicintai dan amat dihormati itu. Menurut pandangan pengusaha itu, bahwa kewibawaan kepala negara harus dijaga, termasuk penampilan rumahnya. Mendengar tawaran itu, Ayatullah Khumaini mempersilahkan, asalkan ada syarat yang harus dipenuhi. Yaitu, sebelum membuatkan istana, pengusaha kaya dimaksud terlebih dahulu diminta untuk membuatkan rumah bagi semua rakyatnya yang selama ini masih bertempat tinggal di bawah jembatan, di pinggir sungai, atau masih ngampung ke tetangga atau saudaranya oleh karena belum memiliki tempat berteduh sendiri. Jika semua rakyatnya sudah tidak ada lagi yang belum memiliki rumah, maka pengusaha dimaksud baru diperbolehkan membangun istana untuk presidennya.

Oleh karena syarat yang dimaksudkan itu tidak akan mungkin mampu dipenuhi, maka istana untuk Ayatullah Khumaini pun juga gagal dibuat. Akhirnya presiden dan atau pemimpin revolusi Iran itu hingga akhir hayatnya masih bertempat tinggal di rumah yang berada di gang kecil. Tatkala sedang berada di rumah tersebut, saya membayangkan, andaikan orang-orang yang kaya dan apalagi berkuasa memiliki kasih sayang kepada yang miskin dan berkekurangan, maka kehidupan ini akan amat indah. Keindahan berupa kebersamaan di antara kaum muslimin tidak saja tampak ketika sedang menjalankan shalat berjama'ah di masjid, tetapi juga tatkala sedang berada di dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up