Memimpin Dengan Kekuatan NU dan Muhammadiyah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 12 Mei 2015 . in Dosen . 3872 views

Setelah beberapa waktu memimpin UIN Malang hingga kemudian ada tanda-tanda berhasil, saya pernah ditanya oleh seorang teman, tentang apa saja yang menjadi kunci keberhasilan itu. Pertanyaan tersebut, saya jawab dengan sederhana, bahwa memimpin perguruan tingggi Islam negeri di Malang, dan mungkin juga di mana saja, asalkan berhasil menempatkan diri dan bersedia mengelola adanya perbedaan secara tepat, maka amanah itu tidak akan sulit ditunaikan dan insya Allah akan berhasil.

Saya menjelaskan bahwa di perguruan tinggi Islam negeri pada umumnya, tidak terkecuali di Malang, selalu terdapat organisasi sosial keagamaan, misalnya NU, Muhammdiyah, Tariyah Islamiyah, al Irsyad, dan sejenisnya. Demikian pula di UIN Malang, para dosen, karyawan, dan mahasiswanya, setidaknya juga terbagi dalam dua kelompok organisasi sosial keagamaan, yaitu NU dan Muhammadiyah. Adanya organisasi itu akan menjadi kekuatan untuk memajukan institusi manakala dikelola dengan tepat.

Keberadaan organisasi tersebut sebenarnya merupakan warisan sejarah yang tidak mungkin dihindari. Umat Islam di Indonesia pada umumnya, sudah sejak lama, jika tidak disebut NU, maka plihan lainnya di antaranya adalah Muhammadiyah. Memang ada yang mengaku tidak ikut ke mana-mana, tetapi tatkala yang bersangkutan mengawali puasa ramadhan atau hari raya, pada waktu shalat jum'at, dan beberapa hal lainnya, maka akan kelihatan afiliasi organisasi pilihannya. Tatkala seseorang dalam shalat subuh tidak khunut, maka disebut orang Muhammadiyah dan sebaliknya, jika membaca doa khunut, mereka akan dianggap sebagai warga NU.

Pertanyaan tentang keberhasilan memimpin UIN tersebut diajukan kepada saya, mungkin saja dirasakan ada sesuatu yang agak aneh. Memimpin dua kelompok yang dianggap berbeda biasanya tidak gampang. Di mana-mana antara kelompok yang berbeda itu selalu terjadi kompetisi dan bahkan konflik. Mungkin saja persaingan itu masih tetap ada, tetapi tidak tampak dan apalagi hingga sampai mengganggu upaya pengembangan perguruan tinggi milik kementarian agama itu. Dianggap menjadi aneh lagi oleh karena saya sebelum memimpin kampus itu, dalam waktu cukup lama, ikut memimpin Universitas Muhammadiyah Malang.

Sebagai orang yang dikenal menjadi bagian kelompok tertentu adalah wajar jika mendapatkan resistensi dari kelompok lain. Akan tetapi pada kenyataannya resistensi atau penolakan itu tidak terjadi dan memang tidak pernah saya rasakan. Sudah menjadi hal lazim bahwa, pemimpin yang berasal dari kelompok berbeda tidak mudah diterima. Ketika itu, saya sebagai orang yang lama ikut memimpin Muhammadiyah tidak merasa diperlakukan secara berbeda oleh teman-teman NU yang jumlahnya di kampus itu justru jauh lebih banyak.

Sebelum menjadi ketua STAIN dan kemudian dilanjutkan menjadi Rektor UIN Malang, keterlibatan saya pada Muhammadiyah amat jelas. Tidak kurang dari 13 tahun, saya menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik. Ditambah dengan jabatan sebelumnya, genap selama 20 tahun, saya ikut terlibat memimpin perguruan tinggi Muhammadiyah. Bahkan selain itu, selama 10 tahun, saya menjabat sebagai ketua Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah Kabupaten Malang. Kemudian setelah itu, saya masih menjabat sebagai anggota Majlis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Anehnya, status saya sebagai Pimpinan Muhammadiyah tidak dipermasalahkan oleh teman-teman NU di kampus itu.

Maka setiap kali ada pertanyaan tentang kunci keberhasilan memimpin UIN Malang, saya selalu menjajawab bahwa hal itu disebabkan oleh satu di antaranya adalah karena di kampus itu terdapat dua kekuatan yang menyatu, yaitu NU dan Muhammadiyah. Adanya dua organisasi sosial keagamaan itu menjadikan seolah-olah, saya telah disangga oleh dua kaki sekaligus sehingga menjadi semakin sempurna. Keberadaan para dosen yang berafiliasi ke NU, saya menjadi tidak mengalami kesulitan tatkala membuat program yang ada kaitannya dengan Bahasa Arab. Harus diakui bahwa kemampuan para dosen yang berafiliasi pada NU, umumnya memiliki kelebihan dalam pemahamannya terhadap kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sementara itu, para dosen dan karyawan yang berafiliasi pada Muhammadiyah,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up