Seringkali saya mendapatkan pertanyaan sederhana tetapi harus saya jawab dengan jujur, yaitu siapa di antara para guru yang saya anggap paling mengesankan dan kemudian masih selalu saya ingat. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, biasanya secara spontan, saya jawab bahwa guru yang paling mengesankan itu adalah ayah saya sendiri. Jawaban itu bukan mengada-ada, tetapi memang demikian itulah yang sebenarnya saya rasakan.
Memang dalam sejarah hidup saya, banyak orang yang telah mendidik dan membekali ilmu pengetahuan kepada saya, sejak dari sekolah dasar hingga strata tertinggi di universitas. Sudah barang tentu, jasa mereka itu sangat besar dalam hidup saya dan tidak mungkin saya lupakan. Saya selalu berdoa, semoga budi baik dan jasa yang sedemikian mulia itu diterima oleh Allah swt., dan mereka dimuliakan serta ditinggikan derajadnya.
Saya menyebut ayah sendiri sebagai guru, bahwa maksud saya bukan guru di kelas atau di sekolah, melainkan adalah guru dalam kehidupan sehari-hari. Pada setiap saat dan kesempatan, ayah memberikan pengetahuan, wawasan hidup, pengalaman, dan perilaku yang seharusnya saya jalankan. Banyak sekali pelajaran itu yang saya rasakan amat mengesankan, sehingga amat sulit saya lupakan. Di antara pelajaran itu berupa pesan misalnya adalah terkait dengan masjid.
Ayah berpesan bahwa, jika menjadi orang kaya, agar saya membuat masjid, dan syukur bila masjid yang dimaksudkan itu berukuran besar dan tampak indah. Tetapi jika tidak mampu membuat masjid yang besar, maka supaya membuat masjid berukuran kecil, yaitu mushalla atau langgar. Namun, jika membuat mushalla saja tidak bisa, agar saya mau memberikan bantuan berupa uang kepada siapa saja yang sedang membangun masjid. Tetapi jika juga tidak punya uang, maka supaya membantu berupa tenaga. Terakhir pesannya lagi, umpama saya memang dalam keadaan lemah, sehingga tidak bisa membangun masjid, mushalla, menyumbang berupa uang atau sekedar tenaga, maka ayah juga mengaku tidak merasa sedih, asalkan saya masih mau menjadi isinya masjid.
Pesan sederhana tersebut tidak pernah saya lupakan. Menurut pandangan ayah saya, tempat ibadah sedemikian penting, dan harus selalu diperhatikan. Bahkan, sedemikian penting masjid dan madrasah itu, sehingga umpama secara ekonomi, saya mampu, ayah tidak mau melihat madrasah atau masjid yang saya bangun lebih sederhana dibanding bangunan rumah saya. Ayah menjelaskan bahwa rumah hanyalah untuk kepentingan pribadi dan keluarga, sementara itu madrasah dan masjid adalah untuk orang banyak. Fasilitas untuk orang banyak seharusnya dibuat lebih baik dibanding untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarga.
Hal lainnya lagi yang tidak pernah saya lupakan adalah tentang cara memberikan pelajaran. Ayah selalu memberi contoh dan kemudian diikuti dengan penjelasan. Pelajaran itu tidak terbatas ketika sedang di rumah, tetapi di berbagai kesempatan. Jika ayah bepergian dan tidak terlalu jauh,



