Akhir-akhir ini, saya membaca banyak perdebatan terkait dengan kegiatan yang menyangkut pelaksanaan ajaran agama. Merasa pemahamannya sudah benar, tatkala mendengar orang lain masih menyalahkannya, segera membalas bahwa orang lain yang menyalahkan itu justru yang keliru. Masing-masing tidak mau disalahkan oleh karena dalam menjalankan ritual itu sudah berasal dari guru dan atau mendasarkan pada kitab yang dipercayai dan sudah berulang kali dibacanya. Oleh karena itu, segala tuduhan akan segera dibalas dengan tuduhan yang sama.
Begitu bersemangatnya menyalahkan orang lain, hingga sampai hati menuduh sesama muslim telah sesat, dan bahkan kafir. Maka sudah pasti, mereka yang dituduh sesat dan apalagi kafir, akan tersinggung dan bahkan marah. Maka akhirnya terjadi saling mempertahankan keyakinannya dengan cara saling mengolok-olok, atau berdebat, baik langsung maupun tidak langsung. Akibatnya, menurut perspektif masing-masing dari semua yang terlibat dalam perdebatan itu, semuanya tidak ada yang benar. Semuanya menjadi salah, dan tidak ada yang memperoleh kedamaian.
Sebenarnya fenomena tentang perbedaan dalam menjalankan ritual keagamaan itu sudah lama terjadi. Perselisihan sebagaimana digambarkan tersebut sudah menjadi sejarah lama, selalu muncul dari generasi ke gernerasi berikutnya. Demikian pula, perdebatan itu juga tidak pernah membawa kesimpulan akhir yang disepakati bersama. Selesai berdebat, masing-masing tetap menjalankan keyakinannya sendiri-sendiri. Selain itu juga hampir tidak pernah ada orang yang kalah dalam perdebatan kemudian segera mengikuti pihak yang menang. Bahwa yang pasti, hasil perdebatan itu adalah di antara mereka menjadi saling permusuhan, tali sillaturaahmi menjadi terganggu, atau setidaknya hubungan di antara mereka menjadi tidak akrab.
Islam sebenarnya merupakan ajaran yang memiliki wilayah yang sedemikian luas, yakni seluas kehidupan itu sendiri. Sebelum seseorang dilahirkan dan bahkan hingga datang kematiannya, Islam memberikan petunjuk sebagai pedoman hidup. Pedoman itu meliputi apa saja yang seharusnya dilakukan sejak orang tuanya menikah, berhubungan suami isteri, anaknya itu masih berada di kandungan, dilahirkan, masa pertumbuhan terutama dalam memberikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidupnya, menjalin hubungan sosialnya, hingga keharusan menjalankan komuniaksi dengan sesama dan dengan tuhannya. Semua itu, oleh Islam, diberikan pedoman melalui kitab suci dan contoh berupa kehidupan nabi.
Di antara lingkup ajaran Islam yang amat luas tersebut, sebenarnya hal yang diperdebatkan itu hanyalah menyangkut sesuatu atau aspek yang amat terbatas, yaitu tentang kegiatan ritual. Selain itu, mereka rupanya juga mengira bahwa penilaian kegiatan ritual sekedar seperti menilai pekerjaan menjawab soal-soal ujian di sekolah. Dalam setiap menjawab soal ujian, para siswa disuruh memilih di antara alternative jawaban yang dianggap paling benar. Jika peserta ujian berhasil memilih jawaban yang tepat, maka dianggap lulus, sehingga berhak memperoleh ijazah, dan begitu juga sebaliknya. Penilaian dalam kegiatan ritual dan apalagi kehidupan beragama tidak akan sesederhana itu. Lagi pula yang akan dinilai juga bukan sebatas kegiatan ritualnya, tetapi masih banyak aspek lainnya yang juga akan dijadikan penentu kelulusan dalamkehidupan ini.
Mungkin saja sementara orang, tatkala membayangkan pengalaman ujian itu, dan apalagi juga banyak diterangkan bahwa hidup ini adalah sebagai ujian, maka mereka mengira bahwa penilaian kegiatan ritual yang diperdebatkan sama dengan penilaian dalam ujian di sekolah. Para peserta ujian membayangkan bahwa pekerjaan yang dilakukannya sendiri sudah betul, sementara yang dilakukan orang lain salah. Mereka merasa betul, oleh karena jawaban itu sudah sesuai dengan buku yang dibaca dan juga sebagaimana penjelasan guru sebelumnya. Padahal penilaian dalam beragama tidak saja menyangkut aspek yang bersifat lahir, formal, dan bersifat fisik, melainkan juga menyangkut aspek yang lebih mendalam, yaitu terkait dengan niatnya, keikhlasannya, kesabarannya, kekhusukannya, dan seterusnya. Aspek-aspek itu tentu tidak gampang diketahui oleh siapa saja.
Siapapun boleh-boleh saja menganggap bahwa ibadahnya akan diterima, oleh karena memang setiap orang berharap seperti itu. SEbaliknya, hal yang tidak dibolehkan adalah menilai apa yang dilakukan oleh orang lain. Selain bukan hak dan kewenangannya, menilai ibadah orang lain tidak akan mencapai kebenaran. Tuhan menjanjikan di dalam kitab suci bahwa, siapa saja yang beriman dan beramal shaleh akan dimasukkan ke surga-Nya. Akan tetapi, kadar keimanan dan amal shaleh yang dimaksudkan itu tidak saja dilihat dari kegiatan ritualnya, melainkan dari banyak aspek lainnya. Selain itu,



