Memaknai Perguruan Tinggi Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 30 Mei 2015 . in Dosen . 883 views

Belum lama ini, yakni pada tanggal 25 Mei 2015, saya diundang oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Surabaya. Mereka mengundang saya untuk diajak membicarakan tentang pengembangan perguruan tinggi Islam di lingkungan organisasi itu. Selama ini, Yaysan Pesantren Hidayatullah telah memiliki lima perguruan tinggi Islam di beberapa tempat, yaitu di Jakarta, di Malang, di Surabaya, di Batam, dan di Balikpapan.

Beberapa lembaga pendidikan tinggi yang telah berhasil dididirikan tersebut baru berbentuk sekolah tinggi. Ke depan, selain akan ditambah jumlahnya, juga akan ditingkatkan bentuk kelembagaannnya, maupun terkait kualitasnya. Hal yang agaknya unik, bahwa selama ini lembaga pendidikan tinggi dimaksud baru menerima mahasiswa secara terbatas, dan semuanya diberi beasiswa.

Para lulusan perguruan tinggi di lingkungan Hidayatullah akan dijadikan kader dakwah ke beberapa tempat, baik untuk menjadi guru di sekolah-sekolah yang dikelola oleh organisasi Islam itu, maupun ditugasi untuk membina masyarakat pada umumnya. Jenis keilmuan yang dikembangkan perguruan tinggi dimaksud, oleh karena masih berbentuk sekolah tinggi, juga masih terbatas, yaitu ilmu-ilmu tarbiyah, syari'ah, dan ekonomi Islam.

Pada kesempatan itu, saya menyampaikan gagasan bahwa jika Hidayatullah ingin berdakwah secara komprehensif dan luas, maka harus ada keberanian membuka perguruan tinggi dalam bentuk universitas. Jika yang dikembangkan hanya seperti sekarang ini, yaitu berbentuk sekolah tinggi dan hanya mengembangkan keilmuan secara terbatas, maka lulusannya tidak akan mudah menjalankan dakwah sebagaimana tuntutan modern seperti sekarang ini.

Masyarakat modern sebagaimana bisa dirasakan sekarang ini, sehari-hari diwarnai oleh suasana ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, perubahan masyarakat sangat pesat. Berbeda dengan masyarakat agraris, masyarakat modern adalah sangat rasional, obyektif, terbuka, bahkan serba kalkulatif dan materialistik. Maka Islam seharusnya diperkenalkan dengan cara berbeda dari masyarakat agraris tempo dulu.

Berdakwah kepada masyarakat agraris atau bahkan kepada masyarakat yang ilmu pengetahuan, teknologi dan informasinya melum sedemikian maju, maka seharusnya berbeda dengan kepada masyarakat yang seperti sekarang ini. Rasanya akan sulit memberikan pengaruh,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up