Dalam sejarahnya, sebelum Islam datang, kaum wanita diletakkan pada posisi yang kurang terhormat. Orang Quraisy jahiliyah pada waktu itu merasa malu jika melahirkan, dan ternyata anaknya itu berjenis kelamin wanita. Kelahiran anak wanita dianggap aib bagi orang tuanya, apalagi hal itu dialami oleh seorang yang merasa dirinya sebagai pemuka masyarakat.
Pada masyarakat jahiliyah, laki-laki dianggap sebagai simbol keunggulan, keberanian, dan kebanggaan. Begitu pula sebaliknya, orang merasa sedih dan kecewa ketika mendapatkan anak wanita. Kadang sedemikian mendalam rasa malu yang harus ditanggung oleh orang tuanya tatkala anaknya ternyata wanita, hingga dalam suatu kisah, terdapat tokoh yang sampai hati menguburkan hidup-hidup anak perempuannya.
Islam datang untuk mengembalikan posisi wanita pada tempat yang mulia. Melalui ajaran Islam, wanita dihargai dan dimuliakan. Bahkan, al Qur'an menggunakan salah satu nama surat di antara 114 suratnya adalah an-Nisa' atau wanita. Lebih menarik lagi, surat an Nisa' itu diletakkan setelah surat Ali Imran. Maka, ketika membacanya, Imajinasi saya mengatakan bahwa penempatan surat itu menggambarkan betapa strategis posisi wanita pada struktur kehidupan keluarga, dan bahkan juga pada setiap komunitas masyarakat.
Keluarga Imran dalam sejarah kemanusiaan dikenal sebagai amat ideal, dan ternyata keluarga itu dijadikan sebagai salah satu nama dari surat al Qur'an. Penempatan surat an-Nisa' setelah surat Ali Imran, akhirnya membawa pikiran saya pada pengertian bahwa wanita memiliki peran strategis dan bahkan sebagai kunci dalam membangun keluarga ideal.
Betapa strategisnya posisi wanita dalam kehidupan keluarga, selain dilihat dari penggunaan nama surat dan penempatannya pada urutan surat dalam al Qur'an sebagaimana dikemukakan di muka, sebenarnya juga bisa dilihat dari sejarah kemanusiaan itu sendiri. Seorang laki-laki yang sedemikian jahat, yakni Fir'aun, tetapi oleh karena penguasa itu memiliki isteri yang shalikhah, maka nasib Musa bisa diselamatkan. Dalam kisahnya, Fir'aun sebagai seorang penguasa, ketika itu mengambil kebijakan, agar semua anak laki-laki dibunuh. Namun atas budi baik isterinya sendiri, seorang bayi bernama Musa dimaksud berhasil terselamatkan.
Demikian pula sebaliknya, Nabi Luth, seorang yang sedemikkian shaleh, namun oleh karena memiliki isteri yang sama sekali tidak baik, maka keluarga, lingkungan, dan umatnya menjadi hancur. Kisah yang antagonis tersebut kiranya memberi petunjuk yang jelas bahwa, betapa sebenarnya posisi wanita yang sedemikian srtategis dalam membangun keluarga ideal. Bahkan hingga sekarang ini, kiranya tidak terlalu sulit mencari bukti tentang betapa peran wanita dalam kehidupan keluarga. Tidak sedikit tokoh atau pemimpin menjadi jatuh oleh karena isterinya kurang mampu menempatkan diri atau hidup berlebih-lebihan, dan begitu pula sebaliknya.
Selain bersumber al Qur'an juga banyak hadits nabi yang menerangkan tentang posisi strategis kaum wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa wanita itu bagaikan madrasah. Manakala suatu madrasah baik, maka muridnya akan baik, dan manakala muridnya baik, mala hasil pendidikan itu juga akan menjadi baik pula. Dalam suaru riwayat pula dikemukakan bahwa, pada suatu ketika seorang sahabat menanyakan kepada nabi, yaitu tentang siapa orang yang sepatutnya terlebih dahulu dihormati, dijawab oleh nabi, ialah ibumu. Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali dan dijawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya, baru pertanyaan yang ke empat, dijawab berbeda, yaitu dengan menyebut ayahmu.
Kisah dimaksud dengan jelas menggambarkan betapa mulianya posisi ibu dan juga wanita dalam kehidupan keluarga. Bahkan, wanita juga disebut sebagai tiang negara. Manakala tiang itu kuat dan atau kokoh, maka negara akan kuat dan kokoh pula, dan demikian pula sebaliknya. Pada akhir-akhir ini, banyak orang mulai gelisah terhadap hal yang amat mendasar, yaitu tentang moral, kharakter dan atau akhlak bangsa ini. Banyaknya kasus korupsi, konflik antar elite, penyimpangan seksual, penyalah gunaan obat terlarang, meningkatnya kenakalan remaja, dan seterusnya, kiranya perlu dilakukan instropeksi bersama, terutama oleh kaum wanitanya.
Peringatan hari RA. Kartini sekarang ini, kiranya tepat dijadikan momentum untuk melakukan instropeksi dan perenungan mendalam terhadap posisi strategis kaum wanita di dalam membangun keluarga, masyarakat, dan bangsa secara keseluruhan. Bak al Qur'an, hadits nabi, hingga berbagai hasil renungan mendalam yang dilakukan orang bijak, menempatkan posisi strategis para kaum ibu dalam membangun kehidupan yang mulia atau berperadaban tinggi. Semoga di hari Kartini, 21 April 2015, berhasil mengingatkan dan membangun kesadaran terhadap kaum wanita akan peran mulia yang seharusya diemban itu. Wallahu a'lam.



