Mencermati Karakter Bangsa Sekarang Ini
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 27 April 2015 . in Dosen . 3372 views

Para guru dan juga orang tua kita pada zaman dahulu selalu mengatakan bahwa, bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun, selalu mementingkan orang lain dibanding diri sendiri, menghormati orang yang lebih tua dan apalagi guru, memiliki toleransi yang tinggi, menyukai kebaikan, religious, penyabar, dan lain-lain. Mendengar penuturan para orang tua dan juga guru dimaksud rasanya menjadi amat bangga, telah ditaqdirkn menjadi bangsa Indonesia.

Apa yang digambarkan oleh orang tua dan para guru tersebut sebenarnya memang tidak salah. Nilai-nilai mulia sebagaimana dimaksudkan itu, dahulu memang masih sangat mudah ditemui dalam pergaulan sehari-hari, apalagi di pedesaan. Apabila pada suatu saat diketahui terdapat anak yang berani pada orang tua dan juga guru, maka yang bersangkutan akan disebut sebagai ' kurang ajar' atau orang yang tidak memiliki tatakrama. Sebutan tersebut dianggap sebagai hukuman yang mengganggu pikiran, dan juga perasaan.

Identitas atau sebutan kurang terpuji yang diberikan kepada seseorang, maka yang menangggung malu atau merasa hina adalah bukan saja yang bersangkutan, melainkan juga kedua orang tuanya, saudaranya, dan bahkan termasuk keluarga besarnya. Pada zaman dahulu, orang berpandangan bahwa, nama baik harus diajaga. Menjaga nama baik atau harga diri dianggap lebih utama dibanding dengan menjaga harta kekayaan, pangkat, jabatan, dan atau apa saja yang serupa dengan itu.

Namun dengan lajunya kemajuan yang tidak terkendali seperti sekarang ini, gambaran tentang nilai-nilai keutamaan tersebut, ternyata dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, terasa sudah hampir tidak ada yang tersisa lagi. Anak-anak muda memang masih menghormati orang tua dan juga guru, tetapi tidak sebagaimana dulu. Banyak sekali anak muda yang sudah berani dan bahkan membantah orang tuanya sendiri. Merendahkan dan atau mengabaikan orang tua, guru, dan para pemimpinnya, sudah dianggap hal biasa.

Nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi, misalnya bahwa orang lain harus dihargai, dihormati, dan lebih diutamakan dibanding dengan dirinya sendiri, maka rupanya hal itu sudah berubah dan bahkan berbalik. Bahwa dirinya sendiri harus diutamakan dibanding orang lain. Berebut apa saja dianggap menjadi hal biasa. Akhirnya, apa saja diperebutkan, mulai dari memperebutkan jabatan, harta, uang, popularitas, pengaruh, dan atau semua hal lainnya. Dahulu orang masih menempatkan kehormatan di atas segala-galanya, namun sebaliknya sekarang, orang bersedia mengorbankan kehormatannya hanya untuk memperoleh uang, jabatana, dan semacamnya itu.

Sebutan sebagai 'maling' atau dalam bahasa birokrasinya disebut 'korup' sekarang ini, bukan dianggap sebagai identitas yang terlalu perlu dihindari. Bahkan ada saja kalkulasi konyol, yaitu bersedia masuk penjara atau disebut 'koruptor' asalkan menurut perhitungannya masih beruntung. Misalnya, seseorang memilih korupsi satu milyard ketika hanya dihukum selama empat tahun daripada menikmati kebebasan di luar penjara tetapi tidak mendapatkan uang sejumlah itu.

Karakter bangsa akan semakin jelas lagi ketika dilihat dari perilaku politik para elitenya. Perebutan jabatan, baik di organisasi, partai politik, maupun pada posisi-posisi penting, baik di lembaga eksekutif, legislatifr, maupun di yudikatif adalah dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dipandang bahwa, posisi yang menguntungkan itu memang harus diperebutkan. Untuk meraih kemenangan dalam persaingan politik, tatkala seseorang menggunakan uang atau cara-cara lain yang kurang pantas sekalipun, adalah dianggap sebagai hal biasa.

Demikian pula, menjatuhkan, merendahkan, menghina, dan memfitnah orang lain dalam berpolitik tidak dianggap sebagai sesuatu keburukan. Antar sesama bukan berusaha menyelamatkan dan membahagiakan, melainkan justru saling merekayasa agar masuk penjara. Dalam istilah yang cukup populer pada akhir-akhir ini, orang melakukan kriminalisasi. Persaudaraan, pertemanan, dan persahabatan adalah bukan diukur dari kebaikan karakter atau akhlak seseorang, melainkan didasarkan pada kepentingan masing-masing. Orang menjadi dekat tatkala saling menguntungkan, dan segera berpisah bilamana keuntungan itu sudah tidak didapatkan lagi.

Suasana sebagaimana digambarkan tersebut, kehidupan seseorang menjadi amat prakmatis, yaitu apa saja yang dipikirkan dan dilakukan hanya berorientasi jangka pendek yang menguntungkan dari aspek sederhana, yaitu di seputar jabatan, kedudukan, dan uang. Oleh karena itu, melihat dan merasakan kenyataan tersebut, berbicara tentang karakter atau akhlak mulia seolah-olah sudah tidak relevan lagi. Apa yang dibicarakan tentang karakter terpuji itu sudah semakin hilang. Atau, pilihan sebaliknya, yaitu bahwa, di tengah-tengah karakter bangsa yang disadari sudah sedemikian memprihatinkan itu, maka harus dilakukan penyadaran secara terus menerus di berbagai kalangan, agar bangsa ini berhasil mempertahankan keberadaannya.

Betapa pentingnya karakter atau akhlak mulia itu bagi sebuah bangsa, hingga muncul pepatah yang mengatakan bahwa, jika suatu bangsa sudah kehilangan watak, karakter, dan akhlaknya, maka sebenarnya bangsa itu sudah kehilangan segala-galanya. Dalam sejarahnya, bangsa Arab pernah mengalami keadaan seperti itu, dan kemudian disebutnya sebagai zaman jahiliyah. Bangsa Indonesia, apapun keadaannya, belum sampai pada tingkat itu. Dan, sudah barang tentu, keadaan sebagaimana digambarkan itu, sama sekali tidak boleh terjadi. Para pemimpin dan akyat Indonesia, tanpa terkecuali, tidak akan menginginkan kehilangan watak, karakter dan atau akhlaknya. Maka, jalan yang tepat dan harus dilakukan adalah, semuanya harus secara bersama-sama segera kembali kepada wataknya semula, yaitu menjadi bangsa yang religious, mencintai sesama, para tokoh pejuangnya, pemimpinnya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskannya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up