Andaikan Ber-NU Bukan Sekedar Bersama Tetapi Juga Bersatu
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 25 Mei 2015 . in Dosen . 1860 views

Istilah bersama dan bersatu, terasa identik. Akan tetapi sebenarnya dengan mudah bisa dibedakan. Orang yang sedang bersama-sama di dalam satu rumah, tempat pesta, kereta api, pesawat terbang atau lainnya, belum tentu, mereka bersatu, atau bahkan kenal saja bisa jadi tidak. Demikian pula warga NU, mereka sudah sama-sama berada di dalam satu organisasi, idiologi, jama'ah, tetapi ternyata juga belum tentu bersatu . Di antara mereka masih berjalan sendiri-sendiri. Bahkan jika terdapat kepentingan yang berbeda, sekalipun di antara mereka sama-sama berada pada satu organisasi, ternyata tidak bersatu.

Berbeda dengan sekedar bersama-sama, adalah bersatu. Disebut bersatu tidak saja secara fisik berkumpul, atau secara organisasi menjadi sama-sama sebagai anggota, melainkan secara batin, jiwa, dan semangat juga sama. Orang yang bersatu oleh karena hati, jiwa, cita-citanya sudah sama, maka di antara mereka akan saling memperkukuh, melengkapi, membela, dan bahkan bersedia untuk berkorban ketika yang lain teraniaya atau setidaknya memerlukan bantuan.

Persatuan yang sebenarnya bukan hanya didasarkan pada kesamaan baju seragam, kartu anggota, asesoris, bertempat tinggal di kampong yang sama, ------sekalipun semua itu adalah penting, tetapi diikat oleh kesamaan idealism, cita-cita dan tujuan yang sama. Membangun persatuan yang kokoh, ternyata tidak mudah. Selain itu, persatuan yang koko harus dielihara. Sebab, ternyata persatuan pun juga bisa berubah-ubah. Pada suatu saat persatuan itu dapat dirasakan dan dilihat, tetapi pada saat lainnya segera berubah, mulai menjauh.

Jutaan orang di antara warga Indonesia ini mengaku sebagai orang yang mencintai NU, atau simpatisan NU, pengagum kyai atau tokoh-tokoh NU, dan sejenisnya. Mereka itu jika menjalankan shalat lima waktu, shalat jum'ah, memulai puasa atau berhari raya, dan lain-lain menunggu keputusan yang ditetapkan oleh pimpinan NU. Demikian pula, tatkala mereka itu melihat bendera NU, lambang NU, dan juga gambar kyai atau para tokoh NU sedemikian senang. Pokoknya, mereka itu sangat mencintai organisasi yang didirikan oleh para Kyai pengasuh pesantren.

Namun demikian, ------diakui atau tidak, kebersamaan dalam mencintai NU belum sepenuhnya berhasil menjadikan mereka benar-benar bersatu secara kokoh, apalagi jika boleh disebutkan, di antaranya ialah ketika sedang berada pada kegiatan politik. Sekalipun di antara mereka betahlil bersama, membaca surat Yasin bersama, berhari raya pada hari yang sama, dan bahkan juga shalat bersama, tetapi berbeda-beda dalam berafiliasi politik.

Dalam soal bersama-sama dan soal berkumpul warga NU sedemikian mudah. Untuk melaksankan kegiatan seperti istighosah, tahlil, yasinan, dan sejenisnya, warga NU tidak memelukan prosedur yang rumit. Agar warga NU datang dalam pertemuan, tanpa melalui undangan tertulis, tetapi sebaliknya hanya sekedar melkalui pengumuman, dan bajhkan undangan dengan kentongan atau bedug saja, mereka akan hadir. Oleh karena itu, sementara orang mengatakan bahwa NU sangat jagoan untuk mengumpulkan orang.

Namun sayangnya, tatkala berbicara tentang persatuan, ternyata belum sepenuhnya sukses. Warga NU dalam beberapa hal masih gagal bersatu. Dalam membesarkan sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dan apalagi dalam berpolitik, ternyata belum bisa kompak. Tidak sedikit warga NU yang belum mempercayai lembaga pendidikan yang dibangun oleh tokoh NU sendiri. Sekalipun sangat mencintai NU, tetapi masih memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan lain, dengan berbagai alasan, misalnya lebih disiplin atau lebih bermutu. Mereka masih menganggap, lembaga pendidikan yang dibangun oleh NU belum dipercaya sebagai telah memiliki keunggulan.

Hal demikian tersebut itu, adalah lebih-lebih dalam politik. Tentu sebenarnya hal itu tidak mengapa, akan tetapi terasa bahwa warga NU belum benar-benar bisa bersatu. Sementara ini, prestasi yang dihasilkan baru pada tingkat berhasil bisa bersama-sama. Sekedar bersama-sama pun juga sudah baik dan menguntungkan. Misalnya, masing-masing kyai membangun pondok pesantren, madrasah, atau perguruan tinggi, rumah sakit, dan lain-lain. Mereka bersama-sama membangun lembaga pendidikan dan fasilitas kesehatan tetapi tidak bersatu. Akan tetapiu umpama saja, kebersamaan itu dalam hal-hal tertentu, diikuti dengan persatuan akan menjadi kekuatan luar biasa.

Hal-hal tertentu yang dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persatuan tersebut misalnya, tatkala NU telah memiliki lembaga pendidikan atau perguruan tinggi, maka warga NU juga mengagendakan untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut. Generasi muda NU akan memperoleh pendidikan yang dikonsep oleh NU. Dengan cara itu diharapkjan generasi ke depan, masih selalu ada yang tetap mencintai NU. Tidak sebaliknya, sekolah atau perguruan tinggi NU kekurangan murid atau mahasiswa di tengah-tengah jumlah warga NU sendiri yang sedemikian besar.

Tulisan ini sebenarnya hanya sebatas berandai-andai, perumpamaan, atau permisalan, bahwa seumpama warga NU itu bersatu dan tidak sekedar bersama-sama, maka NU ke depan akan menjadi sangat kokoh. Semua yang digerakkan NU, oleh karena jumlah anggoitanya sedemikian besar, maka akan cepat berkembang dan maju. Namun sayangnya, NU masih belum benar-benar berhasil bersatu, sehingga akibatnya, banyak madrasah, rumah sakit, dan perguruan tinggi kalah bersaing. Memang, kunci keberhasilan itu bukan sebatas terletak pada adanya kebersamaan, tetapi adalah harus adanya persatuan. Semoga NU ke depan benar-benar bisa bersatu dan bukan sekedar kumpul bersama-sama. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up