Di antara hal penting dalam pemberdayaan masyarakat di pedesaan adalah memberikan bimbingan dan contoh-contoh nyata secara tepat dan sungguh-sungguh. Bahwa sebenarnya, masyarakat di pedesaan memiliki berbagai potensi yang sangat mungkin dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Akan tetapi berbagai potensi itu ternyata banyak yang belum dimanfaatkan. Potensi yang kadang sedemikian besar itu akhirnya tidak memberi keuntungan apa-apa.
Suatu contoh sederhana, bahwa di banyak tempat, terutama di kalangan masyarakat muslim, terdapat masjid, mushalla, dan jenis tempat ibadah lainya. Pembangunan tempat ibadah itu tidak mudah dan juga tidak murah, lagi ula mereka harus berswadaya. Di beberapa tempat, masjid berukuran besar, sehingga biaya membangun dan perawatannya tidak murah. Akan tetapi pemanfaatnnya ternyata tidak maksimal. Banyak tempat ibadah itu hanya digunakan pada waktu shalat jum'at, sedangkan untuk shalat lainnya, mereka lebih suka di rumah atau di tempat lain. Masjid yang dibangun dengan berbiaya mahal itu belum dimanfaatkan maksimal, apalagi pada waktu subuh hanya didatangi oleh beberapa orang saja.
Umpama masjid itu tidak saja digunakan untuk memenuhi kebutuhan ritual yang terbatas itu, akan tetapi juga digunakan untuk memberi layanan yang lebih luas, maka manfaat tempat ibadah itu akan menjadi lebih sempurna. Misalnya, masjid digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan, kunsultasi keluarga, pendidikan, memberikan layanan terhadap berbagai kebutuhan informasi, dan lain-lain, maka kehadiran masjid akan semakin memberi manfaat. Namun sementara ini, fungsi masjid masih terbatas dan kadang bahkan hanya sebatas sebagai kebanggan belaka.
Tidak saja pemanfaatan tempat ibadah, dalam kehidupan ekonomi juga sama. Banyak tanah kosong yang kadang sedemikian luas, tetapi juga tidak ditanami, sehingga tidak memberi manfaat apa-apa. Padahal di sekitar itu banyak tenaga yang menganggur. Mereka sebenarnya juga mengetahui, bahwa umpama tanah dimaksud ditanami tanaman sederhana dan tidak memerlukan perawatan yang berat, misalnya ditanami kayu mahoni atau sengon, maka hanya dalam waktu beberapa tahun saja, hasilnya akan luar biasa besarnya. Akan tetapi oleh karena tidak ada yang membimbing, mengarahkan, dan memberi contoh, maka semua potensi itu dibiarkan percuma. Sekalipun ada peluang atau potensi, mereka tidak memanfaatkan, sehingga sekalipun berada di tanah luas dan subur, tetapi tidak akan memperoleh apa-apa, atau tampak kaya tetapi sebenarnya miskin.
Demikian pula, umpama masyarakat pedesaan itu dibimbing dan diarahkan untuk berternak, misalnya berternak kambing, sapi, kerbau, ayam, dan sejenisnya, maka hasilnya akan mencukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi lagi-lagi aneh, mereka memiliki tanah luas, mampu bertani dan berternak, tetapi kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, kedelai, buah-buahan, daging, dan bahkan garam saja ternyata harus membeli atau import ke luar negeri. Umpama bangsa ini oleh karena belum menguasai teknologi, sehingga harus mengimport mobil, pesawat terbang, dan berbagai kelengkapan hidup modern lainnya, kiranya tidak mengapa. Akan tetapi manakala kebutuhan yang bisa dihasilkan sendiri saja, sebagaimana dikemukakan di muka, ternyata harus membeli ke luar negeri, maka pertanyaannya, apa sebenarnya yang akan diandalkan oleh bangsa ini.
Kiranya perlu diyakini, seyakin-yakinnya, bahwa bangsa ini sebenarnya bukan bangsa yang lembek, bukan bangsa yang bodoh, bukan bangsa pemalas, bukan bangsa yang tidak punya cita-cita, bukan bangsa yang tidak ingin berprestasi, dan seterusnya. Akan tetapi rupanya,



