Al Qur'an Di Bulan Ramadhan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 21 Juni 2015 . in Dosen . 1424 views

Kapan saja kitab suci al Qur'an, bagi umat Islam, seharusnya menjadi bacaan pada setiap hari. Orang Islam mencintai agamanya. Sedangkan apa yang dimaksud dengan agama itu sebenarnya dijelaskan di dalam kitab suci itu. Itulah sebabnya, seorang muslim jika ditanya tentang pedoman hidupnya, maka akan segera dijawab al Qur'an dan hadits nabi.

Namun dalam kesehari-harian, pada kebanyakan kaum muslimin, ternyata masih ada sesuatu yang kurang sempurna. Yaitu menjadikan kitab suci itu benar-benar sebagai sesuatu yang dicintai. Layaknya dicinta, seharusnya sesuatu itu selalu dekat dengannya. Tidak boleh jauh, apalagi selalu dibiarkan begitu saja.

Pada bulan-bulan selain Ramadhan, al Qur'an sebagai kitab suci itu tidak banyak terdengar dibaca. Jika ada, biasanya suara itu hanya berasal dari masjid. Itupun hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada hari Jum'at atau menjelang shalat subuh. Bahkan kadang juga agak aneh, yakni datangnya suara al Qur'an itu ternyata hanya berasal dari kaset. Sementara petugas di masjid tidak selalu berada di tempat itu.

Mengetahui hal demikian itu, beberapa waktu yang lalu, Wakil Presiden Yusuf Kalla, yang beliau juga sekaligus sebagai ketua Dewan Masjid Seluruh Indonesia membuat statemen, bahwa akan menertibkan kumandang al Qur'an yang hanya diperdengarkan melalui kaset tersebut. Namun rupanya, peringatan itu tidak semua pihak bisa memahaminya, dan membuat reaksi kurang positif.

Berbeda dari bulan-bulan lainnya, pada Bulan Ramadhan al Qur'an benar-benar menjadi sesuatu yang sangat dicintai. Di mana-mana kitab suci itu terdengar di baca, baik di rumah-rumah penduduk, maupun di tempat ibadah, seperti mushalla, langgar atau masjid. Bacaan al Qur'an itu semakin ramai terdengar pada waktu-waktu tertentu, misalnya di pagi hari menjelang subuh, di sore hari, dan bahkan pada malam hari. Pada Bulan Ramadhan siapa saja yang ingin mendengarkan bacaan al Qur'an akan terpenuhi dengan mudah.

Pada Bulan Ramadhan al Qur'an menjadi hidup. Banyak orang bersemangat ingin membaca dan bahkan menghatamkannya. Sudah barang tentu, hal itu adalah sangat baik dan menggembirakan. Umat Islam telah mencintai agama dan atau kitab sucinya. Dalam salah satu kesempatan, saya pernah menyampaikan pandangan, bahwa umpama umat Islam semakin dekat dengan al Qur'an, dekat dengan masjid, dan dekat dengan para ulama'nya, maka umat Islam akan menjadi jelas jatidirinya.

Terhadap kitab suci al Qur'an, orang yang membacanya saja diyakini akan melahirkan kebaikan dan atau memperoleh pahala. Maka, akan lebih sempurna, jika al Qur'an itu tidak saja dibaca, tetapi juga dihayati maknanya dan dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Sementara ini, yang sekiranya masih perlu ditingkatkan adalah adanya gerakan untuk memahami dan menghayati makna al Qur'an, dan apalagi mengamalkannya. Padahal justru yang disebutkan terakhir itulah sebenarnya yang pokok atau mendasar.

Masih terkait dengan al Qur'an, fenomena yang pada akhir-akhir ini semakin menggembirakan adalah munculnya gerakan menghafal al Qur'an di berbagai lembaga pendidikan, bahkan hingga di perguruan tinggi umum sekalipun. Beberapa tahun terakhir dikabarkan bahwa, di kampus-kampus perguruan tinggi besar, seperti di Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, ITS, UNESA, UNS, dan lain-lain, banyak mahasiswanya menghafal al Qur'an. Dan, semakin menggembirakan lagi, para penghafalal kitab suci itu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari pimpinan kampusnya.

Dahulu, sementara orang mengira, bahwa dengan menghafal al Qur'an, maka akan mengganggu kecerdasan dan menjadikan bidang studi yang digeluti akan gagal. Dugaan itu ternyata segera terbantahkan. Pada setiap diselenggarakan wisuda, lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang nilainya paling unggul, ternyata adalah para tahfidz atau penghafal al Qur'an secara sempurna, yakni 30 juz.

Kenyataan tersebut mengingatkan kembali pada sejarah kemajuan Islam, bahwa para ulama besar dalam berbagai bidang ilmu, sejak zaman dahulu adalah para penghafal al Qur'an. Mereka hafal kitab suci al Qur'an, tetapi juga menguasai dengan baik disiplin ilmunya masing-masing. Sekedar menyebut beberapa ulama besar itu, adalah misalnya Ibn Shina, al Farobi, Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, dan lain-lain.

Oleh karena itu, munculnya fenomena baru, yakni semakin banyaknya generasi muda atau para mahasiswa dalam berbagai disiplin ilmu menghafal al Qur'an, maka sangat mungkin, akan segera muncul ulama-ulama besar pada generasi mendatang, berasal dari negeri ini. Segalanya akan terjadi, manakala Allah swt., menghendaki. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up