Rupanya gerakan untuk mengintegrasikan ilmu dan Islam telah terjadi di mana-mana, tidak saja di Indonesia, yakni di antaranya melalui perubahan kelembagaan perguruan tinggi Islam dari STAIN atau IAIN menjadi UIN, tetapi juga di Malaysia. Di ngeri tetangga itu, integrasi sains dan Islam, ditempuh dengan membangun perguruan tinggi yang diberi nama Universitas Sains Islam Malaysia. Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, mereka menggunakan sumber aqly dan sumber naqly sekaligus.
Sebagai perbandingan konsep integrasi itu, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan konsep ulul al baab. Konsep itu diambil dari al Qur'an, dan secara rinci dijelaskan bahwa, manusia ideal yang disebut ulul al baab adalah orang yang selalu melakukan tiga jenis kegiatan sekaligus, yaitu mengingat Allah, memikirkan penciptaan-Nya, dan berusaha mencari cara terbaik memanfaatkan ciptaan itu, serta menjaganya dari kerusakan. Melalui pemahaman itu, sebenarnya konsep integrasi Islam dan sains tidak terlalu tepat, tetapi konsep itu lebih tepat disebut iklusivitas.
Penyebutan inklusivitas dianggap lebih tepat oleh karena dengan konsep ulul al baab itu, maka sebenarnya sudah terangkum di dalamnya hal-hal yang terkait dengan wilayah spiritual, keilmuan, dan juga kegiatan nyata yang diperlukan bagi kehidupan ini. Selain itu, aspek lahir dan aspek batin, atau aspek yang bisa didekati dengan menggunakan akal atau aqly maupun dengan wahyu atau naqly, kesemuanya sudah terangkum di dalamnya. Atau jika dirumuskan dengan kalimat lain bahwa penyebutan ilmu-ilmu ke Islaman sudah mencakup sains dan ilmu agama sekaligus sebagaimana yang dimahami oleh banyak orang selama ini.
Sebagai upaya mengimplementasikan konsep integrasi sains dan Islam, Universitas Sains dan Islam Malaysia melakukan berbagai usaha, di antaranya adalah dirupakan dalam menata kampusnya. Penataan kampus seluas kurang lebih 200 hektar mempertimbangkan gambaran adanya integrasi keilmuan itu. Di bagian pintu masuk kampus Universitas Sains Islam Malaysia dibuat simbol bertuliskan 'Iqra' dan diujung lurus dari pintu masuk tersebut digambarkan bangunan ka'bah. Penataan itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa semua kegiatan perguruan tinggi itu dimulai dari kegiatan membaca atau iqra' dan diarahkan pada titik yang sama, yaitu ka'bah.
Setelah mendengarkan penjelasan tentang konsep integrasi Islam dan Sains secara langung dari Prof. Dato' Dr. Musa Ahmad FASc, Naib Konselor Universitas Sains Islam Malaysia, dalam kesempatan berceramah di perguruan tinggi itu, pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, saya menyampaikan pandangan bahwa simbol-simbol yang dikembangkan oleh perguruan tinggi ini seharusnya dimaknai secara lebih luas dan mendalam. Simbol ka'bah misalnya, tidak cukup hanya dimaknai sebagai arah sebatas dalam menjalankan shalat. Ka'bah harus dimaknai sebagai kiblat dalam semua aspek kehidupan, baik dalam shalat, berekonomi, politik, pendidikan, sosial, ilmu pengetahuan, hukum, teknologi, dan lain-lain.
Selama ini, sebagaimana pada umumnya, ka'bah hanya dimaknai sebagai kiblat pada waktu shalat dan juga ketika memakamkan jenazah. Akan tetapi tatkala berekonomi, umat Islam masih berkiblat ke China, ketika mengembangkan ilmu pengetahuan ke Amerika, Eropa, dan Australia, ketika mengembangkan teknologi berkiblat ke Jepang dan Jerman, ketika mengembangkan pendidikan ke Amerika Serikat, dan demikian pula dalam menjalankan hukum berkiblat ke Belanda. Kenyataan itu menunjukkan bahwa sebenarnya umat Islam sedang memiliki beraneka macam kiblat. Padahal umpama saja umat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya berhasil menjadikan ka'bah sebagai satu-satunya kiblat hidupnya, maka umat Islam akan memiliki identitas yang jelas, kebersamaan, dan persatuan yang kuat dan kokoh.
Atas dasar pandangan tersebut, mungkin saja orang akan bertanya, bahwa manakala ka'bah dijadikan kiblat dalam berbagai aspek kehidupan, maka apa sebenarnya yang bisa dipedomani secara nyata dari bangunan suci itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengingat kembai bahwa bangunan ka'bah sebenarnya akan mengingatkan umat Islam terhadap empat kekasih Allah yang memiliki nama besar yang seharusnya menjadi anutan. Keempat orang pemilik nama agung itu adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar, dan Nabi Muhammad saw. Keempat nama besar tersebut telah memberikan tauladan hidup dalam berbagai aspek secara sempurna, baik terkait dengan kepemimpinan umat, dalam berkarya, kepatuhan kepada Tuhan, tanggung jawab terhadap generasi penerus, dan berbagai aspek kehidupan terpuji yang dicontohkan secara langung oleh Nabi terakhir, yaitu Muhammad., saw.
Selama ini, sejarah hidup ke empat orang penyandang nama besar dan agung tersebut belum dipahami secara sempurna. Akibatnya, tatkala mengaku dan menjalankan Islam hanya sebatas menyangkut kegiatan yang bersifat ritual, atau keagamaan, padahal Islam mengajarkan cara hidup secara menyeluruh, utuh, dan konprehensif. Memaknai kiblat secara utuh itu maka tidak akan ada lagi cara pandang dikotomik antara ilmu agama dan ilmu umum atau antara Islam dan sains. Semua ilmu akan diyakini adalah milik dan datang dari Allah. Umat Islam seharusnya menggali dan mempelajarinya semaksimal mungkin, sehingga akan benar-benar menjadi unggul dan sebagai pilihan terbaik. Wallahu a'lam..



