Fungsi Dakwah Dalam Kegiatan Berdzikir Bersama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 3 April 2015 . in Dosen . 1788 views

Banyak orang dalam melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Kiranya hal itu tidak ada yang berhak melarang, semuanya boleh-boleh saja. Sementara orang melihat sesuatu dari sudut pandang fiqh sehingga berujung pada kesimpulan antara haram, makruh, mubah, sunnah dan wajib. Orang lainnya melihat dari kaca mata aqidah, sehingga menghasilkan kesimpulan antara musyrik, mukmin, munafiq, zindiq, dan barangkali juga kaffah atau tidak, dan seterusnya. Tentu, masih banyak lagi sudut pandang lainnya yang bisa digunakan.

Sudut pandang yang beraneka ragam itu, sebagaimana contoh di muka, tentu akan melahirkan kesimpulan yang berbeda-beda. Bahkan, ketika beberapa orang melihat sesuatu dari sudut pandang yang sama saja, hasilnya belum tentu sama. Hal itu terjadi, oleh karena, kemampuan masing-masing orang dalam melihat sesuatu selalu tidak sama, sehingga hasil yang diperoleh menjadi berbeda-beda. Oleh karena itu, ketika muncul pendapat orang berbeda-beda, sebenarnya adalah merupakan hal wajar, lazim, dan tidak sulit dipahami.

Munculnya jama'ah dzikir di beberapa tempat pada akhir-akhir ini hingga sedemikian semarak, sebenarnya juga bsa dilihat dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, tulisan kali ini, saya melihat dari salah satu fungsinya saja, yaitu fungsi dakwahnya. Kesan saya, dakwah melalui dzikir bersama itu luar biasa efektifnya. Berdakwah pasti harus bertemu dengan orang. Padahal di zaman orang pada sibuk dengan kegiatan sendiri, maka betapa sulitnya menemui mereka.

Kegiatan berdzikir bersama, ternyata menjadi sarana yang sangat efektif dan mudah untuk mengumpulkan orang. Tatkala disebut ada kegiatan berdzikir, maka orang tertarik dan datang. Berdzikir dipandang sebagai kegiatan keagamaan yang seharusnya diikuti untuk mendekatkan diri pada Tuhan, berdoa, sebagai sarana bertemu dengan orang-orang yang memiliki tujuan sama, mendapatkan keselamatan, kedamaian, dan lain-lain. Sementara itu, banyak orang yang merasa jenuh dengan kegiatannya sehari-hari, merasa sendirian, dan sering melakukan kesalahan dan dosa, maka mengikuti kegiatan itu adalah dianggap merupakan jawabannya.

Berbagai kebutuhan yang bersifat psikologis tersebut menjadikan orang mudah diajak bergabung untuk ikut serta. Dan rupanya sekali saja mengikuti kegiatan berdzikir itu, mereka merasa memperoleh jawaban dari berbagai persoalan psikologis yang dihadapi sehari-hari. Tatkala berdzikir bersama-sama, mereka merasakan ada kenikmatan. Dengan mengucapkan kalimat dalam dzikir bersama-sama itu, maka pada dirinya muncul perasaan semakin dekat dengan Tuhan. Suasana yang tidak bisa dialami tatkala sendirian, maka berhasil diperoleh tatkala kegiatan itu dilakukan secara bersama-sama.

Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung kiranya lebih mudah dipahami dan dihayati. Sebaliknya, bagi orang yang tidak pernah mengikuti kegiatan dimaksud, maka kiranya tidak mudah dijelaskan tentang suasana batin itu. Orang yang memperoleh kenikmatan batin dari berdzikir bersama, maka akhirnhya akan menjadi ingin mengulangi lagi, dan merasa sayang jika meninggalkan kegiatan itu.

Melalui proses tersebut, akhirnya jama'ah dzikir semakin lama menjadi semakin besar jumlahnya. Mereka itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, pegawai swasta, pedagang, petani, guru, mahasiswa, buruh, pengangguran, tukang parkir, dan bahkan sampai orang-orang yang semula tidak banyak menyentuh kehidupan keagamaan. Banyak orang yang semula dikenal tidak terbiasa menjalankan kegiatan agama, setelah mengikuti dzikir bersama, maka merasa menjadi bagian orang-orang yang beragama. Sekalipun misalnya, semula sering melakukan dosa, tetapi setelah ikut berdzikir, kegiatannya yang bermuatan dosa dimaksudkan berhasil ditinggalkan.

Gambaran tersebut itulah yang saya maksud sebagai fungsi dakwah dalam kegiatan berdzikir bersama-sama. Terasa sekali bahwa dakwah menjadi sangat efektif. Mengajak orang untuk meninggalkan kegiatan yang tidak pantas di masyarakat, seperti berjudi, meminum minuman keras, malas mengurus dan merawat dirinya sendiri, dan lain-lain, adalah amat sulit. Akan tetapi, setelah mereka berhasil diajak bersama-sama untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui berdzikir, maka kegiatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan sekalipun akhirnya mampu ditinggalkan. Setelah mengenakan baju atau jaket seragam, mereka mendifinisikan dirinya sebagai jama'ah dzikir, sehingga merasa tidak pantas lagi melakukan sesuatu yang tidak diperkenankan oleh ajaran agamanya.

Keberhasilan dakwah tersebut tidak akan mudah dicapai melalui kegiatan ceramah atau pun juga penjelasan secara individual dari orang ke orang. Almarhum KH Abdul Rakhim as Syadzili, penggagas lahirnya jama'ah Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah, pernah mengatakan bahwa, orang sekarang tidak mudah diajak mendengarkan nasehat atau ceramah, tetapi untungnya mereka masih mau diajak untuk berdzikir. Oleh karena itu, menurut pendapatnya, cara terbaik berdakwah adalah mengajak mereka atau umat ini berdzikir bersama-sama. Hasilnya, ternyata memang efektif. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up