Andaikan Semua Kegiatan Dimaknai Ibadah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 26 Juni 2015 . in Dosen . 12890 views

Dalam Islam sebenarnya semua kegiatan bisa dimaknai ibadah. Akan tetapi pada kenyataannya tidak selalu dipahami begitu. Sementara umat Islam menganggap bahwa yang disebut ibadah adalah kegiatan ritual, seperti berdzikir, shalat, puasa, zakat, dan haji. Memang ada beberapa jenis kegiatan lain yang juga disebut ibadah, tetapi rupanya kegiatan yang dimaksudkan itu, karena masih dianggap ada kaitannya dengan kegiatan ritual, seperti membangun masjid, ikut membangun madrasah atau pesantren, dan sejenisnya.

Selain itu, ada kegiatan social yang biasa disebut ibadah, yaitu misalnya memperhatikan anak yatim, memberi makan orang miskin, dan bershadaqoh pada hari-hari tertentu. Berbagai jenis kegiatan yang tidak dianggap ada kaitannya dengan kegiatan ritual, sekalipun sebenarnya penting dan banyak manfaatnya bagi kehidupan, bukan dimaknai ibadah. Cara melihat seperti itu, kata ibadah yang sebenarnya amat luas, akhirnya menjadi terbatas. Bahkan, pemaknaan sempit seperti itu termasuk juga pada pengertian Islam.

Sebenarnya konsep ibadah itu sendiri sudah dikategorikan menjadi dua, yaitu antara ibadah mahdzah dan ibadah ghoiru mahdzah. Disebut sebagai kegiatan ibadah mahdhah manakala kegiatan itu terkait dengan kegiatan ritual sebagaimana dimaksudkan di muka. Sedangkan ghoiru mahdhah adalah kegiatan yang tidak langsung terkait dengan kegiatan ritual, misalnya mencari ilmu pengetahuan, bekerja untuk mendapatkan rizki, berjuang membela keadilan, dan lain-lain.

Sebenarnya, sekalipun suatu kegiatan masuk kategori ghoiru mahdzah, tetapi jika dilaksanakan dengan berniat ikhlas, sungguh-sungguh, dan dilaksanakan untuk memenuhi perintah Allah, maka pahala dan keutamaannya tidak lebih rendah dibanding ibadah mahdzah sekalipun. Namun kebanyakan orang, biasanya lebih berhati-hati tatkala menjalankan ibadah mahdzah, dan begitu pula sebaliknya. Tatkala memberikan sumbangan untuk pembangunan jembatan, irigasi, kegiatan kepemudaan, dan sejenisnya akan kurang hati-hati dibanding misalnya uang itu akan digunakan untuk membeli sajadah.

Mensikapi secara berbeda antara uang untuk membeli sajadah dan mukena di satu sisi dengan uang untuk membeli alat olah raga misalnya, menunjukkan bahwa di dalam alam kesadaran itu ada sesuatu yang dianggap berbeda, yaitu antara kegiatan itu sebagai ibadah dan bukan ibadah. Kegiatan yang secara langsung bermakna ibadah atau ibadah mahdzah, maka harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, yakni harus bersih atau tidak boleh bercampur dengan sesuatu yang haram, dan bahkan sekedar subhad sekalipun.

Sementara itu, kegiatan yang dianggap tidak ada kaitannya dengan ritual, maka sementara orang merasa lebih leluasa dalam arti tanpa terlalu memperhatikan kehalalannya. Cara berpikir sekuler seperti itu, tampak sederhana, tetapi sebenarya berdampak jauh dan luas dalam kaitannya membangun kehidupan yang lebih sempurna.

Padahal di dalam Islam, kehidupan itu harus dilihat secara utuh, padu, dan komprehensif. Seseorang tidak saja bisa masuk neraka, hanya karena shalatnya tidak sempurna, melainkan juga oleh karena tidak memperhatikan anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Orang yang sehari-hari shalat dengan khusu', berpuasa, dan bahkan juga pernah haji, tetapi selalu membuat orang lain sedih, perpecahan di antara sesama, saling menghujat, dan seterusnya, maka yang bersangkutan tidak ada jaminan akan mendapatkan kebahagiaan hingga di akherat kelak.

Islam melihat manusia secara utuh, baik terkait dengan ilmunya, kualitas pribadinya, sikapnya terhadap orang lain, kegiatan ritualnya dan kualitas amalnya. Semua akan dilihat secara detail, sebagaimana hal itu dinyatakan di dalam al Qur'an, bahwa kegiatan sekecil apapun akan diberi balasan. Di dalam al Qur'an tidak disebut-sebutkan bahwa kegiatan yang akan ditimbang hanyalah yang terkait dengan kegiatan ritual, sementara itu jenis kegiatan lainnya akan diabaikan.

Sementara ini, kaum muslimin dalam menjalankan kegiatan ritual dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian. Misalnya, untuk menentukan awal Ramadhan , sebagian mereka menempuh cara hisab sedang lainnya dengan ru'yah. Umpama hasilnya terjadi perbedaan, maka apapun resikonya, mereka akan memutuskan secara berbeda. Kehati-hatian itu ditempuh oleh karena menyangkut ritual yang dianggap harus dilakukan secara cermat dan hati-hati. Lain halnya dengan kegiatan di luar itu, misalnya terlibat mengutus anggaran pemerintah, maka tidak akan semenjelimet itu.

Oleh karena itu, umpama saja, umat Islam dalam mensikapi semua kegiatan menganggap sebagai ibadah, dan oleh karena itu harus dilakukan dengan cara hati-hati dan terbaik, maka kualitas umat Islam akan menjadi unggul dengan sendirinya. Antara menjalankan shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, berzakat, dan haji, sama kehati-hatiannya dengan tatkala mengurus pemerintahan, politik, hukum, pendidikan, keuangan, dan lain-lain. Tetapi oleh karena membeda-bedakan di antara kedua itu, maka umat Islam kadang tampak mendua, atau tampak kurang konsisten.

Mendasarkan pada pandangan yang tidak memisahkan antara urusan ritual dan urusan kehidupan pada umumnya, atau disebut tidak bersifat secularistik itu, maka umat Islam akan melihat dunianya secara utuh. Mereka merasa harus menjalankan shalat sebaik-baiknya dan juga tidak akan berani melakukan korupsi, menggunakan sesuatu yang bukan haknya, dan lain-lain. Sikap seperti itu seharusnya dibangun oleh karena, Islam sebagai agama yang dicintainya mengajarkan bahwa apapun harus dimaknai sebagai ibadah. Apa saja harus dikerjakan secara shaleh dan ikhsan, atau dikerjakan secara benar dan jika ada pilihan maka mengambil yang terbaik. Wallahu a'lam.

.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up