Menjadi Rakhmatan Lil 'Alamien Tanpa Terkecuali
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 19 April 2015 . in Dosen . 1258 views

Mndasarkan pada konsep rakhmatan lil alamien, bagi umat Islam, di mana pun mereka berada seharusnya mampu dan bersedia memberikan manfaat dan kasih sayang kepada semua atau siapa saja. Yaitu, kepada makhluk di muka bumi ini, tanpa terkecuali. Itulah sebenarnya, dengan Islam, maka dunia ini akan selamat, damai serta sejahtera, dan bukan sebaliknya, yakni menjadi bertambah masalah. Manakala rakhmat berhasil ditebarkan kepada semua makhluk yang ada, hingga yang berada di sudut-sudut bumi ini, maka kedamaian akan benar-benar tercipta.

Dengan mengemban amanah sebagai rakhmatan lil alamien, umat Islam tidak seharusnya merasa memiliki musuh, pesaing, atau apalah namanya yang dianggapnya mengganggu. Semua makhluk, tanpa terkecuali harus diposisikan sebagai pihak yang perlu diberi, diselamatkan, ditolong, dan dibahagiakan hidupnya. Kehadiran umat Islam di mana saja, harus mampu menjadi penyelamat, memeringkan beban, dan menghilangkan kekuatan apapun yang sekiranya mengganggu atau mengancam kehidupan ini.

Umat Islam mendapatkan amanah untuk ber amar makruf dan nahyu anil mungkar. Tugas ini harus ditunaikan dan diimplementasikan di mana dan kapan saja, dengan sungguh-sungguh, dan dijalankan dengan penuh kearifan. Berdakwah tidak boleh merugikan siapapun. Berdakwah adalah kegiatan membawa umat manusia kepada kebaikan, keselamatan, dan hidup damai. Membawa kepada kebaikan harus melalui cara-cara, pendekatan atau jalan yang baik dan terpuji. Tidak mungkin mengajak pada kebaikan, tetapi justru dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan kebaikan itu sendiri.

Umat Islam disebut-sebut di dalam kitab suci sebagai khalifah. Sebagai seorang pemimpin, maka amanah yang dibebankan kepadanya, di antaranya adalah menunjukkan tujuan hidup yang sebenarnya, memilihkan terhadap jalan yang benar yang harus dilalui, menghilangkan hambatan atau rintangan menuju pada kebaikan itu, memberikan kasih sayang, menunjukkan sifat mulia seperti ikhlas, sabar, istiqomah, dan tawakkal. Sebagai pemimpin pula, sebagaimana dicontohkan oleh nabi, umat Islam seharusnya membangun sifat mulia, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Sebagai khalifah di muka bumi, berbekalkan keimanan dan ilmu pengetahuan yang luas, umat Islam seharusnya menyandang kualitas pribadi, mampu berbuat adil, selalu berusaha mendekatkan diri pada Tuhan dengan berbagai jenis kegiatan ritual, dan selalu berusaha dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan sebaik-baiknya, atau dalam bahasa sederhananya, harus dilakukan secara professional. Pemimpin tidak boleh melakukan kerusakan dan atau sesuatu yang merugikan siapapun yang berada di bawah kepemimpinannya.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, pembawa ajaran Islam, pemimpin harus sanggup membangun pribadi dengan akhlak mulia. Yaitu, menjadikan dirinya sanggup menjaga kesucian, baik suci pada hatinya, pikirannya, dan juga jasmaninya. Selain itu, sebagai seorang pemimpin, maka seharusnya juga sanggup selalu berbagi kasih sayang kepada semuanya, tanpa terkecuali. Berbagai perbedaan, baik terkait agama, kepercayaan, suku, adat istiadat, warna kulit, bahasa, bangsa, atau apapun lainnya tidak menjadi penghalang untuk memberikan kasih sayang yang dimaksudkan itu.

Umat Islam harus selalu membangun pribadi unggul atau ketaqwaan agar sanggup mencintai semua. Kecintaannya itu tidak dibedakan antara terhadap bangsa-bangsa barat atau timur, antara bangsa-bangsa yang menempati wilayah dunia bagian utara atau bagian selatan, antara yang berkulit hitam maupun yang berkulit putih, atau pun juga kepada mereka yang warna kulitnya beraneka ragam. Umat Islam di mana saja, harus mampu menebarkan nilai-nilai kasih sayang dan nilai-nilai mulia lainnya yang diajarkan melalui kitab suci yang menjadi anutannya.

Akhirnya, agar mampu memberi, menyelamatkan, dan bahkan menciptakan kedamaian dalam kehidupan tanpa batas itu, maka umat Islam harus memiliki kekuatan lebih. Kekuatan itu, di antaranya adalah terkait dengan ilmu pengetahuan yang seharusnya dikuasai, kualitas pribadinya, kesanggupan untuk berlaku adil, berusaha agar selalu dekat pada Tuhan dengan berbagai kegiatan ritualnya, dan juga selalu bekerja atas dasar ilmu pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan atau dalam bahasa yang mudah dipahami disebut beramal shaleh.

Penyandang identitas sebagai rakhmatan lil alamien tanpa terkecuali itu, seharusnya menjadikan umat Islam tidak perlu menginventarisasi siapa musuhnya, siapa yang harus diperangi, dan siapa saja yang tidak boleh didatangi. Umat Islam harus membangun hubungan baik dengan siapa pun, setidaknya untuk berdakwah, untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah mulia, sanggup berkenalan dengan siapa saja, memahami dan menghormati semua orang, memberikan kasih sayang, dan juga menjalin kerjasama dalam kebaikan dengan semua orang.

Seorang muslim seharusnya selalu berusaha agar dapat mencitai orang lain sebagaimana mereka mencintai dirinya sendiri. Itulah sebagian dari makna rakhmatan lil alamien yang sedemikian indah dan ideal, dan sudah tentu seharusnya akan diwujudkan oleh siapapun yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up