Banyak keuntungan social yang diperoleh dari mengikuti kegiatan berdzikir bersama. Tanpa ada surat undangan, masyarakat dari berbagai kalangan hadir dan mengikuti kegiatan dzikir. Di Malang, ada beberapa jenis jama'ah dzikir, di antaranya adalah Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah, Majlis Dzikir ar Ridwan, Majlis Dzikir al Hidmah, dan kiranya masih ada beberapa lagi lainnya.
Masing-masing jama'ah dzikir diikuti oleh puluhan ribu jama'ah. Majlis Maulid wa Taklim Riyadul Jannah misalnya, pada saat diselenggarakan dzikir Malang Raya, diikuti hingga puluhan ribu jama'ah. Mereka datang dari Kabupaten Malang, Kota Batu, dan juka Kota Malang, berasal dari berbagai kalangan, baik dari kalangan klas bawah hingga para mahasiswa, dosen, karyawan, buruh, dan lain-lain.
Kenyataan tersebut menjadikan kegiatan dzikir sebagai sarana efektif untuk menyatukan di antara berbagai jenis kalangan di masyarakat yang berbeda-beda. Dzikir bersama tidak saja dilaksanakan di halaman masjid atau mushalla, tetapi juga di kampus-kampus, baik kampus negeri maupun swasta, di halaman sekolah, di halaman kantor pemerintah, dan bahkan juga di lapangan atau stadion yang sehari-hari digunakan untuk bermain sepak bola.
Di antara mereka yang hadir juga ada yang berstatus sebagai pegawai, pejabat pemerintah, dan tidak terkecuali adalah tentara dan polisi. Tentara dan polisi ikut berdzikir. Hal demikian itu dulu, pada masa orde baru, tidak pernah terjadi. Tentara dan rakyat seolah-olah tidak bisa bertemu bersama-sama. Tentara atau polisi sekalipun masih mengenakan pakaian seragam kesatuannya, juga berkopyah putih. Memang kelihatan aneh, seseorang berseragam tentara, tetapi berkopyah putih sebagaimana para santri pada umumnya.
Dengan kegiatan berdzikir bersama, maka siapapun tidak terkecuali polisi dan tentara menyatu dengan rakyat. Mereka bersama-sama duduk khusu' mengikuti dzikir, sehingga antara polisi dan tentara menjadi tidak ada jarak dengan rakyat. Oleh karena itu, jika ada pendapat yang mengatakan bahwa betapa sulit menyatukan tentara dengan rakyat, maka melalui dzikir bersama adalah jawabnya. Berdzikir bersama menjadi sarana efektif untuk menyatukan di antara semua orang.
Pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2015, Majlis Maulid wa Taklim Riyadul Jannah menyelenggarakan dzikir bersama di halaman Universitas Merdeka Malang. Kegiatan itu dirangkaikan dengan acara Dies Natalis perguruan tinggi itu yang ke 51. Pada kesempatan itu hadir Rektor dan ketua Yayasan Universitas Merdeka Malang, para dosen, mahasiswa, dan masyarakat jama'ah dzikir itu, berjumlah tidak kurang dari 40.000 (empat puluh ribu) orang jama'ah.
Universitas Merdeka Malang yang selama ini dikenal sebagai perguruan tinggi milik tentara, ternyata mengambil langkah strategis, yaitu menghadirkan majlis dzikir yang diikuti oleh sekian banyak jama'ah tersebut. Dengan cara itu, maka kampus itu menjadi dekat dengan rakyat. Apalagi pada kesempatan itu, dalam sambutannya, Rektor mengumumkan di antaranya bahwa, siapa saja yang hafal al Qur'an 30 juz, dan bermaksud masuk menjadi mahasiswa , maka akan dibebaskan dari seluruh biaya pendidikan hingga yang bersangkutan lulus menjadi sarjana.
Kebijakan dimaksud mempertegas bahwa Universitas Merdeka Malang, sebagaimana dijelaskan oleh rektornya sendiri, akan membangun keseimbangan antara kekayaan spiritual dan kekuatan intelektual. Dua kekuatan itu akan dikembangkan secara seimbang. Sudah barang tentu, kebijakan itu akan membuahkan apresiasi yang tinggi dari para jama'ah dzikir. Selain itu, melalui kegiatan dzikir bersama itu juga akan memperteguh bahwa perguruan tinggi yang dirintis dan dibina oleh Yayasan yang berada di bawah Pagdam Brawijaya dimaksud akan benar-benar berhasil menyatukan antara tentara dan rakyat. Wallahu a'lam.



