Sebenarnya saya tidak begitu mengerti tentang dunia pewayangan. Pada waktu masih usia anak-anak, bertempat tinggal di pedesaan, sebenarnya saya sering ikut nonton pertunjukan wayang kulit atau juga wayang orang. Akan tetapi tidak terlalu bisa memahami para tokoh yang dimainkan, kecuali beberapa saja.
Di antara beberapa tokoh wayang yang agak saya kenal adalah Begawan Abiyoso dan juga Pendito Durno. Saya tidak terlalu mengerti, mengapa kedua tokoh dimaksud lebih saya perhatikan. Oleh karena itu, ketika ada edaran dari kementerian agama, agar di kantor-kantor pemerintah dibubuhkan simbol-simbol kearifan lokal, maka saya memilih tokoh wayang kulit bernama Begawan Abiyoso dan bukan Pandito Durno.
Sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti kisah secara lengkap kedua tokoh dimaksud. Akan tetapi di antara keduanya ada perilaku yang menurut saya sangat kontradiktif atau bertolak belakang. Semula Begawan Abiyoso adalah seorang yang berperan ikut mengurus kerajaan, atau dalam bahasa sekarang adalah birokrat, atau dekat dengan kekuasaan. Sementara itu, Pendito Durno adalah seorang resi, cendekiawan atau ilmuwan.
Namun ketika menginjak usia lanjut, keduanya mengalami perubahan peran yang sangat kontradiktif. Abiyoso meninggalkan posnya semula, atau berubah menjadi seorang begawan, resi, atau cendekiawan. Sementara itu, Pandito Durno juga berubah, dan aneh, perubahannya bersifat kontradiktif pula, Durno yang semula sebagai seorang resi berubah menjadi pribadi yang dekat dengan kekuasaan.
Atas perubahan orientasi dan perilakunya itu, maka akhirnya Begawan Abiyoso dikenal sebagai seorang cendekiawan atau ilmuwan yang selalu dinilai arif dan bijak. Sebaliknya, Pandito Durno dengan perubahannya menjadi akrab dengan persoalan kekuasaan dan politik. Perannya sebagai seorang ilmuwan dan cendekiawan, Begawan Abiyoso dikenal selalu bersikap obyektif, rasional, dan terbuka untuk mendapatkan kebenaran. Sebaliknya adalah Pandito Durno, sebagai seorang yang dekat dengan kekuasaan, apa saja dilakukan untuk memperoleh kemenangan dan atau mempertahankan kekuasaan.
Berada pada posisinya seperti dijelaskan itu, maka Pandito Durno tidak segan bersikap subyektif, irrasional, dan bahkan dalam meraih tujuan politik yang diinginkan, ia berani mengambil langkah-langkah yang tidak semestinya dilakukan. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, jika terdapat perseteruan, konflik, atau permusuhan antar orang atau antar kelompok, dan sejenisnya, maka muncul dugaan ada orang dibalik peristiwa itu yang diberi sebutan Pandito Durno.
Sebagai seorang ilmuwan dan apalagi bergelar Doktor atau berpendidikan S3, seharusnya segera memilih jalan hidup yang menjadikan ilmunya semakin berkembang, yang dalam dunia pewayangan digambarkan sebagai Begawan Abiyoso, dan bukan sebaliknya, ialah Pandito Durno. Dalam tulisan yang lalu, saya menyebutkan bahwa seseorang yang telah lulus S3 atau bergelar Doktor, seharusnya menjaga dirinya agar berhasil menunaikan amanah yang dibebankan kepadanya, sehingga harus menyandang sifat obyeltif, rasional, dan terbuka. Bukan hustru sebaliknya, yaitu berorganisasi atau berkelompok untuk meraih kuasa atau kemenangan belaka.
Umpama saja mereka harus berkelompok atau berorganisasi,



