Pengalaman Menjadi NU Dan Sekaligus Muhammadiyah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 10 Mei 2015 . in Dosen . 36768 views

Keinginan agar antara NU dan Mhammadiyah semakin bersatu dan bersama-sama menjalankan kegiatan dawah sudah semakin banyak dirasakan oleh berbagai pihak. Bahkan dalam sebuah ceraman, Prof. Syafii Maarif, seorang tokoh Muhammadiyah, pernah mengusulkan agar dimungkinkan seseorang memiliki dua kartu anggota orgaisasi sosial keagamaan sekaligus. Seseorang menjadi anggota NU dan juga anggota Muhammadiyah.

Keinginan yang sedemikian mulia tersebut sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang berebih-lebihan, dan bahkan juga bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Disebut sebagai sesuatu yang mulia oleh karena persatuan di antara umat Islam adalah merupakan pelaksanaan ajaran yang amat jelas rujukannya, yaitu al Qur'an dan hadits nabi. Bahkan sebaliknya, tidak ada sepotong ayat al Qur'an atau hadits nabi yang membolehkan umat Islam bercerai berai atau tidak saling berjuang membangun persatuan.

Jika selama ini dirasakan bahwa umat Islam masih sulit dalam mengimplementasikan konsep tentang persatuan yang indah dan mulia itu, sebenarnya hanya terhambat oleh persoalan psikologis, sejarah, dan hal yang bersifat sosiologis belaka. Di antara mereka itu masing-masing terlanjur memiliki nama, sebutan, identitas, dan simbol kelompok yang berbeda, sehingga secara psikologis dan sosiologis tidak mudah di antara mereka saling merasa ada kesamaan. Perasaan berbeda itu sudah berlangung lama, sehingga wajar jika hal demikian itu dianggap lazim dan merasa harus dipertahankan.

Selama ini tidak banyak orang yang memiliki pengalaman, pernah menjadi bagian dari NU dan sekaligus menjadi bagian dari Muhammadiyah. Pada umumnya seseorang ketika sudah merasa menjadi Muhammadiyah tidak berkeinginan menjadi NU dan begitu pula sebaliknya. Bahkan, ketika seseorang sudah menjadi bagian dari salah satu organisasi sosial keagamaan tertentu tidak berkeinginan untuk mempelajari organisasi sosial keagamaan lainnya. Tatkala seseorang sudah menjadi NU, maka mengangap bahwa Muhammadiyah sebagai orang lain yang tidak perlu dipahami atau didekati, dan begitu pula sebaliknya.

Lebih aneh lagi, dan hal itu rupanya berlaku umum, bahwa masing-masing tatkala melihat kelompok atau orang lain, bukan melihat pada aspek kelebihan atau keindahannya, melainkan pada kekurangannya. Rupanya terasa lebih mudah misalnya, orang NU melihat kekurangan orang Muhammadiyah dan begitu pula sebaliknya, orang Muhammadiyah terasa lebih mudah melihat kekurangan NU. Kenyataan seperti itulah yang menjadikan ada jarak antara kedua organisasi keagamaan yang berbeda itu. Akibatnya, sillaturrahmi di antara keduanya menjadi tidak terlalu intensif, sehingga mengakibatkan tidak saling memahami, menghargai, mencintai, dan bahkan juga tidak saling bertolong menolong.

Terkait dengan kedua organisasi sosial keagaman tersebut, saya memiliki pengalaman yang mungkin saja unik, yaitu sejak kecil, hidup bersama orang tua yang kebetulan menjadi tokoh NU. Ayah sebagai pimpinan NU dan ibu sebagai pimpinan Muslimat di daerahnya. Namun tidak jauh dari rumah, dan juga masih keluarga, bertempat tinggal pula seorang pimpinan Muhammadiyah. Oleh karena keberadaan kedua organisasi tersebut sudah cukup lama, maka perbedaan itu tidak terlalu menjadi perhatian. Sekali-kali, saya mengikuti shalat di masjid NU yang dipimpin oleh ayah saya sendiri dan pada kesempatan lain, bersama teman-teman mengikuti sholat tarweh di masjid Muhammadiyah. Anak-anak di desa itu tidak begitu hirau dengan perbedaan itu.

Anehnya, sekalipun ayah saya menjadi pimpinan NU dan juga ibu saya menjadi pimpinan muslimat, tidak pernah melarang anak-anaknya datang ke masjid Muhammadiyah. Mungkin saja, mereka menganggap bahwa hal demikian itu tidak perlu dilarang. Pengalaman saya yang sedemikian itu dan ditambah bahwa, saya menempuh pendidikkan di sekolah umum, yaitu di SD, SMPN, SMAN, sehingga di lingkungan itu tidak banyak memperbincangkan tentang organisasi sosial keagamaan apapun. Suasana seperti itu menjadikkan saya tidak pernah fanatik pada satu organisasi sosial keagamaan tertentu secara berlebihan. Hanya saja secara terus terang, saya tidak menyukai tatkala muncul kritik terhadap NU oleh karena, saya merasa bahwa mengkritik NU sama artinya dengan mengritik ayah dan ibu saya sendiri.

Sekalipun mengenal kedua organisasi sosial keagamaan tersebut, saya lebih dekat dengan NU. Pada saat masih remaja saya menjadi pengurus IPNU dan bahkan ketika menjadi mahasiswa di perguruan tinggi masuk menjadi anggota PMII. Namun demikian lagi-lagi, keterlibatan saya di IPNU dan juga di PMII tidak mengurangi komunikasi saya dengan IPM dan juga HMI. Pelajaran tentang komunikasi secara terbuka dan bersifat lintas batas tersebut sebenarnya saya peroleh dari ayah saya sendiri. Sekalipun sebagai seorang pimpinan NU, ayah saya tidak pernah membatasi diri dalam pergaulan. Dalam berdakwah, ayah saya bergaul dengan berbagai kalangan, baik dengan sesama orang NU sendiri, orang Muhammadiyah, dan bahkan juga dengan orang yang belum mengenal Islam. Ayah saya berpandangan bahwa berdakwah itu harus mendekat. Keyakinan ayah saya dari yang saya tangkap bahwa, berdakwah dengan cara menjauh, menyakiti, menyinggung, dan apalagi memusuhi sebenarnya tidak akan berhasil. Oleh karenanya, cara-cara yang demikian itu seharusnya tidak boleh dilakukan. Berdakwah harus dilakukan dengan cara mendekat.

Pengalaman hidup sebagaimana saya kemukakan secara singkat di muka, menjadikan komunikasi saya dengan berbagai kalangan tidak ada hambatan apa-apa. Selama ini, saya merasa begitu mudah bergaul dengan siapapun, baik dengan orang NU, orang Muhammadiyah, maupun dengan kelompok manapun lainnya. Sejak masih muda, saya sudah bertemu dengan KH Abdurrahman Wahid, Muslim Abdurrahman, Djohan Efendy, Nur Cholis Madjid, A. Malik Fadjar, Syafi'i Maarif, Amien Rais, dan juga dengan para Kyai Pengasuh pesantren. Selain itu, pada setiap lima tahun sekali diselenggarakan muktamar NU, saya selalu hadir, dan demikian pula ketika diselenggarakan muktamar Muhammadiyah. Lebih dari itu, saya pernah menjadi pengurus Muhammadiyah hingga pada tingkat pusat dan demikian pula, saya juga menjadi pengurus NU, baik di tingkat cabang, wilayah, hingga di tingkat pusat.

Saya bersyukur memiliki pengalaman, pernah ikut mengurus dua jenis organisasi sosial keagamaan yang berbeda. Pengalaman itu saya rasakan sedemikian indah dan menyenangkan, Maka, saya membayangkan bahwa keadaan itu akan semakin indah, manakala kedua organisasi dimaksud,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up