Sebuah kebetulan saja, saya kedatangan tamu dari perguruan tinggi Islam. Seperti biasanya, mereka mengajak untuk membicarakan tentang bagaimana perguruan tinggi mengalami kemajuan sebagaimana yang diharapkan. Pembicaraan itu terkait dengan pengembangan kelembagaan, ketenagaan, iklim akademik, kemahasiswaan, pendanaan, dan lain-lain.
Pembicaraan yang agak serius adalah terkait dengan perpolitikan kampus. Sebagai dampak dari politik itu, maka sudah menjadi hal biasa, warga kampus terbelah menjadi berbagai kelompok organisasi yang seharusnya tidak perlu. Masing-masing organisasi di dalam kampus berusaha mendapatkan dukungan agar berhasil mendominasi kehidupan kampus.
Perebutan pengaruh tersebut tidak saja terjadi di kalangan mahasiswa melalui organisasi ektra kampus, tetapi juga sama saja di kalangan dosen, pimpinan, dan tidak ketinggalan para karyawanannya. Antar simpatisan organisasi Islam, tanpa dimotivasi dan juga dikomando, masing-masing melakukan apa saja untuk berebut pengaruh itu.
Bahkan menurut tamu yang sebenarnya juga merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan kampusnya yang diwarnai oleh suasana politik tidak sehat itu, juga merupakan refleksi masyarakat sekitarnya. Dikatakan bahwa masyarakat Islam di luar kampus sebenarnya juga terfragmentasi seperti itu. Padahal keadaan seperti itu akan mengakibatkan persatuan, kebersamaan, dan kerjasama menjadi sangat mahal dan sulit ditemukan.
Suasana kampus yang digambarkan menyedihkan itu, -----masih menurut tamu dimaksud, anehnya tidak terjadi di perguruan tinggi umum, baik negeri maupun swasta. Jika di kotanya itu terdengar perebutan jabatan dan bahkan konflik antar kelompok, maka justru terjadi di perguruan tinggi Islam. Padahal di perguruan tinggi yang misinya adalah mengembangkan ajaran agama itu seharusnya diwarnai oleh suasana yang lebih teduh, menghargai sesama, selalu mengedepankan kebersamaan dan kedamaian daripada sekedar berebut kemenangan.
Sebagai akibat dari terlalu kentalnya perpolitikan di kampus, seseorang yang tidak menjadi bagian kelompok yang sedang berkuasa, maka jangan diharap memiliki peluang berhasil untuk melakukan pengembangan diri secara maksimal. Hambatan atau pelemahan peran seseorang tidak jarang dialami oleh dosen atau pejabat lainnya yang sebenarnya memiliki potensi dan justru seharusnya dikembangkan secara maksimal demi untuk mengembangkan lembaganya ke depan.
Kampus yang diwarnai oleh suasana perpolitikan seperti itu tentu tidak sehat. Kampus bukan lembaga politik, melainkan adalah lembaga akademik. Sebagai lembaga akademik, maka seharusnya dikembangkan atas dasar prinsip obyektifitas, rasionalitas, terbuka, bertanggung jawab. Apa saja yang dijalankan adalah untuk mendapatkan kebenaran, dan bukan sekedar kemenangan. Apalagi, yang dimaksud adalah kemenangan atas kelompok yang ada di kampus itu. Di kampus seharusnya tidak berorientasi pada menang atau kalah, melainkan seharusnya adalah benar atau salah.
Kompetisi seharusnya dikembangkian dan terbuka bagi siapapun. Melalui kompetisi itu, maka akan diperoleh kualitas maksimjal. Akan tetapi, dalam berkompetisi, harus dilakukan secara terbuka, obyektif, jujur, dan adil. Kompetisi yang demikian itu akan membuahkan tradisi setiap orang menghormati prestasi. Orang dipilih, diakui, dan dihormati bukan atas pertimbangan kesamaan idiologi, kepercayaan, atau hal yang bersifat subyektif, melainkan oleh kemampuan dan hasil karyanya.
Orang yang berasal dari sebuah perguruan tinggi Islam yang sehari-hari diwarnai oleh politik kampus yang menyedihkan itu, berharap mendapatkan jalan keluar agar kampusnya benar-benar menjadi lembaga ilmiah dan bukan semacam lembaga politik. Mereka berkeyakinan, jika iklim politik kampus tidak bisa dihilangkan, dan atau setidaknya dikurangi, maka perguruan tinggi Islam dimaksud jangan diharapkan meraih kemajuan. Perguruan tinggi tersebut semakin lama akan kehilangan maknanya yang sebenarnya.
Untuk mengubah iklim perpolitikan kampus perguruan tinggi Islam tersebut, menurut hemat saya, harus ada pemimpin yang kuat yang memahami dan mampu berpihak pada misi awal kehadiran perguruan tinggi Islam itu sendiri. Pemimpin yang lemah dan ikut tenggelam pada suasana perpolitikan kampus yang dipimpinnya, maka jelas tidak akan mampu membawa kemajuan. Sebaliknya, justru hanya akan memperparah keadaan yang tidak sehat itu.
Sebenarnya banyak pintu untuk memperbaiki keadaan, akan tetapi saya berpandangan bahwa peran dan posisi strategis itu adalah berada pada kekutana pemimpinnya. Tanpa pemimpin yang kuat, maka lembaga pendidikan tinggi Islam tidak akan maju. Sehari-hari, suasana yang berkembang hanya bersifat politis, yaitu berebut, dan bahkan konflik yang terkait dengan pengaruh dan kekuasaan kiampus.
Mendengarkan informasi yang disampaikan oleh tamu sebagaimana disebutkan di muka, saya sendiri sebenarnya juga merasakan, bahwa hal itu sudah terjadi di mana-mana. Banyak perguruan tinggi Islam tidak berbicara akademik atau ilmu, tetapi lebih banyak berbicara tentang siapa rektornya, siapa dekannya, siapa ketua jurusannya, dan seterusnya. Jika demikian itu yang terjadi, maka perguruan tinggi Islam telah benar-benar kehilangkan arah dan makna yang sebenarnya. Wallahu a'lam



