Di banyak desa, selalu terdapat mubaligh yang kegiatnnya sehari-hari memberikan bimbingan, pembinaan dan penjelasan tentang banyak hal yang terkait dengan agama Islam. Tugas itu biasanya dijalankan atas dasar suka rela, didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap agamanya, dan juga kepercayaan dari lingkungan masyarakatnya. Siapa saja yang dipandang mampu menjalankan peran itu, maka dipercaya oleh masyarakat menjadi mubaligh di kampung atau di pedesaan.
Seringkali, sekedar di dalam hati, saya bertanya-tanya, mengapa para muballigh itu mampu menjelaskan dengan enak tentang pengetahuan agama kepada masyarakat. Mereka itu mampu berbicara dengan bahasa ummat atau rakyat, sehingga mudah diterima dan juga lebih dari itu, menjadi disenangi oleh banyak orang. Latar belakang pendidikan para guru agama di tengah masyarakat pedesaan itu biasanya hanya berasal dari tamanatan pesantren, atau bahkan tidak tamat.
Di lembaga pendidikan pesantren pada umumnya tidak ada pelajaran sosiologi, antropologi, psikologi, dan semacamnya itu. Akan tetapi hal yang perlu diakui, para mubaligh paham sekali tentang sosio kulturan masyarakat. Meraka itu mampu berbicara di tengah-tengah umat dengan bahasa yang jelas, isi atau gaya bicaranya menyesuaikan dengan tingkat atau alam pikiran masyarakat.
Para mubaligh tersebut juga tahu bahwa tugasnya adalah mengajak, dan siapapun yang megajak orang, dan agar yang diajak mau mengikuti, maka tidak boleh merendahkan siapapun, menyinggung perasaan, dan apalagi menyakiti hatinya. Orang yang oleh masyarakat pada umumnya dihormati itu mengerti bahwa dalam berdakwah harus menyenangkan, membawa kabar gembira, dan menarik simpatik.
Mungkin saja, ada juga mubaligh di pedesaan yang kualitas kemampuannya tidak terlalu menonjol, tetapi pada umumnya tidak pernah pembicaraannya mengakibatkan orang menjadi marah, tersinggung, dan beranti-pati pada Islam. Apakah lewat dakwahnya itu kemudian orang segera mengikuti jejaknya, masuk Islam atau masih menunda-nunda dulu, tetapi Islam tetap dihormati. Bagi mereka yang belum menjalankan ajaran Islam, mengatakan sebagai belum mampu 'nglampahi' atau belum menjalankan ajaran yang dianggap mulia itu.
Dulu, para mubaligh di pedesaan juga tidak merasa harus memelihara jenggot dan selalu bersorban, sebagaimana pada akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang. Seingat saya, para penyiar agama di pedesaan jutru yang berusaha menyesuaikan diri dengan pandangan masyarakat. Misalnya, masyarakat menghargai orang yang mengenakan sarung dibanding celana panjang, selalu memakai kopyah, dan sejenisnya, maka harapan sederhana itu dipenuhi. Para mubaligh sehari-hari, dan apalagi ketika berceramah selalu mengenakan sarung dan kopyah hitam.
Hal yang biasanya menarik dari cara berdakwah dari para mubaligh, selain tidak mau menyakiti hati, dengan misalnya mengolok-olok, merendahkan, menghina, dan apalagi menuduh kafir, munafiq dan sejenisnya, adalah dari bahan-bahan yang disampaikan selalu menarik. Biasanya mubaligh menyampaikan hal sederhana yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa kontemporer sekarang ini, para mubaligh memilih bahan ceramahnya, yakni yang realistis, tidak muluk-muluk, dan memang menyangkut persoalan kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat.
Sebagai contoh sederhana, terkait bahan ceramah mubaligh yang, menurut ingatan saya, sedemikian mengesankan, hingga hari ini masih belum terlupakan, yaitu sebagai berikut. Disebutkan bahwa muslim yang baik itu adalah mereka yang selalu memberi manfaat terhadap orang lain, siapapun orangnya. Mubaligh itu memberi contoh, bahwa seorang muslim ketika bertemu orang dan orang tersebut kemudian berpisah, maka yang bersangkutan akan mendapatkan kesan tentang kebaikannya. Setelah berpisah maka hatinya tetap gembira, merasa tenang, diperoleh manfaat dari pertemuannya itu, terutama dari akhlak atau sifat-sifat kemuliannya.
Selanjutnya, ketika menjelaskan tentang keindahan kehidupan seorang muslim misalnya, dibuat ilustrasi sebagai berikut. Bahwa seorang muslim bangun pagi dari tidur tidak pernah terlambat, karena harus shalat subuh berjama'ah di masjid. Segera setelah bangun, mereka ingat Tuhan dengan membaca doa, pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, dan selanjutnya bersama isteri dan anaknya mendatangi suara adzan. Seorang muslim dalam melakukan apa saja selalu memulai dengan mengucapkan basmallah, dan mengakhiri kegiatannya dengan mengucapkan hamdallah.
Bagi seorang muslim, pekerjaan baik apapun dilakukan dengan amanah, berkualitas, ikhlas, sabar, istiqomah, dan kemudian bertawakkal. Dengan penjelasan mubaligh tersebut, terasa sekali, ajaran Islam menjadi amat indah. Maka, orang yang belum menjadi santri atau muslim yang baik, menyebut bahwa dirinya 'dereng saget nglampahi'. Artinya, belum mampu menjalankannya, oleh karena terlalu indahnya ajaran Islam itu. Dengan demikian itu maka akhirnya, Islam yang sedemikian indah, berhasil disampaikan oleh mubaligh di pedesaan dengan cara yang begitu indah pula. Wallahu a'lam



